Setahun, Pulang

Entah tol apa namanya, menuju Jawa Timur, 2019.

Setahun lalu, pada waktu-waktu ini, aku masih terduduk lemas di dalam bus merah Gunung Harta. Bus yang mengantarkanku pulang kembali ke Bali setelah menghabiskan empat tahun yang sepenuhnya penuh di Yogyakarta.

Hancur, tentu. Masih teringat betapa aku menangis sambil melihat pemandangan di luar jendela sembari “Lagu Pejalan” milik Sisir Tanah berputar di telingaku berulang-ulang. Lagu yang bangsat sebab ia membuatku tegar sekaligus membeberkan kerapuhanku. Namun, tak kurang dari 24 jam setelahnya, aku tiba di rumah. Memaksa kata “pulang”. Masa merantau sudah lewat, seperti cinta yang juga sudah lewat (hahaha, Kahitna banget nih?).

Pulangkah aku? Rumahkah tempat ini ketika keluargaku tak lengkap menghuninya? Kembalikah aku saat semuanya tampak begitu asing? Mudikkah aku ketika semuanya terasa kurang? Lalu Kak Dece sempat bilang padaku, bahwa ia butuh waktu satu tahun untuk melepas “mental Jogja”-nya ketika harus berhadapan dengan realitas di kampung halaman, di Bali. Satu tahun! Apa tidak gila? Apa aku akan sanggup?

Namun, seperti kata Silampukau, waktu memang jahanam. Pada akhirnya, orang-orang berubah. Rencana dan prioritas berubah. Dunia berubah. Aku berubah. Semuanya berubah. Hal-hal yang kupikir tidak akan bisa kulalui toh ternyata berlalu juga (walaupun entah aku berhasil menyintasinya dengan baik atau tidak). Kini satu tahun lewat sudah. Pulangkah aku?

Sepertinya kini sudah aman untuk mengatakan bahwa aku telah pulang. I am home. More than I ever thought. More than I ever imagined that I could feel a home as homey as I have, as I feel, right now.

Aku memang tidak butuh setahun untuk meratapi kepergianku dari Jogja. Tapi hari ini tetap spesial, sama seperti hari ini di tahun lalu. Hari ini adalah momentum untuk mengenangkan perjalanan pulangku. Sebab pulang bukan melulu perihal perpindahan dari suatu tempat menuju rumah, melainkan juga apa yang ditemui di sepanjang perjalanan itu. Apakah dalam perjalanan itu, kita benar-benar menuju rumah? Apa itu rumah?

Di atas Tol Bali Mandara sore ini, di perjalanan pulang dari kantor, dari kejauhan, kulihat sebuah pohon menyembul, satu-satunya pohon yang terlihat setelah aku memasuki gerbang tol. Sejak dulu, aku selalu suka imaji pohon besar dan langit, dan tentu pohon ini menarik perhatianku. Cahaya matahari sore begitu kuning, terlihat banyak layang-layang melayang di atas ranting pohon itu bak lalat-lalat buah yang menari di atas buah yang ranum. Jalanan lengang, “Lagu Ibu” milik Gardika Gigih mengalun pelan di telingaku.

Betapa sore tadi sederhana tapi indah sekali. Sore yang layak dikenang sebab ia adalah penanda bahwa hidupku, satu tahun setelah kepulanganku ke Bali, sudah jadi terlampau banal. Itu-itu saja. Biasa saja. Dan aku menerimanya, aku mensyukurinya, aku merayakannya, aku memaknainya dengan sungguh-sungguh. Aku menghidupinya.

Mungkin itu yang membuat perjalananku sore ini menyenangkan. Mungkin itu yang membuat perjalanan pulangku menuju rumah selama setahun ini begitu berharga; sebab aku mencoba merayakannya dengan sepenuhnya aku. Mungkin itu yang menjadikan rumahku, sebuah rumah. Ia terbentuk dari irisan-irisan buah pikiran yang berbenturan di sana-sini di sepanjang perjalanan pulang. Campur aduk tetapi tetap membutuhkan wadah.

Lagipula, rumah tak cuma ihwal hunian, kan? Ia bisa mewujud apa saja. Kini tinggal bagaimana kita memaknainya saja. Dan kita akan gunakan seumur hidup kita untuk melakukannya.

Jl. Cokroaminoto, lekat dengan ingatan masa kecilku berkeliling kota sekeluarga dengan vespa, yang kerap diakhiri dengan makan terang bulan cokelat kacang (atau keju, kalau sedang banyak uang), 2020.

Denpasar, 7 September 2020