We

Papa pernah hampir mengataiku cewek kafe; istilah yang ia pakai untuk perempuan yang tidak mengenal waktu pulang. Kami pernah bertengkar di ruang tengah rumah, sebab lewat jam dua belas malam aku baru tiba di rumah, masih dengan seragam putih abu. Aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa segala lelah yang kulakukan, hingga kini aku sadar juga sedikit banyak mengorbankan masa-masa SMA-ku yang menyenangkan, adalah untuknya juga. Aku ingin membanggakan Papa.

Papa membiarkanku memilih jalanku. Ia mengizinkanku kuliah filsafat padahal ia tak begitu mau tahu, apakah ternyata filsafat membuatku gila atau menjauhkanku dari Tuhan dan agama. Papa tahu aku suka belajar, Papa paham aku gemar menulis. Papa mengerti apa sesuatu yang ingin kutuju.

Papa selalu menanyakan kabarku lewat Mama. Apakah aku sudah makan, apakah aku telah sampai di kos, apakah kuliahku aman, apakah ujianku bisa kulewati. Gengsi ia berbicara padaku. Tapi aku rasakan kerinduannya padaku tiap kali kami berpeluk cium di bandara, entah ketika aku pulang, entah ketika aku kembali ke Jogja.

Papa sempat tidak mau hadir di perayaan wisudaku. Waktu itu, tak banyak uang yang kami miliki sebagai keluarga. Tapi tiket dan akomodasi sudah terbeli oleh kakakku. Ia tetap ngotot, ia tidak ingin merepotkan siapapun. Sampai akhirnya Mama memperdengarkan rekaman suara dekan pada yudisiumku di auditorium fakultas. Menyebut namaku, nomor induk mahasiswaku, masa perkuliahanku, jumlah SKS, IPK, dan predikatku. “Saya ikut berangkat,” katanya pada Mama.

Papa tidak mau aku pulang ke Bali mengendarai sepeda motor matikku. Bagaimana tidak, ia sempat hampir kehilanganku ketika tubuhku lepas dari gendongannya belasan tahun lalu di tengah Pantai Matahari Terbit. Selamanya aku takut pada air yang dalam, selamanya ia takut kecerobohannya berujung pada lesapnya aku. Papa tak mau kehilanganku.

Papa mengasihiku. Ia rawat bonsai jepun jepang hasil ujian praktikku ketika kelas 6 SD hingga ia tumbuh dengan cantik dan sehat sampai saat ini. Ia lahap habis sambal terasi matang buatanku. Ia cubit pipiku ketika aku bersiap menyeberang jalan, menuju ke salon untuk potong rambut di hari ulang tahunku ke-23.

Papa percaya pada kemampuanku. Ia tahu aku bekerja pada bidang yang ia tekuni dulu. Ia paham bahwa aku harus pergi dari kantor lamaku. Ia doakan aku selalu. “Asal kamu jujur dalam bekerja, pasti hasilnya baik,” begitu katanya. Itu nasehat terakhirnya untukku.

Aku tak pernah memahami bagaimana rasanya menjadi Papa. Yang di tengah segala keterbatasan hidupnya, rela mengusahakan apapun untukku. Waktu aku kecil, aku pernah melihatnya makan hanya dengan nasi, garam, dan cabai. Sedangkan aku masih makan dengan lauk yang nikmat dan lengkap. Ia tak bolehkanku bekerja ketika kuliah, padahal diam-diam aku melakukannya. Ia berusaha menyisihkan uang pensiunnya yang tak seberapa ketika gajiku dipotong karena kantorku terkena imbas pandemi. Ini belum termasuk daftar hal yang ia lakukan ketika aku kecil. Papa usahakan segala yang terbaik untukku.

Aku yakin Papa paham bahwa aku begitu mengasihinya. Dan menonton video musik “We”, membuatku terpikir bagaimana ia menjalani hari-hari menjelang perkuliahanku, juga ketika aku sedang menekuninya dengan asyik. Di tempat yang jauh, tempat yang membuatku kenal segala rasa yang belum pernah kukecap, melakukan hal-hal yang mungkin tak pernah ia sangka.

Papa tahu aku akan menjadi seseorang, setidaknya untuk diriku sendiri. Ia percaya padaku. Dan aku percaya padanya.

Pa, Rani kangen. Maaf Rani masih sering nangisin Papa, padahal Papa enggak suka lihat orang nangis. Rani cengeng lho, Pa. Tapi Rani janji, Rani akan bikin Papa bangga. Jaga Rani dari sana ya, Pa.

Denpasar, 5 Juli 2021

2 thoughts on “We

  1. Hi there, I don’t know you but I’m sure your Dad is looking down at you proudly at all times. What a very well-written blog too – but I guess you’ve heard such compliment way too many times. Salam kenal! :)

    1. Hello, there. Amen for the wish, I hope he really is! Also, thank you so much for reading my online not-so diary and for the compliment! This warms my heart, really. Salam kenal dari Rani :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s