Kau dan Dunia yang Kau Hidupi

Barangkali di lain waktu tak usahlah kau ajak aku ke sana. Hanya akan menyebarkan serat-serat rapuh pada diriku. Kata Ibu, merutuk itu tidak baik. Tapi aku selalu melakukannya saat aku keropos. Aku benci diriku yang tak pernah bisa paham dengan kau dan dunia yang kau hidupi.
Tapi kalau kau memintaku untuk menemanimu, baiklah, dengan sedikit rasa terpaksa akan kuladeni permintaanmu. Walaupun nanti di pertengahan pertemuan kita dengan kaummu, akan muncul jengkal demi hasta jarak di antara kita.
Aku tak mengerti apa yang kalian perdebatkan. Kulihat salah seorang dari kalian sampai menepuk kening berkali-kali. Dari mulutnya yang sesekali meniupkan asap tembakau kudengar pula pisuhan a la Jawa Timuran yang kental. Mungkin bukan pisuhan. Entahlah. Tapi bagiku dia sedang berkata kasar dengan penuh kebencian.
Raut wajah kalian, ah. Serius sekali. Satu dari kalian mengambil sebuah buku di rak coklat yang berjejer rapi di belakang kursi rotan itu. Kriat kriet, begitu bunyinya bila ada pergeseran pantat di atasnya. Aku tak melihat jelas buku apa yang diambil lelaki yang rambutnya acak-acakan itu. Kertasnya sudah menguning, bagian sampulnya menggurat-gurat keras dan beberapa ujungnya terkelupas. Pertanda si buku sudah sangat sering diperkosa oleh sang empunya dengan penuh nafsu. Setelah duduk, ia membuka-buka halamannya dengan tergesa, mencari apa yang ia cari. Sementara sisa kepala yang kalian miliki mendekati buku itu, mencoba menelisik. Si lelaki berambut panjang yang jarang menyisir rambutnya itu, sekarang menjelaskan dengan buku di tangannya. Aku melihat anggukan dari kalian. Ah, apakah itu? Sebuah persetujuan? Sebuah penyelesaian?
Kini terdengar gelak tawa. Kalian begitu menikmati percakapan ini. Gelas-gelas kopi hitam yang sedari tadi kalian tenggak perlahan kini hanya berisi ampas di dasar dan tepi-tepiannya. Salah seorang dari kalian, yang bertubuh agak gempal itu, masih mengais sisa-sisa cairan kafein dari gelas yang berlogo Pertamina desain lama. Mungkin sang penyedia gelas adalah pengepul gelas gratisan. Kulihat ada logo Anlene, Sirup ABC, dan 2Tang di permukaan gelas-gelas itu. Sisanya, tak jelas. Bisa jadi Rinso.
Kau terlihat berbahagia dengan kaummu. Sangkaku, kau akhirnya lega bisa menumpahkan isi pikiranmu yang luas pada mereka sebab kau selalu sulit melakukannya padaku. Sesekali kau melihat ke arahku yang duduk jauh di seberang meja. Dilihat dari gerak tangan kananmu, kau mencoba untuk mengundangku ke meja yang sesak akan obrolan itu. Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Aku di sini saja, tolakku. Aku tak mau berada di sana. Sebab aku tak bisa. Aku tak paham kau dan dunia yang kau hidupi.
Barangkali di lain waktu akan aku cari duniaku sendiri. Sebuah dunia yang bisa tahan dengan isi kepalaku yang tak seberapa. Tapi tak yakin aku bisa menemukannya.

“Selamat Tidur, Sayang,”

Lucu sekali rasanya berkata seperti itu dalam bentuk tulisan ketika kau sendiri tengah tertidur pulas di sebelahku. Kau mendengkur cukup keras, bahkan sempat batuk karena tersedak. Apa kau tahu itu? Sepertinya tidak karena nanti di pagi hari kau pastilah bertanya padaku, “Aku ngorok ya semalem?”, seperti pagi-pagi sebelumnya.

