Pelan-pelan

Pagi ini aku terbangun dengan lega sebab sakit kepala dan mual yang melandaku beberapa saat sebelum pulang kerja kemarin akhirnya reda. Mandi pagi ini terasa menyegarkan sekali, airnya cukup dingin karena subuh tadi hujan begitu deras. Tabir suryaku habis, kuketuk pintu kamar Mbaina, kuminta miliknya. Lalu ia menanti ojeknya datang, memanggil Kubi yang terperangkap di dalam kamar sambil menyembulkan kepalanya dari balik jendela. Kami akhirnya berangkat di waktu yang bersamaan, tapi aku berkendara dengan motorku sendiri.

Aku mampir ke Pasar Pohgading karena aku harus membeli setengah kilogram kunyit untuk jamu. Aku akan bikin sedikit jamu bersama Bu Jero, Jumat besok. Oh ya, sudah lama sekali rasanya tidak pergi ke pasar, dua bulan sudah berlalu. Namun, pasar tidak terlihat bedanya. Pasar ini tetap ramai, ibu-ibu tetap sibuk dengan belanjaannya, anak-anak tetap merengek dibelikan mainan plastik murah. Sementara kran air dan sabun cuci tangan yang berdiri di dekat pintu masuk tidak selaku daging ayam yang dipotong-potong di bagian pangkal paha.

Daftar putar laguku di Spotify memutar “Night Fever” milik Bee Gees, diikuti “In My Life” dari The Beatles. Salah satu daftar putar harian kesukaanku karena berisi lagu-lagu lawas. Hari ini mendung. Aku putuskan untuk melewati rute Sesetan-Tol Bali Mandara karena sudah lama aku tidak melewatinya ke kantor. Sebelum itu, aku mampiri penjual nasi bungkus dan kue-kue tradisional di tepi jalan, tempat aku membeli nasi ketika bersama Mama menunggui Mbaina menjalani operasi pengangkatan kistanya bulan Desember lalu. Dua bungkus nasi jinggo dan dua bungkus krupuk kentang pedas manis kukantongi. Aku baru sadar seharian kemarin cuma makan satu kali.

Gerombolan pesepeda berhenti di tepi jalan menuju Pelabuhan Benoa, mereka berfoto bersama. Senang mengingat bahwa semenjak bulan ini, aku bersepeda sore sebagai bagian dari rutinitasku. Sepeda kuning yang harganya murah jika dibandingkan sepeda lain, tetapi butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Kunamai ia Pingai, nama yang kudapat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sepeda yang kuat karena telah bersama-sama denganku menghadapi bapak-bapak mesum dengan maskulinitas super rapuh di Jalan Kenyeri. Mungkin kapan-kapan aku akan coba bersepeda ke sini, seperti yang kulihat di Instastory Henok bersama kawan-kawannya di Bhineka Muda. Gila juga sih kalau dipikir-pikir, mengingat jarak rumahku ke Pelabuhan Benoa adalah 17 kilometer.

Jalan tol sepi sekali. Rasanya cuma motorku saja yang melaju di ruas kiri. Langit mendung. Aku melihat beberapa sampan mengapung dengan 2-3 orang di atasnya, ngobrol sambil memegang pancing. Terpikir bagaimana manusia-manusia ini harus menghadapi raksasa-raksasa manusia lainnya yang memperebutkan Teluk Benoa, tentu dengan kepentingan yang berbeda. Sementara pembangunan terus berlangsung, mereka tetap mengapung di atas lautan, di bawah beton-beton jalan tol.

Aku tiba di kantor sekitar dua puluh menit kemudian. Bulir rintik hujan mengenai kacamataku. Sepi, aku datang paling awal pagi ini. Duduklah aku, membalas beberapa pesan yang tak kubalas karena semalam aku hanya tergolek lemas di kasur tanpa membuka banyak aplikasi di ponsel. Laptop kunyalakan. Pak Miting lalu datang memberiku daftar harga material yang digunakan untuk membangun atap area manajemen sampah di bagian bawah kantorku. Aku ngobrol sebentar dengannya, terutama rencananya untuk ikut memborong proyek ini bersama Pekak di akhir pekan. Aku mengangguk, aku paham bahwa kita semua butuh uang tambahan di masa-masa sulit seperti ini.

