Vakansi Satu Hari

Dua puluh satu Juni dua ribu tiga belas alias tiga hari yang lalu, saya mencuri waktu untuk melepas penat akibat kerjaan yang menumpuk dan pikiran yang mumet. Sempat ingin menangis di pagi harinya entah mengapa, saya akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan singkat yang berisi ajakan ke nomor Dini, sahabat plus rekan kerja saya saat ini.
Kami sudah sepakat. Jam 12 siang, kami akan bertemu di KFC Sanur, untuk memarkir motor, dan selanjutnya berjalan ke halte bus trans sarbagita di dekat Pantai Matahari Terbit.
Bermodal uang yang tidak banyak alias pas-pasan, saya dan Dini tetap keukeuh untuk refreshing hari itu. Kami akan pergi ke mal bali galeria. Dan walaupun cuma pergi ke mal yang tampaknya sudah sangat biasa di mata anak muda–dan pasti saja ada yang bilang saya gadis kampung yang tampak baru pernah menemukan apa yang mereka namakan mal sehingga saya harus menulis di blog yang langsung tersambung ke akun twitter pribadi saya, tapi ada sepenggal cerita yang masih bisa sinaps otak saya tangkap dan salurkan lewat kata-kata. Here it is.
SPBU Renon
Sebagai anak seorang pegawai negeri sipil, tampaknya saya sudah membiasakan diri untuk mengisi bensin di SPBU dengan menggunakan kupon bensin. Jadi, dengan kupon bensin yang jika diuangkan akan menimbulkan uang sejumlah sembilan puluh ribu rupiah tersebut, saya membeli bensin sebanyak sepuluh ribu rupiah untuk memenuhi tangki bensin skuter matik saya. Tapi petugas SPBU yang melayani saya sedikit menyebalkan. Beginilah kira-kira isi percakapan saya dan petugas bensin tersebut:
Saya : Pak, mau tukar kuponnya jadi uang.
Petugas : *ngeliatin*
Saya : Iya, pak. Tukar jadi uang.
Petugas : *semakin melotot*
Saya : Saya beli kok bensinnya nanti, pak. *udah mulai kesal*
Petugas : *menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan dan dua lembar uang dua puluh ribuan* Bayar, gek. Bayar.
Saya : *gondok* Iya, pak. Saya pasti bayar, kok.
Dan saya pun keluar dari SPBU di daerah Niti Mandala Renon tersebut dengan sangat gondok segondok-gondoknya. Delapan puluh ribu rupiah hasil penukaran kupon bensin pertamax pun sudah di tangan. Mari melanjutkan perjalanan.
KFC Sanur
Memutar jalan kembali, saya melanjutkan perjalanan ke KFC Sanur, tempat di mana saya dan Dini berjanji untuk bertemu. Masih diiringi alunan lagu-lagu di playlist yang saya namai Soulvibe dari ponsel di kantong kanan jaket hijau saya, saya menerobos Jalan Hang Tuah, berharap Dini tak kesal karena saya datang terlambat. Benar saja. Saat saya tiba di depan pintu restoran makanan cepat saji itu, saya melihat sosok pinguin betina berjaket biru–ya! Itu Dini!–tengah menyendok sundae di dekat jendela. Menghampiri mejanya dan berbincang sejenak, kami pun beranjak dari tempat itu.
Halte bus trans sarbagita Matahari Terbit
Mencari libur satu hari yang anti-mainstream, saya mengusulkan untuk memanfaatkan transportasi umum yang masih belum terlalu dimanfaatkan–padahal cukup nyaman–yakni bus trans sarbagita. FYI, sarbagita adalah bus trans yang memiliki kepanjangan Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan. Kami mendadak menjadi pedestrian ketika harus berjalan dari KFC Sanur, menuju halte Matahari Terbit. Panas, asap kendaraan yang menyesakkan, kendaraan yang berlalu lalang hingga kami terpaksa menanti terlalu lama untuk menyebrang, adalah hambatan kami menuju halte yang letaknya di seberang jalan. Kami pun akhirnya sampai di halte yang hanya menempuh perjalanan 5 menit saja. Di sana kami tidak kebagian tempat duduk. Sehingga dengan sangat terpaksa, kami harus merelakan tubuh kami untuk sementara dipanggang di bagian halte yang tidak beratap. Itu dia, bus dengam trayek Batubulan – Nusa Dua yang kami cari sudah tiba!
Bus trayek Batubulan – Nusa Dua 10
Suhu yang ekstrim cukup membuat kami–saya, khususnya–terlihat katrok karena menghirup udara dari AC bus dalam-dalam. Rasanya terakhir kali saya naik bus ini adalah setahun yang lalu bersama sahabat-sahabat saya di SMP. Membayar tiket seharga dua ribu lima ratus rupiah, kami melanjutkan perbincangan absurd kami di dalam bus itu. Sempat tergoda untuk bergabung dengan sekumpulan remaja labil dengan rambut terurai khas anak racing yang berpose khas anak racing juga, yang nampaknya sengaja membawa kamera DSLRnya untuk berfoto di dalam bus trans sarbagita dan tertawa dengan volume yang lebih dari sekedar keras serta berbicara tentunya dengan bahasa bali yang kasar yang sungguh, tidak enak didengar oleh kuping saya–oke, apa masih kurang panjang deskripsinya?–saya pun menahan diri. Sepertinya momen naik bus trans ini sangat perlu diabadikan sama seperti ketika harus bertandang ke White House ya menurut mereka. Akhirnya, kami pun turun di halte depan mal bali galeria. Panas sekali, sungguh.
Disc Tarra
Kalap. Itulah hal pertama yang secara tak sadar saya lakukan di tempat penjualan CD dan DVD original ini. Selalu begitu. Hasrat untuk memiliki CD baru selalu ada ketika memasuki disc tarra. Tidak menemui album Gravitasi milik Soulvibe, dan tidak pula mendapati album Vakansi milik White Shoes & The Couples Company, saya pasrah. Lalu saya punya tiga alternatif pilihan album yang akan saya kantongi. Pertama, album Payung Teduh. Dua, Say Hi to HiVi! milik HiVi!. Dan yang terakhir, album incaran saya juga, Love Life Wisdom milik trio LLW. Bingung. Selalu seperti ini. Di antara pilihan kedua dan ketiga, saya bingung. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk menukarkan enam puluh lima ribu rupiah milik saya dengan sekeping CD milik Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, dan Sandy Winarta atau LLW. Album ini rilis dua tahun lalu dan saya berminat untuk memilikinya dari setahun yang lalu. IMG_20130621_160411[1]

