Sembilan Belas Keduabelas

“Rani, Rani. Baru aja kemarin malem kamu bilang kalau kamu udah punya pacar selama tiga tahun belakangan. Setelah itu Mama sembahyang, tadi pagi juga, bahkan ini Mama lagi di dapur pun tetap doain kamu. Tahu apa yang Mama bilang pas berdoa?

‘Ya Tuhan, jika dia jodoh anakku, maka lancarkanlah. Jika tidak, berikan jalan.’

Terus sekarang, sepagi ini kamu telepon buat bilang kamu putus kemarin malem. Itu artinya apa, Rani? Artinya dia bukan jodoh kamu. Udah, ya? Selesai, ya? Jangan nangis kayak gini terus, ya? Hush, hush.

Hari ini Purnama. Coba kamu ke pura, tenangin dirimu di sana, sembahyang.”

 

Kata-kata itu meluncur dari mulut Mamaku via sambungan telepon, kudengar sambil terisak tidak karuan di kamar kos, tepat setahun lalu. Mungkin kini kalimat-kalimat itu akan terlihat begitu klise, bahkan menggelikan. Namun, ketahuilah, ketika aku mendengarkannya di telinga kananku waktu itu, hal yang kupikir hanyalah betapa tulusnya Mama dan betapa durhakanya aku sebagai seorang anak. Menuliskannya seperti ini pun sejujurnya membuatku kembali merasakan betapa luar biasa sakitnya diriku saat itu. Di titik itu pula aku sadari bahwa kata “sakit hati” memang benar adanya, secara harfiah. Sakitnya betul terasa di dada. Sesak yang membuncah, mengoyak dari dalam.

Dan ya, benar kuturuti anjuran Mama setelah itu. Aku berangkat ke Pura Jagatnata di Banguntapan, Bantul, setelah entah sekian lama aku tak menginjakkan kaki di sana. Terasa asing memang, dan aku bertanya dalam hati, “Masih pantaskah aku berada di sini hanya untuk menenangkan diri atau mereguk tirta?” Lalu aku tersedu seperti bayi di sana. Aku kesakitan. Kelak akan kuketahui bahwa aku menjadi lebih sering berkunjung ke sana ketika Purnama dan Tilem tiba, atau ketika diri merasa ingin bertegur sapa dalam hening dengan entah siapa.

Sebenarnya aku masih tidak menyangka bahwa satu tahun berlalu dengan begitu cepatnya (dan begitu kurang ajarnya). Namun, aku selalu menemukan hal menarik di tanggal 19. Kadang aku tiba-tiba menyadari bahwa, “Aku sudah melalui sekian bulan semenjak patah hatiku dan, wah, aku masih hidup.” Atau, beberapa tanggal 19, kalau aku tak salah ingat, juga bertepatan dengan Purnama.

Kali ini, tanggal 19 keduabelas ditandai dengan Galungan. Hari raya yang dipercaya umat Hindu Bali sebagai peringatan atas menangnya dharma melawan adharma. Dan setidaknya sekarang aku sudah bisa mengatakannya dengan bangga, kalimat yang kutulis di akhir tulisanku sebelumnya: aku mungkin kehilangan Unies, tapi aku berhasil menemukan diriku sendiri. Jadi ya, aku menang sebab aku meraih hal yang jauh lebih baik. Aku menang.

Selamat, Rani. Lihat apa saja yang sudah kau lalui selama setahun ini? Lihat betapa kau berani memperjuangkan seseorang yang kau sendiri paham tak mau melakukan hal yang sama padamu? Lihat bagaimana kau menempa diri dengan tanpa menihilkan bantuan orang-orang di sekelilingmu? Lihat bagaimana semesta membantumu untuk menyembuhkan luka dan memarmu yang membiru? Lihat betapa kini kau telah mampu mendoakan segala yang terbaik untuk dia dan kehidupannya? Kulihat kini kau telah memaafkannya selaiknya kau memaafkan dirimu sendiri. Aku mesti katakan padamu, itu sama sekali bukan hal yang mudah. Untuk itu, sekali lagi, Rani: selamat atas kemenanganmu. Berterima kasihlah juga pada dirimu.

Lain dari pada itu, terima kasih dan hormatku untukmu, Mama. Tenang, kini anakmu sudah sembuh.

.

.

Singaraja, 19 Februari 2020 yang dingin