Mual

Setelah sekian lama, aku bermimpi lagi dalam tidur siangku. Ada kau yang bukan kau di sana. Kau merokok dengan agul, menegaskan bahwa aku memang tak pernah dan tak akan bisa turut campur dalam pilihan hidupmu. Kau mengabaikanku dan memilih sesosok yang kini sudah tak kuingat lagi rupa dan namanya. Aku kacau. Mual menjejak dalam perutku. Tak pernah kubayangkan perasaan ini akan melandaku lagi seperti setelah mimpi kematian kedua orang tuaku dulu. Sungguh aku ingin memuntahkan segala isi diriku. Sadar tak sadar aku menghubungimu dengan empat kata sebab hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Dan, dengan naifnya aku ingin kau membalas hal yang sama–salahkah aku? Kemudian baru kusadari bahwa aku begitu takut kehilanganmu. Jikalau kau tidak berkenan, mohon terima maafku.