Yang tak suah habis

Badung, 2020

Sementara tiga lelaki merangkai bunga, pekat jatuh di keningmu. Kau berjalan, dunia berputar, hidup berlangsung. Sesekali tersungkur lalu isak pecah begitu sunyi begitu sedu. Pagi tidak pernah bersembunyi. Tidak juga pernah tergesa. Mimpi dan igau masih endap di relung renung. Ke mana hendak berlari, mengapa harus berlari. Bukankah duka bagian dari kita. Ataukah kita yang mencipta ia hingga habis ranggas kita dibuatnya.

 

 

Denpasar, 29 April 2020

Lingkaran Pisang

Kemarin siang, kami baru saja mulai menyiapkan kebun komunitas di lahan yang masih kosong di kantor. Lingkaran pisang adalah hal pertama yang kami kerjakan. Jongkoklah kami dengan linggis dan sekop di masing-masing tangan. Matahari cukup terik tapi angin juga sedang bersahabat. Dari dalam ember, ponsel lawas Pak Ketut memperdengarkan siaran radio yang memutar lagu-lagu pop berbahasa Bali, dengan obat kuat sebagai pariwaranya.

“Saya ingat dulu di kantor lama juga gali-gali begini untuk bikin banana pit dan garden bed. Tahun 2007. Rani tahun segitu kelas berapa?”

“Hmm… 2007 kayaknya saya masih kelas 5 SD sih, pak.”

“Hah? Kelas 5? Tahun 2007 Rani masih kelas 5 SD dan sekarang udah jadi manajer. Sedangkan saya tahun 2007 berurusan sama kebun, sekarang masih gali-gali tanah juga. Hahaha.”

“Aduh, Pak Ketut! Jangan nae ngomong gitu. Kalau nggak ada Bapak buat ngerjain kebun, ROLE nggak akan ada, dan otomatis saya nggak bisa kerja di sini dong. Justru Bapak yang banyak perannya.”

Dia masih tertawa. Aku juga tertawa, dengan perasaan bersalah yang luar biasa–salahkah aku?

Betapa beruntung hidup dengan keistimewaan yang membuatku pelan-pelan mampu menaiki tangga sosial. Sementara ada banyak orang di luar sana yang, mau tidak mau, tetap berdiri di anak tangga yang sama sekeras apapun mereka berusaha. Bahkan kerap kali tangga tersebut tidak tersedia sama sekali untuk mereka. Struktur ini memiskinkan yang miskin, memperbudak yang tampak bebas, dan semakin menjaga mereka yang sudah aman dan nyaman.

Aku harus terus belajar. Aku harus terus gelisah dan marah. Aku mesti gunakan segala dayaku; pengetahuan, materi, waktu, energi, apapun, untuk mereka. Aku selalu punya daya itu–Rani, kau punya daya itu dan itulah yang harus kau manfaatkan!

Sementara itu, Pak Ketut tetap membongkar tanah gamping di hadapannya, menggali sebuah lingkaran. Besok akan kita tanam pisang, pepaya, dan ketela di sana. Juga harapan dan semangat baik. Kita tahankan air untuknya tumbuh, kita penuhkan kompos untuknya subur. Kita usahakan segala kebaikannya. Kelak akan kita tuai hasilnya. Bersama-sama.

 

 

Di sela-sela kerja dari rumah, di Hari Bumi

Denpasar, 22 April 2020

Di Atas Perahu

Celukan Bawang, 2019.

Aku sudah tidak lagi peduli untuk menghitung telah berapa hari kuhabiskan di rumah. Siang ini mendung. Hujan deras mengguyur diikuti guruh gemuruh. Kubi melingkarkan tubuhnya di balik gorden, ketakutan dalam kantuknya. Sementara aku duduk di atas kasur, menatap layar laptop dengan perasaan yang entah apa namanya.

Harusnya aku bekerja. Harusnya aku menggarap materi pelatihan. Ada belasan modul yang belum kuselesaikan. Tapi aku tidak bisa berpikir jernih. Dan aku sudah tidak mampu menghitung telah berapa lama kuhabiskan waktuku dengan perasaan seperti ini.

Mungkin aku rindu Mama. Kamis lalu ia melapor, sudah beli 25 kilogram beras dengan uang kirimanku. Dengan begitu, ia tidak perlu bolak-balik ke warung untuk beli beras, seperti biasanya. Aku masih sedikit berharap agar sisa uang yang kukirimkan bisa digunakan Papa untuk beli sandal baru. Pengganti sandal yang begitu setia menemaninya berkebun di tegalan hingga berlubang di bagian tengah alasnya. Tapi kalau tidak juga tak apa. Aku tahu Papa begitu malas pergi ke kota, sekalipun untuk membeli kebutuhannya sendiri.

Mungkin aku kesepian. Entahlah, akhir-akhir ini aku begitu merasa sendiri. Padahal aku selalu mencoba mengobrol dengan teman-temanku, setiap hari. Tidak tahu, perasaan ini begitu asing dan menyesakkan. Kosong tetapi sesak. Aku tidak tahu. Aku tidak paham apa namanya. Aku sungguh tidak tahu.