Kau lelah, aku tahu itu. Kau seringkali begadang. Banyak hal yang tengah dan akan kau kerjakan. Kau cukup sibuk akhir-akhir ini. Menulis untuk badan pers yang menaungimu, untuk media tempat kau magang, menulis untuk tugas kampus, menyiapkan keberangkatanmu untuk sebuah kompetisi, dan lain-lain. Seringkali kulihat lelah matamu yang tetap kau sembunyikan di balik halaman-halaman buku yang kau baca saban harinya.

Aku tahu kau sedang berhasrat untuk melakukan banyak hal. Sepertinya kau sedang ingin melakukan apapun. Apapun tawaran pekerjaan yang datang menghampirimu akan kau anggap sebagai suatu bentuk tanggung jawab yang harus kau kerjakan dengan sungguh-sungguh. Itu bagus, sayang. Selagi masih muda, kau memang harus banyak-banyak bernafsu untuk hal-hal baru. Namun, ada satu hal yang harus kau ingat: dirimu sendiri.

Jangan sampai kau melupakan hal-hal yang menyenangkan dirimu sendiri, sayang. Beristirahatlah sejenak. Bernafaslah dengan tenang dan pelan. Bacalah buku yang kau suka—untuk kepentinganmu sendiri, bukan untuk bahan resensi. Pergilah membeli sandang murah favoritmu. Makanlah yang banyak—kalau yang ini sepertinya tak perlu kuingatkan ya?—dan yang terpenting, tidurlah selagi ada waktu. Seperti yang kau lakukan saat ini.

Maka tidurlah, sayang. Lepaskan sejenak berat beban yang kau pikul di bahu-bahumu yang tegap itu. Jangan khawatir aku akan terusik oleh dengkurmu. Bagiku, ia adalah suatu pertanda bahwa kau masih ada di sampingku. Memberiku rasa aman dan lega bahwa kau tak pergi kemana-mana.

Kalau kau terjaga nanti dan kau mencariku, aku ada di sebelahmu, tertidur sepulas dirimu saat ini. Maaf kalau seandainya nanti aku memunggungimu. Aku tidak bisa merencanakan arah dan posisi tidurku. Namun, kalau seandainya badanku meringkuk ke arahmu, kau masih bebas untuk memandangi wajahku dalam-dalam, seperti yang biasa kau lakukan ketika aku terlelap. (Bagaimana aku tahu? Ya kau sudah berulang kali mengakuinya, ya kan?)

Oh ya, ajari aku membuat kopi bun-bun favoritmu itu. Aku ingin membuatkannya secangkir untukmu saat pagi. Kalau aku sudah pandai meraciknya, kau boleh memintaku membuatkanmu setiap pagi, atau kapanpun kau mau.

Selamat tidur, sayang.


N.B.: mbok ya matiin dulu tv-nya kalau mau tidur. Trus jangan ngambil jatah tempat tidurku. Sempit, tau!

Harapan Kecil

Kalau sudah tua nanti, aku masih ingin bersamamu. Membaca buku berdua, di sebuah kafe dengan lampu kuning temaram dan dinding kelabu. Seperti yang biasa kita lakukan di akhir pekan dulu. Kamu dengan buku Dawkins, dan aku dengan buku Murakami. Beda banget ya, hahaha. Tapi nggak apa, aku selalu suka membaca bersamamu.

Terdengar sayup-sayup lagu berbahasa Inggris dari pengeras suara di sudut ruangan. Tapi kita sudah memilih untuk mendengarkan lagu secara acak dari ponsel kita, melalui seutas kabel splitter yang sudah kita gunakan dari zaman kita kuliah. Awet juga ya, setelah dulu sempat aku rusakin padahal umurnya belum ada sebulan, akhirnya beli baru lagi bulan depannya. Kadang aku mengangguk-anggukkan kepalaku, entah itu karena buku yang kubaca, atau karena ketukan nada dari lagu yang sedang kita dengarkan. Dan tangan kananmu menggenggam tangan kiriku perlahan, dan nanti melepasnya dengan perlahan juga. “Biar bisa balikin halaman bukunya,” ucapmu.

