Hitunglah

Hal apa yang kamu syukuri hari ini?

Aku mulai dariku, ya.

Aku bangun dalam keadaan baik, kemarin baru saja merayakan otonan setelah sekian lama tidak merasakannya di rumah Denpasar bersama Mama. Kemarin aku gajian, jadi hari ini aku tahu rekeningku sudah kembali terisi uang yang kudapatkan dari kerja kerasku sebulan ke belakang.

Aku mandi dengan sabun zwitsal madu. Menyiapkan bekal hasil masakan mama: nasi, tumis kangkung, tempe manis, dan telur dadar. Berangkat ke gedung di daerah Lumintang karena bekerja di ruang co-working space-nya, aku enggak perlu menempuh perjalanan yang sejauh biasanya. Oh ya, aku lewat SD dan TK-ku juga.

Pekerjaan hari ini lancar jaya dan penuh tawa, walaupun internet agak lelet. Mendengar cerita rekan-rekan kerja ketika makan siang ditambah minum es teh (ini merk lho, ya) yang dibawa sembunyi-sembunyi ke ruangan. Ke ACE Hardware sepulang kerja, malah ketemu mug yang selama ini kucari tapi enggak disangka justru ada di sana. Berkeliling di sana sampai bahu pegal dan berkhayal jadi kaya untuk membeli semuanya, hahaha. Lantas bertemu kawan SMA ketika mengantri di ATM, senang mengetahui dia baik-baik saja.

Mandi dan keramas, lalu makan malam sama Mama sambil bercerita. Mulai menegaskan pemisahan sampah di rumah karena selama ini kurang disiplin. Menceramahi adik karena dia nakal sekali. Iseng menyalakan walkman-ku yang terakhir kali kupakai ketika SD. Walkman yang kuminta dari kakak sepupuku karena aku ingin mendengar kaset Spirit milik J-Rocks di perjalanan wisata ke Bedugul bersama teman-teman seangkatan.

Saling bersapa dengan sahabat karib di grup WhatsApp. Tertawa karena sahabat sepenanggungan sejak kemarin sore jadi rajin tertawa. Berbalas pesan pribadi dengan mbakku yang sama-sama kehilangan, saling menguatkan. Berseru karena ternyata walkman-ku masih berfungsi.

07 Des karya Sheila on 7, rilis tahun 2002. Album yang bisa kuibaratkan sebagai sesosok laki-laki yang selalu ingin dituruti. Album yang entah kenapa tetap kugandrungi dengan cukup dan sederhana; kesukaanku dari semua rilisan SO7. Album yang membawaku membenci si karakter utama, sebab ia begitu banyak mau tanpa banyak berusaha!

Akhir side A, “Mari Bercinta”. Lagu favoritku dari SO7. Katanya, “Terlalu banyak cinta kan binasa…

Akhir side B, “Waktu yang Tepat untuk Berpisah”. Lagu yang selalu membuatku termenung padahal dulu cuma sok ngerti. “Ku akan mengerti cinta dengan semua yang terjadi. Pastikan saja mimpimu tetap berarti…

Belajarlah bersyukur, Ran. Sebab hidup sebenarnya cuma begitu-begitu saja. Sama seperti 07 Des yang berakhir, hari ini pun begitu, juga hidupmu nanti. Tinggal bagaimana kamu mencoba untuk tidak “terlalu”, dan belajar untuk mengerti.

What a crazy world we live in. Count your blessings (and things that drive you mad) while you can.

.

.

Denpasar, 30 Juni 2021

Turun Mesin

Di tengah gontok-gontokan perkara hati, pekerjaan yang melelahkan, pohon mengkudu yang roboh, hentakan Beyond Coma and Despair, kebanggaan terhadap konsistensi kawan sejawat, keinginan akan nasi jinggo wisata, melintas jalan tol untuk pertama kalinya dengan kartu tol baru, dan segala rumit yang berkecamuk di kepala;

Hari ini begitu tidak terduga, tapi aku belajar banyak. Mungkin kita memang butuh spontanitas dan berpikir sederhana dalam melayani hidup yang suka jahil. Sebab justru itu yang kerap kali mampu menyelamatkan kita.

“Yang penting niat baik, pasti dimudahkan,” ujar kalian padaku. Terima kasih, ya. Malam ini, utamanya, begitu ajaib.

Benoa, 2020.
Menuju bengkel ke arah Sesetan, 2020.

.

.

.

Capek tapi senang, Denpasar, 9 Desember 2020

Akhirnya, Donat Vanessa

“Kejar enggak, nih?”

