Pulang

Embus angin yang menyusup di lingkar-lingkar daun telingaku berpucuk suara beratmu. Katanya pulanglah. Peduli apa. Aku telah lupa akan nama hari semenjak aku tak percaya lagi pada ruhku. Kuning binar lampu-lampu jalan menggenang di air bekas tetesan awan pukul setengah sembilan. Dingin. Aku menggigil. Kemana kan kubawa jasadku ini aku tak tahu. Akan kuapakan juga entah. Katanya Tuhan maha baik. Ia punya rumah yang indah. Aku mau bertamasya ke sana. Untuk sekadar memetik dan mengunyah dua tiga butir buah anggur yang manis sekali. Kalau suka, mungkin aku akan tinggal barang dua tiga malam. Lewat sini jalannya. Bias cahaya putih menyirami pelupuk mata. Aku kan pulang. Aku kan pulang..

Yogyakarta, 15 November 2016