Kopi pahitmu sudah dingin, begitupun thai tea ku. Tapi cinnamon roll kita masih tersisa setengah potong di atas piring. Apa nama kopimu itu? Pikirku yang pasti bukanlah americano, karena rasanya kecut, katamu. Setelah beberapa halaman buku, kamu melepas kacamatamu dan memijat pangkal hidungmu perlahan. Bingkai kacamatamu sudah berubah sejak setahun lalu, seperti milik Jean-Paul Sartre. Dulu kupikir kamu bakal terlihat aneh pakai bingkai jenis itu. Tapi syukurlah ternyata cocok di wajahmu.

“Ngantuk?” tanyaku padamu, sambil menyesap thai tea yang dingin. Lumayan, jawabmu. Gimana kalo kita jalan-jalan aja, lanjutmu. Wah boleh juga, kebiasaan ini nggak pernah bosen buat kulakuin bareng kamu dari dulu. Jalan-jalan keliling kota dengan motor tua kita, melihat langit dan orang-orang di jalan. Si Aneh, motormu yang dulu kamu pilih entah secara sadar atau tidak, sudah kamu jual beberapa waktu lalu. Sekarang nama motor kita siapa ya? Si Sepuh? Untungnya dia nggak sering rusak-rusakan ya. Jadinya masih bisa nganterin kita keliling-keliling nggak jelas kayak gini.

Jalan-jalan sore membuatku merasa senang. Karena di sore hari, aku bisa melihat wajah lelah orang-orang yang pulang dari kantor, dan juga wajah sumringah anak-anak muda yang akan pergi nongkrong bersama teman, atau pacaran. Tapi hari ini hari Sabtu, jadi jalanan mulai dipadati dengan pasangan-pasangan muda. Jadi berasa muda lagi ya? Jadi ingat dulu kita juga sering jalan-jalan di Sabtu malam. Eh nggak ding, kapanpun ada waktu luang kita bisa jalan-jalan. Tapi kembali lagi, itu buat nyari tempat untuk baca buku, atau beli makan murah di tepi jalan.

“Mau kemana kita?” tanyamu. Nggak tau, jawabku sambil mengeluarkan ‘ehe-ehe’ku. Lalu motor kita melaju ke arah Jalan Gejayan, Jakal yang semakin padat oleh tempat-tempat nongkrong, melewati kampus kita, dan melalui Hotel Tentrem di Jalan Sangaji. Sepanjang perjalanan aku akan memenuhi telingamu dengan cerita-ceritaku, tentang Popo, anjingku di Bali yang sudah digantikan oleh anjing lain sejak bertahun-tahun yang lalu, tentang lampu di ruang tamu rumah kita yang mesti diganti, tentang sayuran yang besok akan kumasakkan untukmu walaupun aku tahu kamu memang nggak suka sayur, dan hal-hal lainnya. Kamu pun akan menimpali dengan cukup antusias, bahkan dengan tawamu yang terdengar mengejek itu. Dan kamu juga membagikan ceritamu, tentang mahasiswamu yang cukup kritis tapi suka ngelawak kalau kalah berdebat sama kamu di kelas, tentang mapmu yang penuh dengan tugas mereka yang tertinggal di meja salah satu rekan kerjamu yang seharusnya kamu nilai segera, tentang buku-buku yang ingin kamu donasikan ke perpustakaan kampus, dan hal-hal lainnya. Aku pun akan menimpali dengan anggukan dan juga pertanyaan-pertanyaan yang membuatmu akan bicara lebih panjang lebar lagi setelahnya.

