Cerita Merpati: Ibu

Beruntungnya Narpati, pikirku.
Ia punya segudang kebahagiaan yang melengkapi hidupnya. Atau bisa dibilang, segudang kebahagiaan lengkap di hidupnya.
Kadang aku iri padanya.
Tidak. Sering, tepatnya.
Ia punya rumah kecil sederhana yang ia cicil perlahan dengan tabungan miliknya sedari usia tujuh tahun, gajinya sebagai kuli tinta dan tukang potret lepas, dan pinjaman dari orang tuanya.
Ia punya vespa merah. Marun.
Dia rajin memeriksakan kesehatan tubuhnya sekali dalam enam bulan, tanpa absen sekalipun.
Bulan depan ia akan membeli seekor kucing untuk menemaninya tidur saat aku tak ada.
Narpati punya Merpati. Yang selalu menunggunya menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam, sekedar membuat secangkir kopi hangat, hingga akhirnya terlelap sendirinya karena tak kuasa menahan kantuk.
Kalau dipikir-pikir, untuk seorang pria 21 tahun, kurasa ia punya segalanya.
Tapi aku bukan iri dengan rumahnya, atau pekerjaanya, vespa marunnya, buku-bukunya, semua materi yang ia miliki.
Aku iri ia punya orang tua yang lengkap. Seorang ayah yang penyabar, dan seorang ibu yang penuh kasih sayang.
Aku..
“Ngelamunin apa, hayo?” suara itu mengalihkan lamunanku.
“Eh.. Bukan apa-apa kok bu, hehe,” aku menoleh dan memaksa tersenyum. Hari ini Kamis, hari kunjunganku ke kediaman Narpati. Namun berhubung ia sedang liputan di luar kota, aku akhirnya bermalam di ‘rumah masa kecil’ Narpati, menemani ibunya yang kupanggil ‘ibu’.
Ibu mengambil remot televisi sambil memandangku. “Merpati mau cerita apa sama ibu? Mau nanya apa? Wajahmu keliatan kusut gitu,” ucapnya.
Aku berpikir sejenak. Segampang itukah pikiranku tertebak?
“Eeh.. Merpati nanya aja ya bu?” aku ragu-ragu. Ia hanya mengangguk.
“Kenapa ibu sayang banget sama Narpati?” tanyaku perlahan. Aku melihat raut wajah ibu berubah. Antara kaget, heran, dan menahan tawa.
Bodoh memang. Pertanyaan seperti itu adalah sebuah retorika. Seharusnya tak perlu ditanyakan, apalagi dijawab. Tapi entah mengapa aku ingin tahu.
“Nggak ada ibu yang nggak sayang sama anaknya, sayang,” sahutnya. “Seorang ibu sudah menyayangi anaknya secara mutlak, bahkan sebelum ia lahir ke dunia,”
“Memiliki Narpati sebagai anak adalah hal paling luar biasa dalam hidup ibu. Dia anak yang baik. Semua orang bisa jatuh hati padanya dengan mudah,” ia seolah berbicara pada kerah bajuku.
Aku diam saja.
“Dia nakal, tentu saja. Semua anak pasti seperti itu. Karena dia ibu jadi begadang sampai subuh, diopname di rumah sakit karena kecapekan, tensi naik, masakan gosong, jarang nyalon, turun berat badan, nangis sampai lempar-lempar perabotan, banyak. Tapi pada akhirnya dia malah berbalik membahagiakan ibu, tanpa pernah ibu minta,” jelasnya dengan berbinar. Aroma nostalgia terasa kuat menguar.
“Menjadi seorang ibu itu bukan sebuah tugas, tapi panggilan hati dan jiwa. Ibu nggak pernah berbuat sesuatu dengan tujuan agar Narpati akan membalasnya suatu saat. Ibu cuma pengen dia bahagia,”
“Dan ngelihat kamu di sini, sebagai salah satu sumber kebahagiaannya, ibu bahkan ngerasa lebih bahagia lagi,” ia melihatku dengan mata yang tersenyum.
Tapi aku tidak membalas. Tidak juga menggubris kalimat terakhir yang diucapkannya.
Aku hanya berangan sesaat,
Andai mama berpikiran sama seperti ibu.

Lantai 1

Ting…

“Carol,”
“Carl.. Selamat pagi,”
“Selamat pagi, Carol. Apa yang membawa anda sepagi ini ke kantor?”
“Yah, cuma menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tersisa kemarin. Lumayan melelahkan,”
“Apa ada yang bisa saya bantu?”
“… Kebetulan sekali. Pekerjaan ini banyak berkaitan dengan divisi anda. Apa anda tidak keberatan?”
“Tentu saja tidak. Lagipula, ini masih setengah tujuh,”
“Baiklah. Oh, sudah di lantai 19. Selamat datang di divisi saya,”

