Renon

Delapan belas jam kulewati dengan berada di dalam bus antarprovinsi dan kapal ferry yang menyeberangkanku dari Pulau Jawa menuju Pulau Bali. Aku tiba di rumah dengan tumpangan GrabCar dari seorang sopir asal Kupang yang salah menghitung tarif perjalananku. Akibatnya, aku harus membayar delapan belas ribu rupiah untuk perjalanan seharga delapan ribu rupiah saja. Ya sudahlah.

Aku bertemu kembali dengan Mbaina, kakakku, dan Kak Riska, pacarnya, di rumahku. Tentu ini menandai pertemuan pertamaku dengan seekor anggota baru di keluargaku: Bubi, anjing betina berusia tiga bulan yang diadopsi oleh Mbaina sebulan lalu. Bubi lincah dan ramah sekali, sangat berbeda dengan Popo yang pendiam. 

Setelah mandi, bermain bersama Bubi, makan mi pedas (nggak di Jogja, nggak di Bali, makannya sama aja), dan ketiduran karena akhirnya menyentuh kasur, aku menjemput Mbaina di sebuah kafe di bilangan Renon. Dan yang terjadi adalah: aku kehilangan peganganku atas waktu. Diminta untuk menjemput jam 4 sore, aku justru datang jam 5 sore walaupun jam tanganku menunjukkan pukul 4. Betul, ini terjadi karena jam di ponselku luput kuatur untuk menyesuaikan diri secara otomatis, dan jam tanganku menunjukkan waktu Indonesia bagian barat. Untungnya, pertemuan Mbaina dan teman-temannya masih berlangsung, dan aku diminta untuk berkeliling Renon sembari menunggunya selesai selama 15 menit.

Kulaju sepeda motor merah milik Mbaina pelan-pelan, untuk berkeliling kompleks kantor dinas Provinsi Bali. Aku selalu senang melewati daerah tersebut, sebab pohon-pohon rindang berbaris di tepi jalan. Hijau bercampur kuning langit. Sambil berjalan, aku mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu dalam daftar putar yang kuhadiahkan untuk diri sendiri di usiaku yang ke-22, Oktober lalu.

Taman Janggan tidak pernah kulihat seramai tadi sore. Warna-warni berbagai wahana permainan dipadati anak-anak yang dibuntuti ibu-ibunya. Di tepi taman, para bapak duduk sambil memperhatikan keluarga mereka, tidak terlibat repotnya anak-anak berebut siapa yang terlebih dahulu menaiki perosotan. Sebal sekali melihat pemandangan itu, tapi aku juga gembira melihat taman kecil itu penuh.

Menuju ke Barat, Lapangan Niti Mandala tidak kalah ramainya. Orang-orang berkeringat berlari mengelilingi lapangan. Anak-anak bermain bola di rerumputan. Beberapa duduk dan menenggak air dari botolnya di bangku keramik. Penjaga parkir sibuk menata sepeda motor. Aku tersenyum. Teringat bahwa lima tahun lalu aku rajin sekali ke lapangan tersebut untuk joging bersama Inal. Ritualnya begini: kami datang dan berlari sendiri-sendiri, walaupun kadang bertemu di lintasan. Setelahnya, kami akan bertemu di satu titik dan berjalan sambil sesekali minum air dan saling bercerita selama beberapa putaran lagi. Lucunya, ponselku memutarkan “Penasaran” milik MALIQ & D’Essentials tepat ketika aku melewati lapangan ini. Lucu karena aku terlampau sering memutar The Beginning of a Beautiful Life (2010) sebagai teman joging kala itu. Membayangkannya membuatku nyanyi sambil joget dan senyum-senyum sendiri di atas sepeda motor. Kalau dilihat oleh orang lain, sepertinya memalukan juga.

Aku kemudian melewati Jalan D.I. Panjaitan. Kantor Imigrasi. Tempatku membuat paspor bersama Oming, empat tahun lalu. Kami datang dengan menggunakan baju hem SMA yang kebesaran serta harus menunggu cukup lama hingga melewati jam makan siang. Akhirnya foto paspor kami (atau fotoku, lebih tepatnya) terlihat seperti potret teroris yang buron. Kecewa tapi ya mau bagaimana lagi.

Setelah siap, pasporku diambil oleh Papa karena kantor Papa berada persis di sebelah Kantor Imigrasi. Nama kantornya Badan Lingkungan Hidup yang tadi baru kusadari telah berubah nama menjadi Dinas Lingkungan Hidup. Entahlah, melewati kantor ini membuatku lebih emosional lagi. Ada banyak memori di sana. Menunggu Papa pulang dengan ngadem di ruangannya atau dengan mendengarkan radio di mobil, mengangkut tunjangan beras, pertemuan dengan rekan-rekan kantor Papa yang bertanya “Ooh, ini anak Pak Arya yang blablabla itu?”, dan lain-lain. Papa sudah pensiun sejak 2017 lalu. Sudah hampir dua tahun aku tak lagi melihatnya berseragam ke kantor. Padahal dia terlihat ganteng sekali dalam seragamnya. Walau minusnya ketika sepulang kantor adalah mulutnya yang bau kalau ia lupa membawa pastiles pagoda warna biru. Papa jarang makan siang karena tidak suka makan di kantin kantor. Kebiasaan ini akhirnya berangsur-angsur berubah juga menjelang ia pensiun sebab ia kerap mengaku lemas kalau belum makan siang. “Pahit sekali mulutnya Ajik soalnya nggak makan apa-apa,” keluhnya beberapa kali, sambil menyetir pulang.

Aku melanjutkan perjalananku dan mengingat betapa banyak hal yang terjadi di Renon. Bagaimana aku mengikuti tes seleksi olimpiade sains SD tingkat kota di SDN 29 Dangin Puri. Mencoba es krim murah bersama teman-teman di BreadLife. Mampir di kediaman Pak Rai Mantra untuk mohon restu karena akan berlomba. Makan ayam goreng Prambanan dengan berbagai tawaran dari para penjual DVD bajakan. Melewati Kantor Komisi Penyiaran Indonesia Provinsi Bali dan bertanya-tanya apakah Pak Muliarta tengah bekerja di sana. Ditraktir Pak Gde Aryantha Soethama di Ikan Bakar Cianjur dan janjiku padanya empat tahun lalu, yang kini entah bisa disebut sebagai janji yang tertepati atau tidak. Dan hal-hal lainnya. Dari  jendela atau jok, dengan seragam sekolah atau berkaos santai, dalam hujan atau terik.

Dan hal-hal lainnya. Di Renon. Di tempat-tempat lainnya di Denpasar.

Dahan-dahan pohon beranting-ranting rimbun karena daun yang begitu lebat. Di sela-selanya, sinar matahari sore menembus dan membentuk garis-garis. Menimpa jalanan, menimpa wajahku. Sejuk sekaligus hangat.

Mungkin aku begitu takut merindukan Jogja sehingga tak sadar bahwa selama ini aku begitu merindukan Denpasar.

 

Denpasar, 4 Agustus 2019