“Aku udah ngelewatin bubur ketan hitam tadi, aku enggak mau ngelewatin ini lagi.”

Aku dan Pandu telah lama berwacana mencari donat coklat Vanessa langsung ke pabriknya, saking putus asanya kami untuk dapat menikmatinya lagi. Sebab donat itu tidak pernah kami temukan dimanapun semenjak pak penjual roti keliling tidak lagi nampak di seputaran perumahan kami. Dan kami akhirnya berhasil mendapatkannya secara kebetulan sore ini, di perjalanan pulang. Tentunya setelah pengejaran si penjual roti melalui jalanan sempit yang berliku, ramai, dan penuh polisi tidur. Sungguh (((sinematik))).

Keceriaan kami kemudian lesap begitu saja mendapati kabar bahwa bapak penjual roti yang sejak masa kanak kami berkeliling perumahan tiap sore, ternyata telah meninggal dunia. Dua tahun lalu. Entah apa sakitnya. Pergi begitu saja.

Aku teringat kata Mama, bapak penjual yang gondrong dan kribo itu, yang murah senyum dan ramah, yang hafal roti-roti yang disukai keluargaku, ternyata belum lagi berkeluarga.

Bagaimana rasanya mati dalam kesendirian? Aku tak bisa membayangkannya.

Sudah dua puluh tahun lebih pak penjual roti Vanessa berkeliling perumahan kami, mengenali para pelanggannya, memencet bel sepeda oranyenya yang berbunyi “tet teeeet”, tidak pernah menampakkan raut wajah lelah dan jutek. Dulu Rani kecil selalu berpikir, apakah tidak bosan berjualan roti terus menerus? Apa tidak capek?

Lambat laun, seiring bertambahnya usia, aku semakin paham bahwa tak semua orang memiliki pilihan yang sama dengan orang lain. Lebih-lebih lagi, banyak pula yang bahkan tak memiliki pilihan sama sekali. Mungkin, tidak ada pilihan selain menghabiskan sebagian besar waktu ketika hidup dengan berkeliling menjual roti, sampai urip tak lagi urup.

Maka jangan pernah sekalipun bertanya padaku mengapa aku begitu membenci ucapan “kalau tidak mau miskin, maka rajinlah bekerja”. Pak penjual roti tidak malas bekerja. Para buruh pabrik tidak malas bekerja. Para penyapu jalanan tidak malas bekerja. Lalu apa? Meh. Yang malas dan bangsat justrulah para oligark; yang menciptakan dan memupuk subur sistem yang memiskinkan ini.

Donat coklat ini merupakan favoritku dan Pandu, sejak aku TK dan dia masih SD. Ia masih menjadi favorit kami dan mungkin akan terus begitu. Sama seperti Si Bapak penjual roti yang selalu punya tempat khusus di hati kami, yang tak jarang terselip dalam obrolan-obrolan kami.

Kami berharap ia telah berbahagia dan memaknai sendiri kebahagiaan itu ketika hidup; laiknya Sisifus yang hidup dalam pengulangan terus menerus. Kami berharap ia juga berbahagia “di sana”. Sebab ia telah membawa kebahagiaan berupa roti-roti yang empuk dan lezat itu ke keluarga kami. Sebab ia membuat kami belajar banyak. Sebab ia pantas mendapatkannya.

Dan pelajaran lainnya lagi, Rani, di hari ini: jika senang jangan terlalu, jika sedih jangan terlalu.

Denpasar, 15 Oktober 2020

Dua Jam di Ancut Garden

Setelah separuh tahun diisi dengan berbagai ajakan dari Lena untuk kemari. Setelah berkenalan dengan Silvina di Alila Villas Uluwatu. Setelah tersadar bahwa tanggung jawabku di kantor semakin banyak dan berat. Akhirnya, hari ini aku mengunjungi Ancut Garden milik Yayasan Emas Hitam di Petulu, Ubud.

Datang terlambat karena jalanan yang ternyata cukup ramai. Berkenalan dengan Kadek dan semua orang, lalu menenangkan diri bersama di sebuah bale raksasa yang berangin. Berkeliling, bertukar informasi, membandingkan dengan kebun di kantor sendiri (lalu mengeluh soal gagal panen kami karena sapi dan monyet memanennya duluan, hahaha). Memanen kunyit, kelor, bayam, cabe, terong, dan kawan-kawannya. Makan pepaya hasil kebun yang manis sekali. Menyiangi rumput-rumput yang hidup bersama kunyit. Meletakkan mulsa di atas tanahnya. Membersihkan lumpur yang lengket dan lama-lama mengeras di alas sandal. Dua jam di Ancut Garden menambah suplemen di otakku terkait relasi manusia dalam ekosistem.

