Pertanyaan untuk Papa

Hari ini harusnya usiamu bertambah, Pa. Tapi apa guna menghitung usiamu lagi? Rani benci sekali harus tiba-tiba menangis karena lihat kalender beberapa menit lalu. Rani enggak suka sesak terus menerus karena menangis, Pa. Papa juga enggak suka orang cengeng, kan.

Tapi sekali, Pa, sekali saja, biar Rani menangis. Atau mungkin dua kali, tiga kali, atau ratusan, ribuan kali lagi. Rani benci Papa tidak lagi di sini. Biar Rani menangis. Rani enggak kuat. Kemana harus mencari Papa?

Pa, ada banyak sekali cerita selepas Papa pergi. Kayaknya hidup Rani sekarang begitu dinamis dan jauh lebih asyik kalau dilihat dari mata Papa. Pasti Papa suka cerita dari Rani. Tapi kemana Rani harus cerita, Pa? Apa Papa bisa mendengar? Apa Papa bisa menimpali? Rani enggak mau cerita sendirian, Pa.

Seketika lagu “Ayah” dari The Mercy’s yang sering Papa nyanyikan dulu jadi begitu relevan. Aku benci menangis sesak di jam 2 malam memanggili Papa. Papa, apa Papa dengar Rani memanggil?

Pa, Rani begitu putus asa, kemana harus mencari Papa? Rani enggak bisa jawab, apa Papa punya jawabannya?

Pa, Rani kangen… apa Papa punya obatnya?

.

.

.

Sudah 30 menit bergetar dan menangis sesak tidak berhenti,

Denpasar, 2 September 2021