The Adams dan Agterplaas: Hadiah yang Penuh

Tahun 2019 sudah mencapai separuh. Dua bulan pertama berjalan lancar dan menyenangkan, aku masih membawa “kepenuhan” yang aku tampung sejak tahun lalu. Setelahnya, hancur berantakan. Pada 18 Februari, hubunganku dengan partnerku selama berkuliah di Jogja berakhir. Perpisahan mana yang menyenangkan? Ya, mungkin perpisahan dengan yang buruk akan terasa begitu. Akan tetapi, berpisah dengan seseorang yang disayang dan dipercaya betul, yang diajak hidup bersama selama lebih dari tiga tahun, dengan alasan yang menyakitkan, tentu bukan salah satunya. Apalagi kalau perpisahannya memang sudah direncanakan tanpa diketahui, bahkan sejak separuh perjalanan bersama.

Sejak saat itu, aku berjalan seok dengan beberapa kali keinginan untuk menyerah pada hidup. Skripsi sempat sulit disentuh, kerjaan Balairung, entah PSDM dan peluncuran jurnal, juga entah bagaimana kabarnya. Hal yang kubutuhkan saban hari cuma menangis dan mencari alasan untuk tetap bernafas. Di tengah kacaunya hidup dan kalutnya pikiranku, aku mencoba perlahan mengambil kepingan alasan-alasan yang terserak tercecer di berbagai penjuru.

Ternyata masih ada. Aku punya skripsi yang ingin aku selesaikan betul. Aku punya Jurnal BALAIRUNG yang waktu itu harus diluncurkan (tentu dengan segala polemiknya yang bahkan sempat membuatku lupa sesaat akan sakit hatiku). Aku punya teman-teman manusia, kucing, dan anjing yang begitu baik dan tulus. Aku punya keluarga yang, dengan segala keterbatasannya, mendoakan dan menungguku dengan sabar di rumah. Singkatnya, aku masih punya alasan untuk hidup walau kadang aku bisa melupakannya ketika teringat dengan apa yang aku alami.

Maka, mau tidak mau, aku melanjutkan semuanya, atau lebih tepatnya memulai kembali: skripsi (ini yang paling utama), kerja-kerja Balairung, menguatkan lagi simpul perkawanan yang sempat longgar, buku, musik, film, olahraga, curhat dengan orang tua, apapun. Dan yang paling sering kulakukan adalah kebiasaan lamaku, keliling Jogja dengan motor sambil mendengarkan lagu, lalu bernyanyi, berteriak, dan menangis. Aku melanjutkan hidup pelan-pelan, menata yang berserak satu per satu kembali ke tempatnya semula. Kalau tidak dilanjutkan, aku akan berkubang dalam kesedihanku sendiri dan mungkin akan benar-benar mati karenanya.

Papa dan Mama berharap aku bisa lulus tepat waktu. Aku lantas menuntut diri sendiri untuk bisa mewujudkannya. Gila, udah durhaka, ngerepotin, punya utang budi yang nggak bakal bisa dibayar, mau macem-macem apa lagi, sih? Untuk itu, setiap hari aku paksa diriku untuk mengerjakan skripsi dengan beban sakit hati dan tanggung jawab mengurus peluncuran jurnal. Bahkan kadang sampai autopilot begitu, tiba-tiba udah di Perpus Pusat aja. Tentu, tiap hari tidak selalu menghasilkan halaman-halaman baru di skripsiku. Ada hari-hari dimana aku di Perpus cuma menatap kosong ke arah layar, numpang tidur, atau menangis. Ya, yang terakhir ini sih yang sering kejadian. Nangis, bingung sebenernya ini mau ngapain? Kok bisa ya aku sakit hati begini? Duh, proposal peluncuran jurnal kapan di-acc ya? Anjir, ini John masalahnya apa lagi? Kok ga bisa mikir ya? Kok ga bisa nulis ya? Apaan tuh teori yang barusan kubaca? Mama ngapain ya di rumah? Papa ga sering minum sprite dan coca-cola lagi kan? Aduh Mbaina kok jadi mepet banget tabungannya? Jyo mau belajar ga ya? Popo sehat ga ya, kan udah mulai tua? Mampus, ini artinya apa? Kok referensinya mung ngene tok? Itu kalimat bunyinya apa kok jelek banget? Iki skripsi opo kok ra masuk tenan, ndes? Apa kabar kerjaan Balairung yang kutinggalkan? Lah kok nggak ketemu yang kucari? Aku kok ga kontribusi apa-apa ke Balairung ya? Apakah teman-temanku berbahagia? Besok mau kerja apa? Akila, Garfil, Upik, kalian lagi apa? Lah ini CV apaan? Unies kabarnya gimana? Lah ngapain mikirin dia lagi kan kamu dah diputusin, Ran? Bangsat, aku nih sampah atau apa ya, kok ga ada nilainya? Dan lain-lainnya yang sering mengantarku untuk menangis. Cengeng ya, anaknya? Memang!