Lampu merah di Kotabaru. Langit sudah menggelap dengan siluet keunguan di Barat. Mau kemana kita? Gimana kalau kita beli dua porsi indomie goreng tanpa telur di Jalan Persatuan? Tempat pertama kali kita makan berdua dulu? Kelihatannya enak, dan kita juga belum sempat makan indomie berdua sepekan ini. Dan motor kita pun melaju ke arah sana, melewati perempatan Mirota Kampus yang sampai sekarang masih saja ramai. Rame mulu dari jaman kuliah, kapan bangkrutnya mereka ya, tanyaku padamu yang kamu balas dengan tawa.

IMG_9902

Selagi menunggu pesanan kita datang, aku membayangkan betapa banyak hari yang sudah kita lalui bersama, yang membawa kita sampai ke titik saat ini, titik dimana kita telah, sedang, dan akan menjalani mimpi-mimpi kita bersama. Tapi kata Jiddu Krishnamurti, untuk hidup secara mendalam dan intens, kita harus membunuh semua yang sudah lalu, semua kenikmatan, opini, penghargaan yang telah dicapai. Namun bagiku, semua yang sudah lalu adalah bahan-bahan yang digunakan untuk membuat hari ini matang dengan baik. Hidup memang untuk dijalani hari ini, tapi tanpa adanya hari-hari kemarin, hari ini nggak bakal ada, bukan?

Dan ya, hiduplah untuk hari ini, kata kutipan-kutipan Buddhis yang kubaca. Karena hidup cuma sekali dan tidak ada yang tahu kapan akhirnya. Karena cuma kitalah yang dapat memberikan hidup kita ini bermakna, bukan apa, bukan siapa. Tapi sedikit membayangkan dan mengharapkan sesuatu di masa depan tidak ada salahnya, kan? Karena bagiku, ketika aku mengharapkan sesuatu di masa depan, aku akan termotivasi dan berusaha untuk menjadikannya nyata. Bukan hanya sekedar ngarep-ngarep tapi nggak ngelakuin apa-apa. Kalau itu mah, jadinya sama aja.

Indomie kita sudah datang. Dan kamu meng-hey-hey-kan aku untuk memastikan aku sadar atau nggak. Ya sadar lah, wangi indomie segininya di depan mata masa nggak bikin aku sadar.


Haha apaan sih ngomongnya. Nggak jelas banget. Efek duduk sendirian di kafe sambil dengerin rinai hujan di luar dan juga lagu-lagunya Float nih.

Semoga kalau sudah tua nanti, aku akan selalu bisa bersamamu ya.

Dini Hari

Akhir-akhir ini, aku sering berjalan-jalan di dini hari yang dingin. Pada waktu-waktu sebelum fajar menyingsing, dimana embun tengah asyik mencumbu daun-daun yang tumbuh di ranting pohon kerdil di halaman rumah. Dengan begitu aku bisa menghirup udara yang segar. Jujur saja, aku lelah mencium aroma tubuhmu yang seolah masih tertinggal di atmosfer kamarku. Aku ingin melupakannya.
Dulu, sebelum kau memilih untuk beranjak pergi dari kehidupanku yang membosankan, kita seringkali berbagi keresahan dari jarum pendek di jam dinding menunjuk angka sembilan bergerak pelan-pelan menuju angka enam. Kau akan membuatkanku segelas susu full cream hangat, dan kita berbincang sampai entah. Selama aku membagi semua hal-hal tak penting yang suka menjalari otakku kepadamu, tak pernahlah aku merasa lelah. Hanya saja, kau mesti kuliah pagi, tiap Senin hingga Kamis. Sehingga mau tak mau kita mesti menutup obrolan dan pertemuan dengan sepeluk dan secuil kecupan.
Di waktu-waktu seperti ini, dulu, mungkin obrolan kita masih berfokus pada siapakah musisi yang musikalitasnya lebih baik, SORE, Pure Saturday, atau Efek Rumah Kaca? Padahal kita sama-sama tahu, bahwa mereka tidak bisa disamakan, apalagi dibandingkan. Namun entah mengapa masih saja kita sibuk mendebatkannya, hingga kau dapat saja memotong perbincangan sejenak sebab kau mesti ke mini market untuk membeli sebungkus Marlboro merah yang mesti kau isap dalam-dalam saat gelisah.
Aku harus mengenakan sweatermu yang nampak kebesaran di tubuhku, karena kau memaksa. Kerjaan bersin-bersin masih aja sok kuat, ucapmu padaku saat itu. Kemudian kita berbincang lagi di balkon depan kamarku, melihat bebas ke arah langit atau lampu-lampu jalanan yang membulat banyak-banyak di bawah sana. Ketika kita bosan, kita bisa masuk dan mengunci kamar, berbagi selimut dan headset, mendengarkan album Ports of Lima berulang-ulang hingga terlelap.
Kini aku mesti keluar rumah untuk menghabiskan detik-detik ini, sendirian. Aku menghindari berdiam diri di balkon atau telentang di atas ranjang, sebab nostalgia pasti akan datang menyergapku dengan tak sabar.
Bagaimana kuingat rambut megarmu yang sepertinya bisa menyembunyikan segala hal di dalamnya. Bagaimana kudengar denting sendok dan gelas kaca beradu membaurkan kopi hitam dan air panas. Bagaimana kuhembuskan diam-diam asap rokokmu yang menganggur di atas asbak. Bagaimana kurasakan jemari kakimu yang secara tak sadar mengusap telapak kakiku lamat-lamat saat kau terlelap. Bagaimana kudengar dengkur halusmu yang menemani detak detik jam yang tak jarang membangunkan atau malah menidurkanku. Bagaimana kuhabiskan dini hari bersamamu.
Tapi kita sudah memilih. Walau kadang masih terasa perih. Takkan lagi ada dini hari milik kita.