Permakultur mungkin suatu hal yang sudah dilakukan oleh banyak petani di desa-desa di Bali, ketika bahkan mereka tak tahu dengan istilah itu. Namun, adanya permakultur sebagai payung pengetahuan dan teknik agrikultur/kultur dapat membantu kita memahami posisi manusia dalam alam semesta. Bahwa di atas bumi ini, manusia hanyalah suatu organisme; tiada lain dengan belalang dan terong. Yang membedakan tiap-tiap kita cuma perkara tingkat kompleksitas biologis saja–tolong koreksi jika aku salah ya. Ada banyak hal yang memudahkan kehidupan kita jika kita mampu bekerjasama dengan berbagai komponen ekosistem, biotik dan abiotik. Hal itu harus dimulai dari pengakuan dan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari alam.

Sebenarnya ada banyak sekali yang mau kubicarakan soal permakultur. Aku memang tidak pernah (atau belum?) terlibat dalam Permaculture Design Course, tetapi aku merasa mengalami beberapa pergeseran pandangan soal hidup oleh karenanya (halah lebay deh, tapi beneran). Berkenalan lalu belajar melalui ragam praktik permakultur di kantor membuatku merasa semakin kecil dan alam begitu raya. Dan begitu serakahnya manusia hingga ia berpikir bahwa ialah penguasa alam; bahwa ia merupakan entitas yang terpisah dengan alam.

Namun, bukankah kita kerap merasa begitu? Terutama kaum urban, bukankah kita menganggap diri “kembali ke alam” ketika melihat hamparan sawah atau bukit dan hutan? Bukankah paradigma kita atas koneksi manusia dengan alam, membuat kita harus mencari “alam” ke tempat lain? Bukankah kita bagian alam? Apakah itu alam?

Duh aku ngantuk sekali. Capek. Cerita soal ini kapan-kapan aja, ya. Janji deh.

Denpasar, 20 Juni 2020

Pelan-pelan

Pagi ini aku terbangun dengan lega sebab sakit kepala dan mual yang melandaku beberapa saat sebelum pulang kerja kemarin akhirnya reda. Mandi pagi ini terasa menyegarkan sekali, airnya cukup dingin karena subuh tadi hujan begitu deras. Tabir suryaku habis, kuketuk pintu kamar Mbaina, kuminta miliknya. Lalu ia menanti ojeknya datang, memanggil Kubi yang terperangkap di dalam kamar sambil menyembulkan kepalanya dari balik jendela. Kami akhirnya berangkat di waktu yang bersamaan, tapi aku berkendara dengan motorku sendiri.

Aku mampir ke Pasar Pohgading karena aku harus membeli setengah kilogram kunyit untuk jamu. Aku akan bikin sedikit jamu bersama Bu Jero, Jumat besok. Oh ya, sudah lama sekali rasanya tidak pergi ke pasar, dua bulan sudah berlalu. Namun, pasar tidak terlihat bedanya. Pasar ini tetap ramai, ibu-ibu tetap sibuk dengan belanjaannya, anak-anak tetap merengek dibelikan mainan plastik murah. Sementara kran air dan sabun cuci tangan yang berdiri di dekat pintu masuk tidak selaku daging ayam yang dipotong-potong di bagian pangkal paha.

Daftar putar laguku di Spotify memutar “Night Fever” milik Bee Gees, diikuti “In My Life” dari The Beatles. Salah satu daftar putar harian kesukaanku karena berisi lagu-lagu lawas. Hari ini mendung. Aku putuskan untuk melewati rute Sesetan-Tol Bali Mandara karena sudah lama aku tidak melewatinya ke kantor. Sebelum itu, aku mampiri penjual nasi bungkus dan kue-kue tradisional di tepi jalan, tempat aku membeli nasi ketika bersama Mama menunggui Mbaina menjalani operasi pengangkatan kistanya bulan Desember lalu. Dua bungkus nasi jinggo dan dua bungkus krupuk kentang pedas manis kukantongi. Aku baru sadar seharian kemarin cuma makan satu kali.

Gerombolan pesepeda berhenti di tepi jalan menuju Pelabuhan Benoa, mereka berfoto bersama. Senang mengingat bahwa semenjak bulan ini, aku bersepeda sore sebagai bagian dari rutinitasku. Sepeda kuning yang harganya murah jika dibandingkan sepeda lain, tetapi butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Kunamai ia Pingai, nama yang kudapat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sepeda yang kuat karena telah bersama-sama denganku menghadapi bapak-bapak mesum dengan maskulinitas super rapuh di Jalan Kenyeri. Mungkin kapan-kapan aku akan coba bersepeda ke sini, seperti yang kulihat di Instastory Henok bersama kawan-kawannya di Bhineka Muda. Gila juga sih kalau dipikir-pikir, mengingat jarak rumahku ke Pelabuhan Benoa adalah 17 kilometer.

