Yang tak suah habis

Badung, 2020

Sementara tiga lelaki merangkai bunga, pekat jatuh di keningmu. Kau berjalan, dunia berputar, hidup berlangsung. Sesekali tersungkur lalu isak pecah begitu sunyi begitu sedu. Pagi tidak pernah bersembunyi. Tidak juga pernah tergesa. Mimpi dan igau masih endap di relung renung. Ke mana hendak berlari, mengapa harus berlari. Bukankah duka bagian dari kita. Ataukah kita yang mencipta ia hingga habis ranggas kita dibuatnya.

 

 

Denpasar, 29 April 2020

Tiga

Dalam hiruk-pikuk dunia yang sungguh besar. Pun dalam rumitnya kau dan aku yang begitu kecil ini. Di setiapnya, masih tersisa satu ruang untuk kita hidupi bersama; suatu titik untuk tumbuh belajar mendewasa. Untuk itu, aku tak pernah berhenti berterima kasih.

 

Singaraja, 1 Januari 2019

Dua

Sebagian nafas hidup adalah prahara. Dan segala makhluk terus berusaha sintas di dunia yang menuju ajal. Maka dekap dan rangkullah aku. Atau menangislah bersamaku. Setidaknya langkah satu-satu kita masih beriring dalam padu.

Denpasar, 1 Januari 2018

Bayanganmu

Petang tadi aku berjalan menapaki bayanganmu. Empat belas meter lagi bayanganmu itu akan kawin dengan tubuhmu sendiri di bawah lampu jalan yang membikin silap mata. Dengan seisi diriku aku ingin menginjak bayangan milik kepalamu yang penuh rambat-rambat tumbuhan yang terus hidup sebab akar-akarnya senantiasa dibasahi air tanah yang sejuk. Sempat beberapa kali kukatakan bahwa aku suka bentuk bibirmu. Tapi perlu kau tahu bahwa aku juga begitu terpikat pada isi kepalamu.

Yogyakarta, 23 Maret 2017