***

Ketika nangis, atau menuju nangis karena merasa diri nggak ada nilainya, aku selalu mendengarkan “Timur”, nomor terakhir di album Agterplaas (2019) milik The Adams. Lagu ini benar-benar sekuat itu untuk “mengangkatku” lagi. Kalau sedang jalan-jalan keliling Jogja saat sore atau malam hari, yang paling tepat menemaniku adalah “Esok”. Jika ingin menambah semangat untuk menjalani detik ini dengan sebaik mungkin, aku dengarkan “Masa-Masa”. Aku bahkan sempat cuitkan di Twitterku bahwa Agterplaas adalah albumku tahun ini. Ya, sepertinya memang iya, sih. Dari 6-7 jam duduk di depan laptop setiap hari, entah berapa kali album itu kuputar untuk menemaniku skripsian. Belum lagi pas jalan keliling kota, atau di kamar kos sambil karaokean.

Aku dan Timur
“Timur” dan aku di sela-sela skripsi.

Agterplaas, bagiku, adalah album yang jauh lebih dewasa jika dibandingkan dengan The Adams (2004) dan V2.05 (2006). Persis seperti yang dikatakan Ale di sebuah wawancara, “Album ini tetap berbicara soal cinta, tapi tingkatannya dinaikkan.” Jadilah ia album yang banyak berbicara tentang introspeksi masa lalu, penghayatan masa kini, dan persiapan masa depan. Lagu-lagu di dalamnya bercerita soal pasangan, orang tua atau kerabat yang sudah meninggal dunia, kelahiran anak, nostalgia masa sekolah, melawan ketakutan akan masa depan, dan apapun itu interpretasinya. Album ini menunjukkan bagaimana para personel The Adams memandang dunia semenjak menjadi ayah. Tiga belas tahun nggak mengeluarkan album penuh, sekarang mereka semua memang sudah menjadi “family guy”. Kupikir pantas mereka menjadi lebih dewasa dari segi lirik; tidak lagi bercerita tentang kencan di teras rumah lalu pulang jam sembilan malam.

Oh ya, yang lebih menyenangkan lagi dalam album ini adalah, semua lagu menggunakan lirik berbahasa Indonesia, berbeda dengan dua album sebelumnya. The Adams pandai merangkai lirik yang bermakna tapi juga berima. Tidak berlebihan, tidak juga kurang; pas. Kudos untuk Ario yang punya andil paling banyak dalam penulisan lirik! Harmonisasi vokal dan distorsi gitar khas The Adams masih tersedia, tapi porsi synthesizer tidak mengambil terlalu banyak perhatian seperti dalam V2.05. Maka dari itu, album ini tidak terdengar terlalu “ramai”.

Mungkin ini kerugian sekaligus keuntungan bekerja di studio dan label milik sendiri (Belakang Teras Records): di satu sisi, The Adams bisa semaunya mengerjakan materi sampai puas sehingga butuh waktu tiga belas tahun untuk merampungkan sebuah album. Di sisi lain, hal tersebut sekaligus membuat album ini menjadi matang baik dari segi lirik, musikalitas, dan produksi. Ada berbagai jenis musik yang hadir dalam rentang waktu tiga belas tahun, dan aku yakin itu juga memperkaya referensi album ini.

Aku entah mengapa percaya bahwa setiap orang punya album musik yang bernilai personal untuknya. Agterplaas begitu personal untukku sebab berkali-kali aku “selamat” karena mendengarkannya. Ia selalu berhasil membuatku ingat dengan keluarga, teman-teman, dan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sebenarnya masih bisa hadir karena aku sendiri yang memaknainyaAgterplaas membuatku bersyukur atas apa yang tersedia untukku saat ini. Menikmati saat ini, mengingat yang baik dari masa lalu, menyambut masa depan dengan suka cita. Ia tak hanya dewasa, ia mendewasakan.

***

“Habis aku sidang, atau habis skripsian deh, aku harus nonton The Adams manggung. Aku harus beli rilisan fisik Agterplaas. Semuanya hadiah dari diriku untuk diriku yang nggak menyerah walaupun nangis terus.”

Kalimat itu berkali-kali terulang dalam kepalaku di berbagai kesempatan. Entah ketika membuka referensi, menulis skripsi, habis menangis, naik motor keliling ra ceto, atau sesederhana ketika mendengar Agterplaas. Aku benar-benar berterima kasih pada mereka dan album terakhir mereka. Namun, aku sadar, The Adams sudah lama banget nggak ke Jogja. Terakhir kali mereka ke sini pada September 2016 di Sindu Kusuma Edupark, dimana aku nonton sekaligus cari materi gig report untuk web Warning. Karena keinginanku yang begitu besar, hampir setiap hari aku pantau akun Instagram mereka, dan sepertinya memang tidak ada harapan: mereka nggak ada jadwal ke Jogja, atau tur album baru. Jadi ya sudah, aku berbesar hati melepas harapanku itu. Mungkin hadiah untukku cuma berupa rilisan fisik Agterplaas yang harus kubeli sendiri nanti, setelah aku sidang skripsi. Tapi seperti kata Prima Hidayah padaku di bulan April lalu, “Ada banyak keyakinan besar di dunia yang tidak benar.” Dan ternyata hidup memang suka jahil padaku.