Ting…

Lantai 17

Ting…

“Carol?”
“Hai… Um… Carl?”
“Ternyata anda masih ingat saya. Kita bertemu tiga hari lalu di lantai 21,”
“Tentu saja saya ingat! Anda juga bekerja di sini?”
“Ya… Divisi saya ada di lantai 23. Jika ada waktu luang, mungkin anda bisa singgah sebentar,”
“Terima kasih, tapi aneh sekali. Saya bahkan tidak mengenali anda. Saya baru saja pindah dari divisi 23 dua bulan lalu,”
“Mungkin anda kurang memperhatikan sekitar,”
“Ya, mungkin saja… Oh, saya harus pergi. Senang bertemu dengan anda lagi, Carl,”
“Senang bertemu anda hari ini, Carol,”

Ting…

Lantai 21

Ting…

“Hai,”
“Um… Hai?”
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Rasanya tidak,”
“Tapi saya pernah lihat anda sebelumnya,”
“Um… Maaf, mungkin anda salah orang?”
“Saya Carl. Boleh saya tahu nama anda?”
“Saya Carol. Maaf, saya harus pergi sekarang. Permisi,”

Ting…

Cerita Merpati: Elang

Aku menemukan diriku terengah dan mulutku menganga di depan kran air siap minum milik perusahaan air minum. Beberapa mililiter air membasahi kerongkonganku yang terasa panas sedari tadi. Dan aku seperti ber ‘ahhh’ kecil. Campuran perasaan lega, senang, dan mengimajikan iklan-iklan air minum yang biasa terlihat di layar kaca.

“Dik. Itu kamu yang berak di sana ya?” suara itu terdengar dari belakang punggungku. Aku menoleh ke arah rumput yang ia tunjuk. Kotoran anjing. Ada beberapa lalat yang menghinggapinya. Aku tidak mau mendeskripsikan benda yang mulai kering itu lebih lanjut. “Kamu kan suka berak sembarangan?” tanyanya lagi.

Aku mengelap keringatku dengan handuk yang aku rampas dari lehernya. “Nggak pernah! Aku nggak pernah pup di rumput!” aku membela diri. Aku masih mengingat memori itu. Saat aku berusia lima tahun, saat mama tidak ada di rumah, dan aku terlalu takut untuk pergi ke toilet. Ia datang saat itu, dan membantuku membasuh pantatku. Aku menangis. Itu pertama kalinya aku buang air besar di celana.

“Tapi di celana pernah kan?” katanya, sambil mendekati kran air siap minum. Aku mencari tempat untuk duduk. Kemudian ia menyusul. Siapa lagi yang bisa mengajakku untuk jogging di pukul empat pagi seperti ini kalau bukan Elang.

Sebelas bulan adalah selisih umur kami. Elang adalah nama burung yang menjadi namanya. Tampaknya Elang benar, papa dan mama memang menyukai burung sehingga menamai kami seperti ini. Aku tak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’ selama tujuh belas tahun aku bernafas. Karena ia lebih layak disebut sahabat dekat. Sahabat satu papa dan mama.

“Sepatuku udah nggak muat. Payah deh milih ukuran. Udah aku bilangin, ukuranku 40, bukan 39,” aku melepas sepatu dengan sentuhan warna merah jambu berlambang tanda centang itu. Itu adalah sepatu pemberiannya enam bulan yang lalu. Katanya, aku harus lebih sering keluar dan berlari, dibanding duduk di sofa dan makan kacang atom. Ia memang senang berolahraga. Hampir semua olahraga ia kuasai. Dari catur, basket, sepakbola, renang, tenis, futbol, dan banyak lagi. “Ya salahmu toh? Udah aku bilangin nggak ada ukurannya, tapi malah ngotot harus yang warna pink. Ulang tahunmu aku beliin deh,” ia rebahan di sampingku.

“Kok bisa kabur dari Narpati? Bukannya kamu nginep kemarin?” tanyanya. Aku menatapnya lebih lama. Ternyata sudah lama rasanya kami tak berbincang seperti ini– enam bulan adalah waktu yang lama, bagiku–dan duduk tanpa ada orang yang mengganggu. Aku memperhatikan garis rahangnya yang tegas, matanya yang tajam, dan rambutnya yang juga tajam bagai jarum. Ia benar-benar mirip papa. “Semalem aku di sana. Tapi kamu ngajakin jogging, ya aku kabur duluan,”

“Dia nggak marah kan, aku mengganggu tidur kalian?” itu sebuah ledekan. Aku tahu itu. “Nggak lah. Kecuali kamu nyulik aku sambil bekap mukaku pake kloroform, mungkin kamu udah dihajar duluan,” aku membanggakan Narpati yang aku tinggalkan saat ia tertidur pulas dan mendengkur halus.

Elang tertawa. “Tante apa kabar?” ucapnya. Aku mendecak kesal. “Elang. Itu mama. Bukan tante,” koreksiku. Ia menyeringai.

