Pertanyaan untuk Papa

Hari ini harusnya usiamu bertambah, Pa. Tapi apa guna menghitung usiamu lagi? Rani benci sekali harus tiba-tiba menangis karena lihat kalender beberapa menit lalu. Rani enggak suka sesak terus menerus karena menangis, Pa. Papa juga enggak suka orang cengeng, kan.

Tapi sekali, Pa, sekali saja, biar Rani menangis. Atau mungkin dua kali, tiga kali, atau ratusan, ribuan kali lagi. Rani benci Papa tidak lagi di sini. Biar Rani menangis. Rani enggak kuat. Kemana harus mencari Papa?

Pa, ada banyak sekali cerita selepas Papa pergi. Kayaknya hidup Rani sekarang begitu dinamis dan jauh lebih asyik kalau dilihat dari mata Papa. Pasti Papa suka cerita dari Rani. Tapi kemana Rani harus cerita, Pa? Apa Papa bisa mendengar? Apa Papa bisa menimpali? Rani enggak mau cerita sendirian, Pa.

Seketika lagu “Ayah” dari The Mercy’s yang sering Papa nyanyikan dulu jadi begitu relevan. Aku benci menangis sesak di jam 2 malam memanggili Papa. Papa, apa Papa dengar Rani memanggil?

Pa, Rani begitu putus asa, kemana harus mencari Papa? Rani enggak bisa jawab, apa Papa punya jawabannya?

Pa, Rani kangen… apa Papa punya obatnya?

.

.

.

Sudah 30 menit bergetar dan menangis sesak tidak berhenti,

Denpasar, 2 September 2021

We

Papa pernah hampir mengataiku cewek kafe; istilah yang ia pakai untuk perempuan yang tidak mengenal waktu pulang. Kami pernah bertengkar di ruang tengah rumah, sebab lewat jam dua belas malam aku baru tiba di rumah, masih dengan seragam putih abu. Aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa segala lelah yang kulakukan, hingga kini aku sadar juga sedikit banyak mengorbankan masa-masa SMA-ku yang menyenangkan, adalah untuknya juga. Aku ingin membanggakan Papa.

Papa membiarkanku memilih jalanku. Ia mengizinkanku kuliah filsafat padahal ia tak begitu mau tahu, apakah ternyata filsafat membuatku gila atau menjauhkanku dari Tuhan dan agama. Papa tahu aku suka belajar, Papa paham aku gemar menulis. Papa mengerti apa sesuatu yang ingin kutuju.

Papa selalu menanyakan kabarku lewat Mama. Apakah aku sudah makan, apakah aku telah sampai di kos, apakah kuliahku aman, apakah ujianku bisa kulewati. Gengsi ia berbicara padaku. Tapi aku rasakan kerinduannya padaku tiap kali kami berpeluk cium di bandara, entah ketika aku pulang, entah ketika aku kembali ke Jogja.

Papa sempat tidak mau hadir di perayaan wisudaku. Waktu itu, tak banyak uang yang kami miliki sebagai keluarga. Tapi tiket dan akomodasi sudah terbeli oleh kakakku. Ia tetap ngotot, ia tidak ingin merepotkan siapapun. Sampai akhirnya Mama memperdengarkan rekaman suara dekan pada yudisiumku di auditorium fakultas. Menyebut namaku, nomor induk mahasiswaku, masa perkuliahanku, jumlah SKS, IPK, dan predikatku. “Saya ikut berangkat,” katanya pada Mama.

Papa tidak mau aku pulang ke Bali mengendarai sepeda motor matikku. Bagaimana tidak, ia sempat hampir kehilanganku ketika tubuhku lepas dari gendongannya belasan tahun lalu di tengah Pantai Matahari Terbit. Selamanya aku takut pada air yang dalam, selamanya ia takut kecerobohannya berujung pada lesapnya aku. Papa tak mau kehilanganku.

Papa mengasihiku. Ia rawat bonsai jepun jepang hasil ujian praktikku ketika kelas 6 SD hingga ia tumbuh dengan cantik dan sehat sampai saat ini. Ia lahap habis sambal terasi matang buatanku. Ia cubit pipiku ketika aku bersiap menyeberang jalan, menuju ke salon untuk potong rambut di hari ulang tahunku ke-23.

Papa percaya pada kemampuanku. Ia tahu aku bekerja pada bidang yang ia tekuni dulu. Ia paham bahwa aku harus pergi dari kantor lamaku. Ia doakan aku selalu. “Asal kamu jujur dalam bekerja, pasti hasilnya baik,” begitu katanya. Itu nasehat terakhirnya untukku.

Aku tak pernah memahami bagaimana rasanya menjadi Papa. Yang di tengah segala keterbatasan hidupnya, rela mengusahakan apapun untukku. Waktu aku kecil, aku pernah melihatnya makan hanya dengan nasi, garam, dan cabai. Sedangkan aku masih makan dengan lauk yang nikmat dan lengkap. Ia tak bolehkanku bekerja ketika kuliah, padahal diam-diam aku melakukannya. Ia berusaha menyisihkan uang pensiunnya yang tak seberapa ketika gajiku dipotong karena kantorku terkena imbas pandemi. Ini belum termasuk daftar hal yang ia lakukan ketika aku kecil. Papa usahakan segala yang terbaik untukku.

Aku yakin Papa paham bahwa aku begitu mengasihinya. Dan menonton video musik “We”, membuatku terpikir bagaimana ia menjalani hari-hari menjelang perkuliahanku, juga ketika aku sedang menekuninya dengan asyik. Di tempat yang jauh, tempat yang membuatku kenal segala rasa yang belum pernah kukecap, melakukan hal-hal yang mungkin tak pernah ia sangka.

Papa tahu aku akan menjadi seseorang, setidaknya untuk diriku sendiri. Ia percaya padaku. Dan aku percaya padanya.

Pa, Rani kangen. Maaf Rani masih sering nangisin Papa, padahal Papa enggak suka lihat orang nangis. Rani cengeng lho, Pa. Tapi Rani janji, Rani akan bikin Papa bangga. Jaga Rani dari sana ya, Pa.

Denpasar, 5 Juli 2021

Hidup, Mati

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya,” begitu kata Pram.

Setelah lepas napas terakhir Papa, kini dapat kumaknai betul kalimat tersebut. Sebab hidup memang begitu sederhana; tetapi rangkaian makna yang kita buat lalu biarkan berjalinan terus menerus, membuatnya terasa begitu hebat, begitu luar biasa. Sama seperti makna yang Papa jalinkan dalam dirinya, sama seperti makna yang kujalinkan dalam diri Papa.

Betapa hidup dan mati hanya ihwal benang tipis yang memisahkan keduanya. Semoga aku tak gegabah dalam memaknai masing-masingnya.

Mengenang dini hari Senin, 10 Mei 2021

Sukasada, 13 Mei 2021