“Jogja! Sampai ketemu tanggal 22 Juni 2019. Geser ke atas untuk membeli tiket.”

Dengan tangan gemetar, tentu habis berteriak dan lompat kegirangan, aku langsung membeli tiket gig The Adams satu detik setelah aku melihat unggahan instastory mereka yang bertuliskan kalimat itu. Itu tanggal 13 Juni. Rasanya seperti ditampar oleh hadiah yang besar dan tidak terduga sekali. Setelah menyerah dan tidak lagi berharap nonton mereka manggung, lah malah dikasih nonton langsung di bulan ini. Mana venue-nya di Create & Dream Coworking Space, tempat yang kurasa cukup sempit untuk konser. Jadi kupikir gig ini akan jadi lebih intim, “penuh”, dan lebih baik dari tiga tahun lalu.

Mbak Cis dan Mas Catur memilih tidak nonton, padahal aku ingin nonton bersama mereka. Drujud nonton, tapi bersama teman-temannya (walaupun kami berjanji untuk bertemu di venue)Jadilah aku nonton sendiri, sama seperti tiga tahun lalu. Bahkan tempat nontonnya pun sama, di sisi kiri panggung, persis di baris depan. Bedanya, kali ini aku sengaja nggak membawa DSLR, aku nggak mau mengganggu pengalaman menontonku sendiri. Aku hanya berniat mengambil foto panggung dan merekam video pendek dengan kamera ponsel saja. Aku bawa rangefinder-ku juga, sih (tapi nggak bawa flash. Aku nggak yakin ada yang jadi deh itu, fotonya).

Melihat Kiting, Pandu, Ale, Ario, dan Ghina (mbak keyboardist baru nan menggemaskan!) naik ke panggung satu per satu lalu memulai dengan “Selamat Pagi Juwita”, aku berteriak dengan gemetar: this is it! Mereka akhirnya datang di saat yang benar-benar tepat, di depan mataku, sesuai harapanku.

The Adams memainkan dua belas nomor dari setlist (yang jadinya dimainkan acak karena kata Ario mereka terbawa suasana, hahahah), ditambah satu lagu di luar setlist. Totalnya tiga belas. Edan. Mereka cuma bawain tujuh lagu di gig terakhir mereka di Jogja tiga tahun lalu. Ini dua kali lipatnya! Serunya adalah mereka membawakan enam dari total dua belas lagu di Agterplaas. Jadi ini adalah pengalaman menonton gig yang tentu paling berbeda dari sebelumnya: menyaksikan, mendengarkan, dan mengalami materi-materi terbaru.

Setlist The Adams
Setlist untuk Ale. Semua lagu dibawakan dengan susunan yang acak, ditambah “Kau di Sana”.

Aku senang dengan gig sesak penonton yang penuh kerinduan. Bahkan, sepanjang gig berlangsung, aku harus berdiri hanya dengan bertumpu pada tumit karena kehabisan tempat untuk berdiri sejak lagu kedua, “Waiting”. Sejak lagu ini hingga seterusnya, selalu ada penonton yang crowdsurf. Bahkan di lagu bertempo lambat seperti “Timur” pun tetap ada yang berselancar di kerumunan. Kalau kata Ario, “Ini ‘Timur’ aja ada yang crowdsurf, boi. Gue mau ketawa tapi gue lagi nyanyi, mau ngelarang tapi nanti ngerusak suasana.” Penonton pun tergelak, mungkin ngomong “ya juga ya” dalam hati. Ale menimpali, “Iya boi, ini lagi nyanyi lagu syahdu gue kok liat selangkangan di atas. Untung pake celana dia.” Dan untungnya “Timur” terselesaikan dengan melodi gitar yang sempurna, setelah sekian lama mereka nggak pernah memetik kunci dengan benar. Ale dan Ario melakukan high-five di akhir lagu, saking senangnya dengan keberhasilan mereka. Aku pun sesenang itu bisa mengalami “Timur” secara langsung.

Sejak lagu pertama, menyadari bahwa permainan mereka sudah ngawur dari setlist, Ario, Ale, Pandu, dan Kiting jadi ngos-ngosan. Lagu-lagu bertempo cepat sudah dimainkan sejak awal. Berkali-kali mereka ambil jeda yang cukup lama, sambil minum air atau ngobrol nggak jelas. Aku yakin mereka melakukan improvisasi karena sadar bahwa kami, para penonton, memang sekacau itu menanti mereka kembali ke Jogja, lebih-lebih lagi dengan materi baru.

Ale dan Gigih
Ale dan Kiting

Hebatnya, penonton bernyanyi di semua lagu, tanpa terkecuali. Mungkin bahana paling sedikit terdengar adalah di nomor “Pesona Persona”, walaupun ya tetap ribut juga. Ale, ketika tiba di bagian gitar solo, kayak orang kesetanan. Ancur, bagus dan lama banget mainnya. Pandu dan Ario sudah berkali-kali melagukan lirik “keberadaanmu” karena Ale begitu asyik main sendiri. Sedangkan Ghina dan Kiting di belakang terus menerus melakukan sinkronisasi suara synth dan gebukan drum. “Ya, tadi itu judul lagunya ‘Keberadaanmu’,” gurau Ario setelah lagu itu selesai, saking terlalu banyaknya nyanyi bagian “keberadaanmu”.