“Mama? Perempuan yang nggak pernah ada di rumah dan ngurusin anak-anaknya, itu yang kamu sebut mama? Perempuan yang ngebiarin anaknya pergi begitu aja seolah anaknya nggak ada artinya, itu yang kamu sebut mama? Perempuan yang bisa-bisanya kawin lagi sama laki-laki lain bahkan kurang dari setahun sepeninggal suaminya, itu yang kamu sebut mama? Perempuan yang punya satu ginjal dari orang lain tapi nggak pernah bilang terima kasih, itu yang kamu sebut mama? Bodoh,” ia tidak membentakku. Namun ada nada keras dalam suaranya.

Papaku meninggal dunia saat aku berusia delapan tahun. Saat itu Elang berumur sembilan tahun dan menjadi kakak kelas di sekolahku. Ia kelas lima, dan aku kelas empat sekolah dasar. Aku masih terlalu muda untuk merasakan apa itu kehilangan, namun Elang sudah tahu. Kata mama, papa meninggal karena mendonorkan satu ginjalnya untuk mama yang gagal ginjal. Namun satu ginjal papa tak kuat untuk mencuci semua darah yang mengalir di tubuhnya. Dan ia pergi begitu saja. Saat papa berubah wujud menjadi abu, aku tidak menangis. Aku tidak tahu, aku mati rasa. Tapi Elang marah dengan wajah yang merah dan pipi yang basah. Ia mengutuki mama dengan julukan pembunuh. Mama menangis sambil mendekap Elang, namun Elang meronta dengan sangat keras. Dan aku hanya diam saja. Aku tidak tahu, aku mati rasa.

Dan sekarang pun begitu, aku membisu.

Mama menikah dengan rekan kerjanya–yang belakangan kuketahui adalah teman SMPnya dulu–delapan bulan setelah papa meninggal. Aku masih terlalu muda untuk merasakan apa itu kebahagiaan, namun Elang sudah tahu, dengan cara yang sebaliknya. Ketika resepsi pernikahan, aku didandani seperti bidadari kecil yang lucu. Elang juga terlihat tampan. Mama dan oom–suami baru mama–terlihat bahagia, bersalam-salaman dengan handai taulan dan tertawa. Sementara itu di ruangan belakang, Elang memecahkan semua piring dan gelas kaca sebagai bentuk pelampiasan. Paradoks.

“Dia nggak tahu siapa kita, dik. Dia nggak mau tahu. Dia cuma mentingin kehidupannya sendiri dan suaminya yang doyan senyum-senyum nggak jelas itu. Dia nggak peduli, dik,” ia berucap lirih. Matanya menerawang.

Elang memang sungguh dekat dengan papa. Sedari dulu, papa selalu mengajaknya berkelana berdua.Ia pergi ke tempat-tempat yang indah di Indonesia bersama Elang, ia mengajarkan Elang naik sepeda roda dua dengan sabar, ia menidurkan Elang dengan dongeng, ia memandikan Elang, ia bermain pesawat, kapal, dan mobil mainan dengan Elang, ia menyuapi Elang dengan perkedel kentang yang dicocol kecap manis, ia tertawa dengan Elang, ia memarahi Elang karena berkelahi dengan teman sekelasnya, ia mencium Elang karena ia berhasil menjadi yang pertama yang mencapai garis finish pada kejuaraan lari antar kelas. Ia menyayangi Elang sepenuh hati, sama seperti Elang kepadanya. Tak salah ia mencetak segala miliknya pada diri Elang.

Bedanya, Elang lebih keras walaupun tak pemarah.

Mama memang jarang pulang ke rumah–rumahku dan Elang maksudnya–semenjak setahun terakhir. Ia lebih senang tinggal bersama suaminya, dan kedua anaknya yang lain. Di rumah yang lebih luas tentunya, yang lebih banyak berisi udara penuh kasih sayang. Maka dari itu aku menginap di rumah Narpati setiap pekan. Dan mama, memang tak peduli. Apakah aku menginap di rumah Narpati, tidur dengannya, atau melakukan apapun dengannya, mama tak pernah mau tahu. Untuk itu, kini aku mulai berpikir untuk menambah frekuensi waktuku untuk serumah dengan Narpati. Kalaupun ibu dan ayahnya datang, toh aku juga disambut hangat. Aku merasa berada di rumahku sendiri saat berada di tengah keluarga Narpati.

“Kita udah dewasa, dik. Kita juga punya definisi baik dan buruk menurut kita. Kita juga punya kehidupan sendiri. Okelah kalau dia memang mama kita. Tapi cuma sebatas itu. Nggak lebih,” ia bicara bagai berbisik.

Aku diam saja. Dalam hati aku sangat menyayangi mama. Tapi dalam otak, mama adalah orang asing.

Berbeda dengan Elang yang lebih sering ada di sini untuk mendengar segala keluh kesahku meskipun kami ada di benua yang berbeda–Elang mendalami ilmu kuliner di Prancis. Aku bercerita semuanya, tanpa ada yang ditutupi. Dan ia akan menjawabnya dengan tawa, atau dengan obrolan yang menenangkan.

Aku merasa beruntung masih punya seorang Elang di sini.

Dan aku mulai berpikir, ternyata Elang benar.