Dan akhirnya, dua hari yang lalu, album ini resmi saya miliki.

Gramedia
Remaja culun seperti saya dan Dini lebih memilih Gramedia dibanding bioskop 21 ketika ke mal besar seperti ini. Di toko buku ini saya membaca lumayan banyak jenis buku. Dan Dini pun mendapati dirinya dengan kantong plastik berisi buku tentang ilmu kebumian dan notebook baru.
Hypermart
Di sini saya dan Dini hanya membeli satu gelas teh poci original dan segelas lagi dengan tambahan capucinno, sebungkus qtela balado 185 gram, dan lays rasa pizza. Maklum, kami sedang berhemat. Jadi kami tidak akan sudi untuk mampir ke mm juice atau sour sally untuk melepas rupiah kembali. Kami pun menghabiskan waktu dan makanan kami di terrace sambil bercerita lumayan banyak. Di situlah tercetus pikiran untuk lari ke pantai, sepulang dari mal. Jam setengah 5 sore, kami pun beranjak menuju halte.
Halte bus trans sarbagita Simpang Dewa Ruci
Salah besar ketika kami menunggu di halte yang sama dengan halte tempat kami diturunkan tadi. Akibatnya, kami harus menyebrang di jalanan besar penuh kendaraan yang berkecepatan tinggi, untuk mencari halte lain yang benar. Belum lagi kendaraan yang baru keluar dari terowongan. Simpang Dewa Ruci memang tak pernah sepi. Akhirnya saya pun duduk lagi di halte, dan di luar dugaan, ternyata bus yang kami tunggu tak membutuhkan waktu lama untuk datang.
Bus trayek Batubulan – Nusa Dua 04
Tidak mendapatkan tempat duduk, kami terpaksa berdiri. Sudah terbiasa dengan goncangan truk saat mendaki membuat kami santai saja dan tetap melanjutkan rumpi di dalam bus ini. Kami pun akhirnya turun di halte Matahari Terbit dan mengambil motor kami di KFC Sanur untuk selanjutnya menuju pantai.
Pantai Sindhu

