Semua (Tak?) Sama

Rumah Filsafat

Magritte, 1928 Magritte, 1928

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Sekitar 12 tahun yang lalu, Padi, grup band asal Surabaya, mengeluarkan lagu berjudul “Semua tak sama”. Isinya tipikal lagu-lagu romantis. Seorang pria tidak dapat menemukan sosok pengganti kekasihnya. Kekasih barunya berbeda dari kekasihnya yang lama, yang masih dicintainya. “Semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kusentuh, apa yang kukecup”, begitu bunyi refren lagu itu.

Dulu, saya suka sekali dengan lagu ini. Namun, sekarang saya sadar, lagu ini memiliki kesesatan berpikir yang amat mendasar, yakni melihat kenyataan hidup sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda satu sama lain. Ia menyebarkan pesan, bahwa semua hal di dunia ini tak sama, maka harus dipisah-pisahkan satu sama lain. Banyak orang menerima begitu saja pesan lagu ini, tanpa berpikir kritis lebih jauh.

Apa yang Diajarkan Kepada Kita

Sejak kecil, kita juga diajarkan untuk melihat dunia ini sebagai sesuatu yang memiliki bagian-bagian…

View original post 913 more words

Untuk Ibu

When I was so wordless to express my feelings to my mom, I found this writing from Meira Anastasia.
Enjoy. You must be feeling the same.

Untuk Ibu.

Ibu..
Apa yang sebenarnya ingin Engkau lakukan?
Bukan hanya mengganti popok, menyusui, menyiapkan makanan, menyetrika, memandikan, memasak, membersihkan rumah, menawar harga daging dan sayur, memastikan kami semua dan Bapak terlihat bersih dan kenyang.
Selain itu semua, Ibu..
Apa yang sebenarnya Engkau inginkan?
Bukan hanya kami yang selalu sehat dan bisa naik kelas, Bapak yang pulang dari kantor membawa martabak, Kakak yang mendapat istri orang baik-baik.
Pasti ada, Ibu..
Sesuatu yang lain..
Sesuatu yang Engkau inginkan untuk dirimu sendiri.
Ya Ibu, jangan lupa, Engkau pun boleh memiliki mimpi..
Apakah Engkau ingin menjadi ilmuwan, menemukan jenis obat-obatan baru dan menyelamatkan banyak nyawa?
Atau mungkin engkau ingin menjadi pramugari dan terbang melihat dunia sambil sesekali bertegur sapa dengan para penumpang pesawatmu?
Apakah Engkau ingin bekerja seperti para perempuan yang setiap pagi Kau lihat ketika Engkau membeli sayur?
Apakah Engkau ingin menjadi guru dan melihat muridmu bertanya dengan mata berbinar dan penuh keingintahuan?
Apa, Ibu?
Ah..
Maafkan aku..
Aku tak pernah sadar bahwa hidupmu bukan hanya untuk mengurusi anak-anakmu saja.
Bahwa Engkau pun berhak atas hidupmu sendiri dan seharusnya tidak ada suami atau anak yang menghalangi keinginanmu untuk berkarya.
Untuk menjadi dirimu.
Aku tahu Engkau tidak pernah merasa terpaksa untuk bangun setiap pagi dan mempersiapkan segalanya bagi kami, tapi Ibu, seharusnya Engkau pun berhak untuk tidak melakukan itu.
Engkau sudah melakukan terlalu banyak bagi kami.
Kami yang terlalu dimanja ini.
Sudah mengandung dan melahirkan kami ke dunia ini saja, sudah luar biasa bagi kami.
Maafkan kami Ibu, kami lupa bahwa Engkau tidak pernah digaji untuk melakukan ini. Bayaranmu adalah ucapan terima kasih kami atau pelukan kami sebelum pergi sekolah.
Itupun jika kami tidak lupa melakukannya.
Maafkan kami Ibu, kami sibuk mencari tahu dan mengejar mimpi kami sendiri, sampai kami tidak sadar bahwa Engkau pun pasti pernah muda dan penuh mimpi seperti kami.
Maafkan kami Ibu, kami menghabiskan waktumu, umurmu, tenaga, dan perasaanmu selama ini untuk membesarkan kami, sehingga Engkau tidak punya waktu untuk dirimu sendiri.
Tapi Engkau tidak mendendam, tetap tersenyum dan ikut bahagia atas kebahagiaan kami.
Ketahuilah Ibu, tanpamu kami tidak akan bisa seperti ini.
Ketahuilah Ibu, Engkau bukan hanya menunjukkan, tapi Engkau dengan tulus mengajarkan, makna sebuah ketulusan.


P.S.: Thank you Mbak Meira for allowing me to re-blog your post here.
And thank you, Mama. I have no words for you to explain how much I love you. May this writing can describe a little part of my feelings.