Jalan tol sepi sekali. Rasanya cuma motorku saja yang melaju di ruas kiri. Langit mendung. Aku melihat beberapa sampan mengapung dengan 2-3 orang di atasnya, ngobrol sambil memegang pancing. Terpikir bagaimana manusia-manusia ini harus menghadapi raksasa-raksasa manusia lainnya yang memperebutkan Teluk Benoa, tentu dengan kepentingan yang berbeda. Sementara pembangunan terus berlangsung, mereka tetap mengapung di atas lautan, di bawah beton-beton jalan tol.

Aku tiba di kantor sekitar dua puluh menit kemudian. Bulir rintik hujan mengenai kacamataku. Sepi, aku datang paling awal pagi ini. Duduklah aku, membalas beberapa pesan yang tak kubalas karena semalam aku hanya tergolek lemas di kasur tanpa membuka banyak aplikasi di ponsel. Laptop kunyalakan. Pak Miting lalu datang memberiku daftar harga material yang digunakan untuk membangun atap area manajemen sampah di bagian bawah kantorku. Aku ngobrol sebentar dengannya, terutama rencananya untuk ikut memborong proyek ini bersama Pekak di akhir pekan. Aku mengangguk, aku paham bahwa kita semua butuh uang tambahan di masa-masa sulit seperti ini.

Kuisi daftar target pekerjaanku hari ini di Google Sheet. Setelah ini aku akan mengecek kebun yang sedang kami garap bersama. Kukontak seseorang yang biasa mengirimkan kotoran kuda untuk kompos ke kantorku, katanya akan dikirimkan dua minggu lagi. Kemudian teringat bahwa semalam, di tengah rasa mual perutku dan perihnya mataku, aku membuka sebuah blog pasangan suami istri muda Jakarta yang begitu hangat dan sederhana. Membuka sebuah toko buku, bisnis yang menyenangkan dan sesuai dengan apa yang mereka senangi. Menghabiskan hari-hari yang malas dan padat bersama-sama. Aku malah membaca ulang blog itu lagi, lalu rasanya hangat sekali.

Akhir-akhir ini hidup terasa cukup berat. Beban pekerjaan membuat pening. Waktu-waktu luang sering terbuang hanya untuk membalas dendam untuk tidur. Kepala penuh dengan pikiran-pikiran untuk melakukan hal-hal besar. Harapan untuk melanjutkan sekolah terasa semakin jauh, padahal itu tujan utamaku selepas lulus kuliah. Aku sedikit iri dengan teman-temanku yang bekerja untuk membaca atau mereka yang masih berstatus sebagai mahasiswa sehingga bisa membaca artikel-artikel jurnal setiap harinya. Berdebat akan hal-hal terkini di media sosial. Adu argumen dengan kawan lainnya. Mengutarakan pendapat ke tengah khalayak. Sementara aku sudah kehabisan daya untuk melakukannya. Sementara aku tak boleh hanya memikirkan “tabungan” untuk diri sendiri.

Langit masih mendung. Album Dream, Hope & Faith milik Monita masih mengalun terus menerus. Aku menengok dari balik jendela ruanganku yang cuma diisi aku sendiri hari ini. Tenang. Dedaunan bergerak pelan tertiup angin.

Mungkin ada hal-hal yang tak bisa dan tak perlu dipaksakan, Ran. Mungkin beberapa rencana besarmu harus digubah menyesuaikan keadaan. Bagaimana kalau mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi setiap harinya? Bagaimana kalau fokus terhadap hal-hal yang bisa dijangkau dan mengusahakannya dengan sebaik mungkin? Bagaimana kalau memperhatikan ke sekeliling dengan lebih seksama, lihat apa yang bisa dilakukan dari sana? Bagaimana kalau jangan begitu keras dengan dirimu sendiri? Mengapa harus merasa bersalah karena menggunakan waktu untuk tidur dan beristirahat?

Mungkin, yang perlu dilakukan cuma mengerjakan hal-hal satu per satu. Kecil juga tak apa. Toh khawatir berlebih juga tidak sehat untuk jiwa raga.

Mimpi-mimpi dan harapannya harus tetap dirawat ya, Ran. Nanti kita akan ke sana di waktu yang paling tepat. Pelan-pelan.

 

 

Sawangan, 27 Mei 2020