Pandu dan Ario
Pandu dan Ario

Sepertinya nomor yang paling ditunggu adalah “Masa-Masa” dan “Konservatif”. Penonton paling menggila di nomor-nomor ini (dan di “Waiting”, tentunya). Para personel juga terlihat sangat menikmati permainan mereka sendiri. Semuanya berbahagia dan ngos-ngosan. Tawa dan senyum terlihat di wajah semua orang. Aku sempat sedikit menangis. Udara dingin Jogja berubah jadi hangat. Telinga jadi budek sebelah karena aku berdiri persis di sebelah speaker. Tapi karena saking senangnya, aku sudah tidak begitu peduli, malah nyender di speaker setiap ada jeda untuk tarik napas. Betis pegal, suara habis, semua penonton kekurangan cairan. “Air! Air!” suruh mereka pada Ale, agar botol-botol air mineral yang disediakan di panggung untuk para personel dilemparkan pada mereka.

“Konservatif” selalu menjadi lagu penutup di setiap penampilan The Adams. Kali ini “Konservatif” dibawakan dengan format karaoke. Syaratnya, mereka yang karaoke ke panggung haruslah “ecew-ecew”, meminjam bahasa Ario untuk merujuk penonton perempuan. Format seperti ini pernah beberapa kali mereka bawakan, misalnya saat manggung di Duck Down Bar (Maret 2019) dan ketika gelaran Pesta Bersama (April 2019). Memang seseru itu, sudah tidak ada batas sama sekali antara penampil dan penonton. “Ayo, ecew-ecew yang mau, naik dan kita karaokean di sini,” ajak Ale.

Terdorong oleh tingginya endorfin atau entah apa, tanpa pikir panjang, aku naik panggung dan meraih mic.

Intro “Konservatif” terdengar, kami ber-“tararara” bersama-sama. Aku seperti sedang trance. Aku nggak merasakan kepalaku sendiri. Aku melihat kerumunan penonton yang menggila di depanku. Orang-orang berlompatan dari panggung dan berselancar. Semuanya berteriak. Ale mencabik gitarnya di sebelahku. Para perempuan yang bersamaku di atas panggung mengeluarkan ponselnya dan merekam momen itu. Aku gila, aku hilang. Aku teriak. Aku keluarkan semuanya. Aku merasa hidup. Aku penuh.

Karaoke "Konservatif"
Pemandangan dari panggung. Puncak kegilaan malam itu.

“Konservatif” selesai. Kegilaan bertambah dengan penonton yang naik ke atas panggung untuk menemui para personel. Aku high-five dengan Ale. “Makasih banyak ya,” katanya padaku, di tengah kerumunan penonton yang hendak foto bareng dengannya. Ingin kukatakan bahwa album terbaru mereka telah menyelamatkanku. Tapi aku bingung dan akhirnya tidak mengatakannya. Aku merasa tidak sepenuhnya sadar.

Aku lantas bertemu Drujud setelah turun panggung. Kupeluk dia. Aku butuh orang untuk berbagi tumpah ruahnya perasaan di dalamku, secara fisik. Aku begitu penuh, bahkan meluap-luap. Ini terlalu ajaib dan surreal. Kami lalu bertukar cerita tentang bagaimana masing-masing dari kami begitu rindu dengan penampilan The Adams, Agterplaas yang sangat berjasa selama beberapa bulan ini (khususnya dalam penggarapan skripsi kami), dan kesepakatan bahwa ini adalah gig terbaik yang pernah kami datangi.

Aku bingung mengapa aku bisa memberanikan diri untuk naik ke panggung. Aku begitu terbawa suasana. Di atas panggung, aku baru menyadari bahwa hadiah malam itu begitu besar. Aku baru idrak bahwa semesta begitu murah hati padaku. “Anggep ini hadiah, Tak. Emang seharusnya kamu ngeluarin semuanya di panggung,” kata Drujud. Aku cuma bisa mengiyakan sambil jongkok terengah-engah, masih belum percaya.

Ini mungkin berlebihan bagi orang lain, tapi aku benar-benar merasa ditampar oleh keajaiban yang begitu membahagiakan. Hidup menjatuhkanku ke bawah, terlalu jauh dan dalam. Kini aku diangkat pelan-pelan dengan berbagai kebahagiaan kecil. Khusus dalam kasus gig The Adams, ia adalah hadiah tak terduga paling raya untukku, sejauh 2019 ini. Hadiah karena aku berhasil melawan rasa ingin menyerah. Hadiah karena aku tidak berhenti berjalan. Terima kasih Ario, Ale, Kiting, Pandu, dan Ghina. Terima kasih banyak. Kalian begitu ajaib.

Dalam perjalanan pulang dari venue, aku berteriak sendiri. Berterima kasih entah pada siapa. Di tenggakan radlerku yang terakhir, aku kembali membisikkan terima kasih. Untuk malam itu, aku bahagia dan penuh.