Aku melihat ke arah jendela. Semuanya begitu kelabu, gelap. Apakah itu warnaku sekarang? Tidak tahu, sekali lagi, aku benar-benar tidak tahu.

Dingin. Kuganti mode pendingin ruangan kamar kakakku, mode hujan kah namanya? Kaki-kakiku saling menggosok satu sama lain.

September tahun lalu, aku baru sepenuhnya sadar akan salah satu ketakutan terbesarku dalam hidup: ketidakberdayaan. Kesadaran itu kudapatkan ketika aku baru saja pulang ke Denpasar dan melihat kawan-kawan Balairungku begitu bersemangat untuk meliput aksi Gejayan Memanggil. Aksi itu, beserta orang-orang yang berpartispasi di dalamnya, mendapatkan setinggi-tingginya hormatku. Dan aku tidak ada di sana. Aku tidak bisa melakukan apa-apa sementara semua temanku melakukan sesuatu yang berarti. Saat itu, aku cuma pengangguran yang kebingungan dan kikuk di kampung halamannya. Aku tidak berdaya. Dan aku begitu takut kalau-kalau aku sungguh tak berdaya untuk seumur-umur hidupku.

Sekarang aku merasakannya lagi. Aku masih merasa tak melakukan apa-apa. Tepatnya, tidak mampu melakukan apa-apa. Semuanya bergumul di kepalaku. Dan aku tak bisa mengeluarkannya. Aku tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya. Pandemi ini seolah-olah merusakku pelan-pelan.

Aku rindu keluar rumah tanpa rasa was-was. Aku rindu bagaimana ibu-ibu penenun di kantor menyapaku setiap pagi, bukan dengan pertanyaan apa yang bisa dimakan esok hari sebab mereka semua kini sedang dirumahkan. Aku rindu nasi jinggo Wisata dan capcay Taman Baca Kesiman. Aku rindu sesi ngopi akhir pekan di Bhineka Muda, atau hangatnya arak yang kuteguk bersama teman-teman Akasia. Aku rindu perjalanan pulang-pergi Ubung-Nusa Dua sambil mendengarkan podcast yang membuatku tertawa terbahak-bahak di atas sepeda motor–sebab aku tak merasakan apa-apa ketika aku mendengarkannya tadi pagi sambil mencuci piring. Aku rindu diriku yang berdaya.


Aku berkenalan dengan Haikal Azizi alias Bin Idris pada 2016 melalui lagu-lagunya di SoundCloud. Walaupun Sigmun sudah lebih dulu naik daun pada tahun sebelumnya, aku merasa lebih familiar dengan “Rebahan”, “Laylat Al Qadr”, atau “Angin dari Timur” daripada “Ozymandias”. Beberapa bulan kemudian, ia merilis album penuh perdana dengan namanya sebagai judul, sesaat setelah aku mewawancarainya–entah mengapa kami menulis judul album tersebut sebagai Dalam Wangi, aku sungguh lupa.

Aku mengagumi kemampuan Bin Idris dalam menulis lirik dan memilih notasi gitar untuk mengiringi lirik-lirik tersebut. Sejak awal, lagu-lagunya, bagiku, begitu spiritual dan eksistensial, kalau tidak bisa dibilang religius. Dan tahun lalu, aku menekuni albumnya lagi dalam keadaan patah hati sehingga beberapa kali aku menangis sambil mendengarkan “Temaram”. Beruntung aku masih bisa mengantongi cakram padatnya di perhelatan Cassette Store Day Bali, Oktober lalu.

Siang ini, sambil menatap ke luar jendela, Spotify memutarkan “Di Atas Perahu” milik Bin Idris untukku. Dan aku cuma terdiam, lalu perasaan yang entah apa namanya itu, memukul-mukulku dari dalam. Sakit sekali. Aku ingin muntah, tetapi tak paham apa yang harus kukeluarkan.

Lalu aku mendengarkannya lagi saat ini, ketika aku menulis. Perasaan itu buncah kembali. Dan aku… menangis. Hangat, air mataku hangat menuruni sudut-sudut mataku, menuju telingaku. Aku masih tidak tahu perasaan apa yang menghampiriku ini, dan ia belum ingin beranjak pergi.

Betapa aku begitu sendiri dan tidak berdaya. Aku cuma bisa berdoa… untuk keselamatan Mama dan Papa, keluargaku, teman-teman yang kusayangi dan menyayangiku. Untuk kebahagiaan mereka. Sungguh aku ingin kita (ya, termasuk kamu yang sedang membaca ini) bisa melewati semua ini dengan keadaan sehat dan waras.

Sendiriku masih mengambang di atas perahu. Angkasa begitu raya dengan susunan bintang yang tak bisa kuhapal letak masing-masingnya. Di tengah lautan yang luas dan gelap, kuakui ketakutanku sebab aku tak mampu berenang. Namun, jika aku harus mati, sekarang atau nanti, entah di atas perahu ini, atau karena gelombang besar menelungkupkan perahuku, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku begitu peduli dan mengasihi tiap-tiap mereka yang kusebut sebelumnya.

Enyahlah pilu, pilu, pergilah lekas….

Celukan Bawang, 2019.

.

.

Denpasar, 7 April 2020