IMG_20130621_181707[1]

Pantai Sindhu sore hari

Dini sepertinya tengah mabuk ketika teman sekelasnya mengajak dirinya ke pantai. Ia lupa jalan menuju pantai yang ia referensikan pada saya. Mana ada pantai yang sepi saat liburan semester seperti ini? Mengiyakan ajakan Dini, saya pun akhirnya menjejakkan kaki di pasir Pantai Sindhu dengan kostum yang salah. Kemeja, jeans, dan sepatu. Oh, tidak ada yang lebih bodoh lagi saat ke pantai dibanding saya. Saya juga melihat seseorang yang saya kenal tengah bermain pasir bersama kekasihnya di pantai ini. Sungguh saya dan Dini menahan tawa kami untuk tidak keluar. Romantis sekali dua orang ini–tidak perlu sebut nama, mendadak horor jadinya. Di pantai kami berteriak dan tetap bercerita. Membuang penat dan pahit masa lalu. Biarkan semuanya dihanyutkan ombak, dihisap pasir pantai. Saya hanya berusaha lepas. Lepas dari semuanya.

Pulang dengan celana jeans basah yang dilipat paksa hingga lutut, kaki yang penuh pasir, kerongkongan yang seret karena tidak ada cairan mengalir–kecuali air liur saya–setelah menandaskan sisa keripik qtela di tepi pantai, tak apa. Yang penting saya telah berhasil mencuri waktu untuk vakansi satu hari. Yah, walaupun bukan benar-benar liburan. Thank God, I love You!
Dan Dini, terima kasih banyak. Saya sudah kehabisan kata untuk anda.
Sampai jumpa di vakansi berikutnya!

I popped.

Hiatus

image

“Ranu Kumbolo, a beautiful lake at Semeru Mount, East Java,”

So sorry for putting this blog in hiatus. I have so many things to do. But no worry, I will update this blog as soon as possible. Because I do miss the sensation of writing on this blog.

I popped.

Introduction

Hi!
Well, this is my very first post on this blog. And now… I have no idea.
Well, um…
Okay, it might be good if you know who’s on the back of this blog you are reading–even About page can explain a little.

Rani, you can stick it in your mind as my name. I am 15. As you can read on About, I am still in the tenth grade; first grade of high school. I go to SMA N 3 Denpasar every Monday til Saturday as a student. I’m on the first year, so, I’ve got to learn many things there, and I promise you a post about my school in the next occasion. I live in Denpasar, the capital city of Bali Island. Have you ever heard this name before? Yes, the Island of God, the Island of Thousand Temples, the real paradise, might be one of many beautiful islands of my country, Indonesia.

I really love jazz music. I love to listen to it, I love to sing it, and sometimes try to do some scats. I can’t live without music. I spend my days with them. On the other hand, I am also a freak of stand-up comedy. I also read books, watch action movies, and go daydreaming.

“Writing, my life.” the last sentence of my bio, it is. I’ve been doing this since I was 8. What did I write on that age? From the simplest writing. I wrote poems and short-stories. I got myself grew older, and I tried to make something more complex. I have written two mini-novels til this moment. But I only kept them as my own writing. I don’t know if I might send one of them–or all–to the publisher later. Let the time guides me. This blog is one of my steppingstones of doing my hobby. It is also a steppingstone to introspect my writings. How peoples appreciate these all, either say “Cool!” or close the tab that contains the address of this blog. I will try my best to show the world that I can do this. I am sure that I can survive.

Well, you can find more about me on the next writings. You can also like or dislike them. It is your own right. Thanks for reading this as the-short-Introduction of my blog.
I will pop like the bubbles. I will.