Aku akan melewati hari-hari gelapku. Aku akan sampai ke titik dimana aku akan menganggap semua yang menyakitkanku adalah bagian dari masa lampau dan membentukku sampai saat ini. Semuanya sementara, yang baik, yang buruk. Oleh karenanya, aku akan belajar untuk menikmatinya semampuku. Yang gelap akan menjadi terang. Yang sakit akan sembuh. Akan ada waktunya, akan ada waktunya.

Dan di hariku yang paling gelap / semoga aku akan mengingat / bahwa ini sementara / dan akan segera pergi / dengan cepat //

 

Yogyakarta, 23 Juni 2019

 

 

N.B.: Lah, akhirnya malah bikin gig report juga, sama kayak tiga tahun lalu.

Musik Pop: Lantunan Perjalanan Kehidupan

Album_Musik_Pop

Apa yang terbayang di benak saat mendengar nama MALIQ & D’Essentials? Sebagian besar orang pastilah menjawab genre musik jazz yang diusung oleh mereka. Namun nampaknya kali ini anda harus menahan spekulasi tentang aliran musik mereka, karena album Musik Pop menyuguhkan suasana yang jauh berbeda dari lima album sebelumnya.

Musik Pop membawa kita kembali ke 70-80’an ketika lagu-lagu milik Keenan Nasution, Yockie Suryoprayogo, Guruh Soekarno Putra, hingga alm. Chrisye merajai tangga lagu di radio-radio kesayangan kawula muda. Pop yang mereka usung di sini, bukanlah pop dari rumpun lainnya. Namun pop milik Indonesia yang sangat khas dan autentik jika dibandingkan dengan pop rumpun lainnya.

Dua puluh delapan menit yang disuguhkan di album ini terasa sungguh nikmat didengarkan, namun juga sarat makna. Pasalnya, Musik Pop dapat dikatakan sebagai sebuah soundtrack dari perjalanan kehidupan manusia. Dimana manusia lahir, hidup, dan mati. Sebuah siklus yang dilantunkan dengan indah oleh suara khas milik Angga Puradiredja dan Indah Wisnuwardhana. Mengapa bisa? Pintu, yang membuka album ini menggambarkan pintu kehidupan yang kita masuki, dimana Semesta, yang kemudian menjadi salah satu OST film Filosofi Kopi kemudian menggambarkan garis besar kehidupan itu sendiri.

Dilanjut kemudian dengan Ananda, sebuah kolaborasi apik bersama maestro jazz Indonesia, Indra Lesmana, yang melagukan lirik-lirik yang seolah menyambut kita, seorang anak yang lahir ke dunia.

Selamat datang sayang…

Selamat datang di dunia…

Sempurna hanyalah di surga,

Selamat datang di dunia…

Setelah lahir dan mulai menjalani hidup, Imajinasi melukiskan bagaimana indahnya dunia dengan segala problematikanya. Di sini Arya ‘Lale’ Aditya mencabik gitarnya dengan sungguh dramatis, dan juga gebukan perkusi dari Widi Puradiredja menambah keliaran imajinasi pendengarnya. Lagu kelima, Ombak Utara, menggambarkan ketenangan yang didapat setelah segala suka dan duka kehidupan seolah terhempas oleh hangatnya ombak pantai.

Taman dibuka oleh gesekan violin yang sungguh indah, namun dilanjutkan dengan suara gitar yang mendayu-dayu namun tetap terasa upbeat. Taman melambangkan sebuah surga, dimana seseorang bisa bermain sejak pagi datang, hingga fajar menjelang. Setelah bermain-main di taman, pada akhirnya kita berjanji menaklukkan Himalaya hanya untuk seorang tambatan hati. Himalaya, lagu paling romantis dan juga tergombal ini memberikan kita kalimat-kalimat sederhana nan indah, ditambah dengan alunan piano Ilman Ibrahim dan petikan bass dari Jawa, sang bassist. Di lagu terakhir yang juga berkolaborasi dengan Indra Lesmana, Nirwana, MALIQ & D’Essentials lebih memainkan synthesizer dan memutar-mutar nada, yang seolah-olah menggambarkan kekosongan dan juga keindahan dari nirwana itu sendiri, akhir perjalanan kehidupan manusia yang abadi.

Line-up dalam credits album ini masih sama persis dengan album mereka sebelumnya, Sriwedari. Ada nama Geoff Pesche sebagai petugas mastering. Abbey Road Studios UK tetap menjadi pilihan. Pantas saja kualitas sound dan music mereka terdengar tiada cela. Ditilik dari cover album yang berwarna metalik dengan sentuhan warna pelangi bak hologram pun dirasa sungguh pas menggambarkan musik di dalamnya yang berwarna-warni. Namun terlepas dari semua keunggulannya, kekurangan album ini adalah makna lagu-lagu tentang kehidupan ini yang tak bisa dimaknai oleh semua orang, utamanya pangsa musik Indonesia yang saat ini masih berkisar pada lagu yang bernuansa cinta dan romansa.