Perangkai Kata

Tahukah kau? Kau pandai merangkai kata. Kau hanya perlu melihat ke sebuah titik dan kata-kata itu dapat terjuntai indah dari mulutmu. Tak pernahlah aku mengerti mengapa kau bisa melakukannya. Sedangkan aku membutuhkan berjam-jam demi merampungkan satu paragraf saja. Maka jangan coba tanya padaku tentang esai dan paper yang ditugaskan dosen di akhir kelas. Mengingatnya saja kepalaku mendadak nyeri sebelah.

Apa yang kau temukan hari ini? Oh, rintik hujan yang turun siang tadi, kau ingat? Saat kita menghabiskan waktu berdua di kantin dan menandaskan tempe goreng untuk mengganjal perut. Di sana kau berkata, “Hujan menyisakan aroma yang enggan kulupakan. Petrichor. Bagaimana aku bisa lupa? Aku menyaksikan hujan pertama di kampus bersama perempuan ajaib seperti kau. Ini aroma baru, kenangan baru, iya kan?” dan aku masih saja asyik mengunyah tempe goreng, sedikit mengangguk agar kau sadar bahwa aku mengerti. Padahal musim hujan belum juga tiba, aneh sekali hujan datang di sela terik matahari seperti ini, pikirku.

Aku tak tahu apa maksud dari ucapanmu, tapi kuanggap itu hanya kalimat biasa yang terlontar dari mulutmu, suatu hal yang sangat wajar. Tak perlulah kuambil sarinya agar kudapatkan manisnya kalimatmu. Ini saja sudah cukup. Pun pada akhirnya kau juga mengatakan hal-hal serupa pada perempuan lainnya, teman-temanmu yang entah mengapa membuatku jengkel tiap kali melihatnya berada di dekatmu. Bahkan ketika melihat tubuhmu berjalan ke arahku setelah kau selesaikan urusanmu dengan mereka, ingin sekali rasanya kulempar buku-buku tebal di dalam tas kanvasku ke arahmu.

Kau tak bersalah. Kau hanya perangkai kata yang terlalu ulung. Kau hanya lelaki dengan kalimat-kalimat yang ironisnya selalu kutunggu padahal mereka tak berarti apa-apa untukku. Kau hanya memuntahkan apa yang ada di pikiranmu, dan aku hanya tak sengaja memuntahkan perasaan yang berlebih untukmu.