Kuisi daftar target pekerjaanku hari ini di Google Sheet. Setelah ini aku akan mengecek kebun yang sedang kami garap bersama. Kukontak seseorang yang biasa mengirimkan kotoran kuda untuk kompos ke kantorku, katanya akan dikirimkan dua minggu lagi. Kemudian teringat bahwa semalam, di tengah rasa mual perutku dan perihnya mataku, aku membuka sebuah blog pasangan suami istri muda Jakarta yang begitu hangat dan sederhana. Membuka sebuah toko buku, bisnis yang menyenangkan dan sesuai dengan apa yang mereka senangi. Menghabiskan hari-hari yang malas dan padat bersama-sama. Aku malah membaca ulang blog itu lagi, lalu rasanya hangat sekali.

Akhir-akhir ini hidup terasa cukup berat. Beban pekerjaan membuat pening. Waktu-waktu luang sering terbuang hanya untuk membalas dendam untuk tidur. Kepala penuh dengan pikiran-pikiran untuk melakukan hal-hal besar. Harapan untuk melanjutkan sekolah terasa semakin jauh, padahal itu tujan utamaku selepas lulus kuliah. Aku sedikit iri dengan teman-temanku yang bekerja untuk membaca atau mereka yang masih berstatus sebagai mahasiswa sehingga bisa membaca artikel-artikel jurnal setiap harinya. Berdebat akan hal-hal terkini di media sosial. Adu argumen dengan kawan lainnya. Mengutarakan pendapat ke tengah khalayak. Sementara aku sudah kehabisan daya untuk melakukannya. Sementara aku tak boleh hanya memikirkan “tabungan” untuk diri sendiri.

Langit masih mendung. Album Dream, Hope & Faith milik Monita masih mengalun terus menerus. Aku menengok dari balik jendela ruanganku yang cuma diisi aku sendiri hari ini. Tenang. Dedaunan bergerak pelan tertiup angin.

Mungkin ada hal-hal yang tak bisa dan tak perlu dipaksakan, Ran. Mungkin beberapa rencana besarmu harus digubah menyesuaikan keadaan. Bagaimana kalau mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi setiap harinya? Bagaimana kalau fokus terhadap hal-hal yang bisa dijangkau dan mengusahakannya dengan sebaik mungkin? Bagaimana kalau memperhatikan ke sekeliling dengan lebih seksama, lihat apa yang bisa dilakukan dari sana? Bagaimana kalau jangan begitu keras dengan dirimu sendiri? Mengapa harus merasa bersalah karena menggunakan waktu untuk tidur dan beristirahat?

Mungkin, yang perlu dilakukan cuma mengerjakan hal-hal satu per satu. Kecil juga tak apa. Toh khawatir berlebih juga tidak sehat untuk jiwa raga.

Mimpi-mimpi dan harapannya harus tetap dirawat ya, Ran. Nanti kita akan ke sana di waktu yang paling tepat. Pelan-pelan.

 

 

Sawangan, 27 Mei 2020

Tumbuh

Sawangan, 2020

Malam kemarin, aku pergi tidur dengan satu pertanyaan: “Kalau besok aku mati, apa yang akan terjadi?”

Malam ini, aku pergi tidur dengan satu keyakinan: “Kalau besok aku masih hidup, akan kugunakan dayaku untuk terus berjuang.”

Semoga hidupku terus berjangkar pada upaya memanfaatkan diri untuk sekitar sembari terus menjelma “diri” tersebut. Untuk terus belajar, untuk terus berbagi, untuk terus bertumbuh.

.

.

Denpasar, 19 Mei 2020 seusai menuntaskan Dark Waters (2019).