Melalui album ini, masih ada kemungkinan untuk membuat standar musik populer Indonesia kembali emas seperti satu-dua dekade lalu, dan mungkin juga Musik Pop tidak akan selaku atau sepopuler album-album mereka sebelumnya. Namun percayalah, album ini adalah mahakarya mereka yang terbaik, yang sayang untuk dilewatkan.

.

Musik Pop | Maliq & D’Essentials |Organic Records | 2014 | Pop

.

.

Oktaria Asmarani

Versi edit dimuat dalam Majalah Madyapadma, edisi XXII tahun 2015.

Berjalan Lebih Jauh: Iseng yang Lebih Serius

banda-neira-widg-album-png

Satu lagi keajaiban musik yang dengan bodohnya baru saya kenali sejak awal tahun ini. Perkenalkan, Banda Neira. Band–bukan duo–yang membuat saya jatuh hati saat pertama kali mendengarkan lagunya ini patut disejajarkan dengan band dalam negeri favorit saya lainnya, yang kaya akan lirik yang indah. Seperti Float, Payung Teduh, Sore, atau Dialog Dini Hari. Berhubung saya suka dengan lirik lagu yang agak puitis dan kadang melankolis, nampaknya saya tak salah menjatuhkan pilihan kepada band ini.

Dua hari yang lalu, album Berjalan Lebih Jauh yang saya pesan tiba. Saya yang tengah tidur siang dengan pulasnya langsung kehilangan kantuk. Ini album yang saya tunggu-tunggu. Padahal e-mail pemesanan saya ke Sorge Magazine baru sehari sebelumnya dikonfirmasi untuk segera dikirim. Tak menyangka albumnya datang secepat ini.

Warna kuning dipilih menjadi warna dasar cover album ini. Warna favorit saya. Isi di dalamnya pun tak kalah menyenangkan. Membuat saya ingin segera memutar kepingan albumnya yang berisikan gambar seperti pulau di tengah laut. Mungkin itu gambaran Pulau Banda Neira, di Maluku.

Berisi sembilan lagu dengan satu bonus track, saya mencermati judul-judulnya. Ternyata hampir semuanya saya ketahui dengan lirik yang sudah terhapalkan di luar kepala. Maklum, tiap malam saya putar lagunya di soundcloud mereka. Namun lagu-lagu yang sudah dipublikasikan di soundcloud tersebut dire-make sehingga menjadi sebuah album version yang lebih menarik dari sebelumnya.

Ananda Badudu memang tak pernah gagal membuat saya terbuai dengan alunan gitarnya, dan tentu saja suara beratnya yang khas. Belum lagi ditambah dengan kehalusan vokal Rara Sekar yang membuat perpaduan yang disebut sebagai ‘nelangsa riang’ oleh mereka. Tak hanya gitar dan vokal, lagu-lagu dalam album yang berdurasi selama 46 menit ini juga dihiasi oleh suara xylophone, impersonasi terompet–awalnya saya kira Ananda menggunakan kazoo, tapi ternyata itu murni impersonasi belaka–dan juga bass dari Erwin Badudu yang mempertegas lagu Ke Entah Berantah dan Esok Pasti Jumpa.

Walaupun sebagian besar lagunya sudah pernah saya dengarkan di EP Di Paruh Waktu, namun tidak menghambat kerinduan saya untuk kembali memutarnya lagi dan lagi. Saya tidak tahu, tapi menurut saya Banda Neira punya kekuatan yang besar di lirik lagunya.  Sederhana, namun bermakna. Puitis, namun tidak begitu sentimentil. Ini yang membedakan mereka dengan band/duo akustik lainnya. Dengan musikalitas seadanya namun tidak akan mengecewakan ini, mereka punya lirik yang mungkin tak semua musisi bisa menciptakannya.

Salah satu lirik yang benar-benar menempel di otak saya adalah lirik lagu Di Beranda. Lagu percakapan antara dua orang tua yang ditinggal merantau oleh anaknya. Sendu bukan main. Membuat saya yang masih tinggal serumah dengan orang tua ikut terenyuh, membayangkan apakah ini perasaan mereka saat saya pergi dari rumah nanti?

Dan jika suatu saat

Buah hatiku, buah hatimu

Untuk sementara waktu pergi

Tak usah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah,

Kita berdua tahu, dia pasti

Pulang ke rumah

Bonus track dalam album ini, adalah Mawar, dimana lagu ini berisikan puisi Sajak Suara karya Wiji Thukul, penyair yang sangat akrab namanya di era kerusuhan 1998. Saya bukan penggemar fanatik, tapi saya sebelumnya pernah membaca beberapa puisi dari Wiji Thukul. Dan mendengar salah satu karyanya yang terkenal dipadukan dengan lirik suguhan Banda Neira, saya tidak punya alasan untuk kecewa. Suara gitar Ananda yang mendayu namun menggetarkan jiwa, suara kesedihan Rara saat membaca puisi, seolah membawa kita melayang kembali ke masa lalu, pada sebuah kisah misteri yang tak kunjung terselesaikan sampai saat ini. Beruntung saya dapat merasakan kesedihan yang dialami korban 1998 dengan cara yang lebih halus dan tanpa darah. Haru rasanya mengetahui Banda Neira punya cara lain untuk membuka mata kita yang belum tahu, apa yang sebenarnya terjadi di waktu kelam tersebut.

