Dua Jam di Ancut Garden

Setelah separuh tahun diisi dengan berbagai ajakan dari Lena untuk kemari. Setelah berkenalan dengan Silvina di Alila Villas Uluwatu. Setelah tersadar bahwa tanggung jawabku di kantor semakin banyak dan berat. Akhirnya, hari ini aku mengunjungi Ancut Garden milik Yayasan Emas Hitam di Petulu, Ubud.

Datang terlambat karena jalanan yang ternyata cukup ramai. Berkenalan dengan Kadek dan semua orang, lalu menenangkan diri bersama di sebuah bale raksasa yang berangin. Berkeliling, bertukar informasi, membandingkan dengan kebun di kantor sendiri (lalu mengeluh soal gagal panen kami karena sapi dan monyet memanennya duluan, hahaha). Memanen kunyit, kelor, bayam, cabe, terong, dan kawan-kawannya. Makan pepaya hasil kebun yang manis sekali. Menyiangi rumput-rumput yang hidup bersama kunyit. Meletakkan mulsa di atas tanahnya. Membersihkan lumpur yang lengket dan lama-lama mengeras di alas sandal. Dua jam di Ancut Garden menambah suplemen di otakku terkait relasi manusia dalam ekosistem.

Permakultur mungkin suatu hal yang sudah dilakukan oleh banyak petani di desa-desa di Bali, ketika bahkan mereka tak tahu dengan istilah itu. Namun, adanya permakultur sebagai payung pengetahuan dan teknik agrikultur/kultur dapat membantu kita memahami posisi manusia dalam alam semesta. Bahwa di atas bumi ini, manusia hanyalah suatu organisme; tiada lain dengan belalang dan terong. Yang membedakan tiap-tiap kita cuma perkara tingkat kompleksitas biologis saja–tolong koreksi jika aku salah ya. Ada banyak hal yang memudahkan kehidupan kita jika kita mampu bekerjasama dengan berbagai komponen ekosistem, biotik dan abiotik. Hal itu harus dimulai dari pengakuan dan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari alam.

Sebenarnya ada banyak sekali yang mau kubicarakan soal permakultur. Aku memang tidak pernah (atau belum?) terlibat dalam Permaculture Design Course, tetapi aku merasa mengalami beberapa pergeseran pandangan soal hidup oleh karenanya (halah lebay deh, tapi beneran). Berkenalan lalu belajar melalui ragam praktik permakultur di kantor membuatku merasa semakin kecil dan alam begitu raya. Dan begitu serakahnya manusia hingga ia berpikir bahwa ialah penguasa alam; bahwa ia merupakan entitas yang terpisah dengan alam.

Namun, bukankah kita kerap merasa begitu? Terutama kaum urban, bukankah kita menganggap diri “kembali ke alam” ketika melihat hamparan sawah atau bukit dan hutan? Bukankah paradigma kita atas koneksi manusia dengan alam, membuat kita harus mencari “alam” ke tempat lain? Bukankah kita bagian alam? Apakah itu alam?

Duh aku ngantuk sekali. Capek. Cerita soal ini kapan-kapan aja, ya. Janji deh.

Denpasar, 20 Juni 2020