Catatan Klinik Pengkolan Jalan

Sore ini, di SPBU Jalan A.Yani, aku minta bantuan seorang bapak sopir Grab untuk menghidupkan sepeda motorku dengan starter kaki. Bertahun-tahun berkendara dengan sepeda motor, aku tidak juga sanggup membuatnya berdiri dengan standar ganda. Syukurnya motorku berhasil hidup. “Suksma, pak,” ujarku padanya yang langsung melengos pergi. Sepertinya dipanggil-panggil aplikasi di ponselnya.

Tujuanku sore ini adalah klinik yang berada tepat di persimpangan Jalan A.Yani dan Jalan Ken Arok, Denpasar Utara. Tidak jauh dari rumahku, mungkin cuma sepuluh menit. Aku hendak memeriksakan jari-jari tangan kiriku ke dokter kulit. Sudah hampir dua bulan ke belakang mereka memerah, gatal, perih, dan mengelupas setelah kontak dengan sabun pembersih. Biasanya minyak kelapa murni mampu untuk meredakan rasa gatalnya, tapi kali ini aku sudah tidak tahan lagi.

Ini pertama kalinya aku pergi ke sini. Ruang resepsionis sekaligus ruang tunggunya tidak terlalu luas. Hanya ada dua belas buah kursi, satu di antaranya sofa panjang yang bisa mendudukkan tiga orang. Sebagian besar yang tengah duduk adah orang-orang tua. Terlihat lesu dan lemah. Tidak semuanya menggunakan masker.

Driki kosong, bu?” tanyaku kepada seorang ibu berusia lanjut berkaos toska, sambil menunjuk ke tempat duduk yang kosong di sebelahnya. Ia tegakkan kepalanya untuk melihat ke arahku dan hanya mengangguk lemah. “Suksma,” bisikku. Aku jadi merasa bersalah harus mengganggunya.

Hampir satu jam berlalu, aku masih duduk mengantri. Seorang bapak datang dan duduk di sebelahku. Lalu ia batuk cukup keras tanpa menutup mulutnya. Untunglah aku pakai masker, ujarku dalam hati. Ibu berkaos toska tadi dipanggil oleh resepsionis, seorang bapak tambun menghampirinya dan membantunya berdiri. Mungkin suaminya. Mereka berlalu ke ruang periksa. Aku masih terdiam dan mengoleskan minyak angin ke area mata kakiku yang digigiti nyamuk. Ada banyak nyamuk di sini.

Berada di tengah orang-orang sakit membuatku berpikir betapa rayanya menjadi sehat. Aku teringat Papa dan Mama di Sukasada, syukurnya mereka selalu berkabar baik. Gonjang-ganjing dunia karena virus korona membuat semua serba tak aman dan tak pasti. Aku mengkhawatirkan kesehatan keluarga dan teman-temanku, apalagi mereka yang berada jauh dariku. Aku mungkin merasa tubuhku cukup sehat sekarang, jauh berbeda dengan pekan lalu ketika aku demam dan bersin-bersin selama dua hari. Apalagi, saat itu bertepatan dengan terbitnya berita bahwa pasien korona pertama yang meninggal di Indonesia adalah WNA asal Inggris yang dirawat di Bali. Rasa-rasanya aku ingin menukar kesakitanku dengan kepastian bahwa aku baik-baik saja.

Aku sudah pulih dari demamku tetapi aku tetap merasa kepalaku pening dan penuh. Pikiranku tidak bisa diam. Aku sudah mulai bekerja dari rumah tetapi otakku tetap memerintahkanku untuk melanglang buana, mencari tahu kabar terbaru soal korona. Dan itu sejujurnya melelahkanku. Aku bahkan tidak bisa fokus dengan pekerjaanku sendiri. Jika aku tidak mencari kabar, aku akan ketinggalan. Jika aku mendapatkan kabar tersebut, aku malah pening sendiri. Semua serba salah, serba dilematis.

Aku jadi ingat pesan Om Saylow ketika kami sempat bertukar sapa via pesan pribadi di Instagram beberapa hari lalu. Katanya, dia “diamah kala sasih kesanga” yang menyebabkannya kecelakaan tunggal di jalan raya. Aku sangsi, jangan-jangan aku juga dimakan kala? Dia tanya, apakah aku terluka, dan aku cuma bilang bahwa aku begitu khawatir dan takut dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Lalu dia bilang, “Nengil gen jumah, bedik tawang bedik inguh. Tahu secukupnya aja, buat kita ambil keputusan.”

Om Saylow benar, mungkin aku cuma perlu tahu secukupnya saja. Mungkin aku harus membatasi diriku sendiri untuk mengetahui hal-hal. Dan ya, aku harus akui, kemampuanku untuk membatasi diri pun bisa disebut sebagai privilege karena mungkin para wartawan dan tenaga medis mau tidak mau harus berurusan dengan ini sepanjang hari. Namun, sepertinya aku harus menggunakannya selagi bisa.

Walaupun begitu, aku masih akan tetap menunggu dan mencari kabar dari orang-orang yang aku pedulikan. Aku berharap keadaan akan segera membaik. Semoga kita senantiasa sehat. Terutama mereka yang tidak punya pilihan lain selain berada di luar rumah dan bertemu kerumunan untuk menyambung hidup.

Ah, namaku sudah dipanggil. Semoga kulitku tidak kenapa-kenapa. Curigaku mereka cuma enggak kuat dengan sabun cuci piring dan deterjen yang kupakai.

 

 

Denpasar, 19 Maret 2020