Namun yang disayangkan, di luar kelebihannya, ada beberapa kekurangan dari segi audio. Sepertinya saat mixing dan mastering, ada beberapa titik yang terlupakan. Sehingga ada suatu saat dimana suara petikan gitar Ananda tiba-tiba meluncur turun volumenya, dan tiba-tiba naik kembali. Entah memang disengaja atau tidak, nampaknya hal tersebut agak sedikit mengurangi nilai plus saya di musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo, Rindu.

Terlepas dari kekurangannya yang hanya setitik saja, saya sudah mengukuhkan diri sebagai fan garis keras dari Banda Neira, hahaha. Air di tengah dahaga musik Indonesia yang sedang mencari sesuatu yang baru. Selalu akan ada, proyek iseng yang berbuah manis seperti Banda Neira. Walaupun judul album Berjalan Lebih Jauh lebih kurang telah menegaskan bahwa proyek iseng bernama Banda Neira ini telah menjadi sebuah hal yang ‘berjalan lebih jauh’–lebih serius dari sebelumnya, tetap saja. Yang iseng diseriusin sedikit saja sudah sebagus ini, apalagi kalau diseriusin lebih banyak ya?

Sulit jika saya diminta untuk memilih lagu favorit saya di album perdana mereka ini. Namun apabila harus, saya akan memilih Ke Entah Berantah, Hujan di Mimpi, dan Senja di Jakarta. Sisanya bukannya tidak menjadi favorit loh ya!

Senang sekali menjadi satu dari sekian banyak orang yang dapat menikmati keindahan musik dari band beda tempat tinggal ini. Semoga saat Rara yang kini tinggal di Ubud bertemu dengan Ananda yang sampai saat ini masih menjadi kuli warta di Tempo, karya lainnya akan lahir. Mempertegas kepada pecinta musik Indonesia, bahwa negeri ini punya musisi dengan karya musik berkualitas tinggi.

“Bangun, sebab hidup teramat berarti

Dan kita jalani, jangan menyerah,”

–Banda Neira (2013)

 

Berjalan Lebih Jauh | Banda Neira |Sorge Records – KKBM Unpar | 2013 | Nelangsa Riang

 

Innerlight: Komposisi Sempurna

Image

Suara yang saya ingat persis saat pertama kali mendengarkan album ini, adalah dipanggilnya nama musisinya. “Kita panggil BLP!” begitu kira-kira. Kemudian riuh penonton menggema. Saya seolah berada di tengah kerumunan Goodspellers–sebutan penggemar BLP–yang sedang menyaksikan dan menanti kehadiran musisi favoritnya untuk naik ke atas panggung, atau untuk segera melagukan karya-karya mereka. Inilah Innerlight Intro, yang menggiring saya untuk mendengarkan lagu-lagu yang ada di barisan selanjutnya dalam album ini.

Album kedua BLP–di luar satu album re-packagednya–ini menyuguhkan sensasi berbeda dibanding album sebelumnya. Dengan mendengarkan lagu-lagu yang jika ditotal akan memberikan angka durasi 73 menit ini, kita seolah terbawa pada era musik jazz yang lebih modern. Kedelapanbelas judul yang tersuguh dalam album ini memberikan aroma yang berbeda-beda di tiap lagunya, namun tetap membawa inti yang sama.

Barry Likumahuwa Project kini lebih akrab disapa BLP. Dengan sapaan akrabnya, secara otomatis kita tidak lagi mengangguk pada stigma bahwa sang pembetot bass akan lebih dominan dalam band ini. Jika boleh jujur, saat mendengarkan Generasi Synergy–album pertama BLP–saya merasa suara bass milik Barry lah yang sering terdengar dengan sangat jelas di tiap lagunya. Namun di album Innerlight, saya akui saya salah. Kelima personil band ini diberikan porsi yang seimbang di tiap lagunya. Ini membuat saya lebih nyaman, karena saya merasa lagu-lagu dalam album ini terasa menyatu, perfectly blended to all jazz lovers. Sementara Barry Likumahuwa tak berhenti membetot bassnya, Henry Budidharma membuat suara gitarnya tertinggal di telinga saya. Hentakan drum dari Jonas Wang, melatari nada dari tuts-tuts keyboard Doni Joesran. Dennis Junio tak mau kalah, lengkingan suara saksofonnya menyempurnakan setiap lagu yang terdengar jazz banget’.

Menariknya lagi, dalam album ini, masing-masing personil punya durasi di bawah 120 detik untuk menampilkan innerlight-nya. Dalam kurun waktu yang singkat tersebut, masing-masing brilian ini unjuk kebolehan dalam memainkan alat musiknya. Seperti Dennis’ Innerlight, dimana Dennis Junio memamerkan kemampuannya dalam meniup saksofon altonya. Dengan begini, saya semakin yakin bahwa tidak akan ada dominasi dari siapapun personilnya, karena masing-masing sudah punya komposisinya sendiri yang unik dan khas.

Kau akan slalu kutunggu, sampai kau jadi milikku

Meskipun ku tahu, takkan mungkin mimpiku menjadi nyata…

Pecah kongsi dengan vokalis terdahulu, Matthew Sayersz, tak membuat BLP kehilangan pesona. Dari kedelapanbelas track dalam album ini, tembang yang paling pertama saya kenali adalah Menunggu–karena lagu ini sudah sering saya kupingi di radio. Dalam lagu ini, BLP menggandeng penyanyi jazz yang sudah tak asing lagi di telinga pecinta musik Indonesia, Glenn Fredly. Sedari awal lagu ini terdengar, suara bass, drum, keyboard, gitar, dan saksofon mengiringi Glenn dengan apik. Selain membawa kita terhanyut dalam buaian musiknya, Menunggu punya lirik yang tak kalah cantik. Bukan sebuah keputusasaan dari seorang laki-laki yang hanya bisa menunggu wanita pujaannya yang sudah punya kekasih hati yang kita temukan, namun letupan optimisme yang terluncur manis dan tak cengeng dari mulut Glenn Fredly yang kita dengarkan. Dari detik pertama hingga detik dua ratus enam puluh lima, lagu ini seolah membuat saya tersenyum dan mengajak saya untuk bergoyang pelan. Membayangkan ada seseorang di luar sana yang menunggu saya, padahal saya pun sudah punya pacar. *ketawa beneran*

Sebuah keuntungan menyeruak ketika BLP tak punya vokalis dalam jajaran personilnya. Bagi saya, itu membuat musikalitas BLP tertantang. Karena tanpa suara vokalis dengan liriknya, BLP harus memanjakan telinga Goodspellers dengan suara instrumen musik saja. Ini yang membuat saya menyukai Innerlight. Karena dari delapan belas tracknya, hanya tujuh lagu saja yang saya temukan berlirik. Sisanya, hanya instrumentalia. Dan delapan menit track Dub-sivision dengan mudahnya mampu membuat saya bertahan tanpa merasa bosan karena tak jua memperdengarkan suara manusia atau lirik lagu di dalamnya. Saya menikmatinya. Delapan menit bukanlah durasi yang wajar untuk sebuah lagu–bagi saya, apalagi yang berjenis instrumentalia. Namun buktinya saya mendengarkannya dengan seksama dan menganggukkan kepala perlahan.

Ditilik dari kover albumnya, judul Innerlight tampak sangat diwakili. Dominasi hitam, ditambah gurat-gurat cahaya biru semakin memperkuat kesan album ini sendiri, yakni cahaya dalam, cahaya batin (ciyee, iye ah). Sederhana, namun kena. Ini salah satu poin yang saya suka dari kover album ini. Ada kesan sederhana, namun mewah saat saya pandangi. Setelah mendengarkan kepingan CDnya, ternyata lagu-lagunya memberikan sesuatu yang bahkan jauh lebih tinggi dari ekspektasi saya.

Yang saya juga sukai adalah, jarak yang sangat tipis di tiap-tiap pergantian lagunya. Sehingga menghasilkan tak hanya keterpaduan di masing-masing judul, melainkan kesatuan di sebuah album. Tidak ada pembatas atau celah, semuanya mengalir dengan nikmat dan nyaman. Seperti menyantap hidangan yang tak habis-habis di atas meja makan. *ketawa lagi*

Kalau memang harus menuliskan kekurangan dalam album ini, dengan berat hati saya harus menulis, tampaknya delapan belas track adalah jumlah yang cukup banyak untuk porsi sebuah album. Mungkin bagi mereka yang baru saja mendengarkan album ini–atau bukan penikmat jazz–akan mencoba untuk menskip beberapa lagu untuk menemukan ekor album ini. Tapi bagi saya sih, malah jadi enak. Semakin banyak lagu dalam sebuah album, menandakan semakin tinggi kualitas musisi di dalamnya–tapi nggak semua kayak gitu sih. Dan bagi saya, BLP termasuk dalam jajaran musisi favorit nan berkualitas milik saya. By the way, lagu favorit saya di album ini adalah Menunggu (ft. Glenn Fredly), My Guide (ft. Soulmate), Dennis’ Innerlight, Groovolution, dan Gema Senada (ft. Bayu Risa). Kalau belum tahu seperti apa lagunya, segerakan diri untuk melancong ke toko CD terdekat dan mengantongi album ini hanya dengan lima puluh ribu rupiah saja.

Innerlight, sepiring hidangan yang disajikan dengan sangat menarik, cantik, dan apik. Masih hangat, namun juga segar. Aromanya menggugah selera. Sebuah porsi yang sangat pas untuk Goodspellers dan para penikmat jazz. Komposisinya sempurna, lubrikasi bumbunya merata. Tidak lebih, tidak kurang. Saat dinikmati, banyak rasa yang didapat, banyak asupan yang terserap. Membuat para pecinta jazz mampu untuk menikmatinya hingga detik terakhir suapannya, dan akan selalu membuat yang belum mencicipi tertarik untuk menikmati, lagi dan lagi.

“Search your Innerlight!”

– BLP – Innerlight (2014) –

 

Innerlight | BLP | Seven Music | 2014 | Jazz