Untuk Pengelanaku

Kala kutulis pelan kata demi kata ini
Tengah kuhirup sisa-sisa aroma tubuhmu yang melekat di sisi kanan ranjang kita
Kemanakah kau?
Malam terlanjur tiba
Pagi sebentar lagi rebah
Telah kau janjikan padaku pelukan
Kini kau pergi tanpa pesan

Ingatkah kau sayang, lubang di lipatan kelima tirai jendela kamar kita
Biasa kita intip lalu lalang orang melintas ketika kita berpeluh dalam cinta
Jujur saja, kini aku benci mesti melihat bayangan orang-orang ini sendirian
Kemanakah kau, sayang?
Sudah kuaduk segelas kopi pekat buatmu
Telah kusiapkan pula air hangat untukmu membasuh tubuh

Ah, apa yang kau cari, sayang?
Apa yang kau dapatkan di luar sana?
Seperjalanan membelah angin malam
Setangkai kemuning di belukar semak rumah tua di blok empat
Apakah
Sepercakapan dengan kumpulan paruh baya pemain kartu di pos jaga
Sejawil dagu perempuan bergincu merah jambu di tepian pasar bunga
Ataukah
Seteguk anggur murahan dalam kilau botol-botol kaca
Selembar dua lembar lebih lagi lembar Soekarno Hatta

Sayangku,
Susurilah kembali jejak tapak kakimu
Siapa tahu dapat kau temukan aku di sana
Mari, mari
Kan kutuntun kau, sayangku
Ke pulangmu
Ke rumahmu

Aku rindu padamu
Tidakkah kau begitu?

 

 

Yogyakarta, 19 Agustus 2016

Kepalamu

Di hitam rimbun helai-helai rambutmu kuhirup aroma segar;
Seperti wangi kebebasan
Adakah mereka tirai penyibak liar pikiranmu
Lipat-lipatan otak di balik keras batok kepalamu

Kumelihat puluh ratus bahkan ribuan burung-burung hantu perak
Ada di sana
Berkedip mata mereka
Perjalanan jauh terlanjur segera

Terbang berterbangan ke arah cembung bulan di barat daya
Berkepakan sayap-sayapnya
Mencari makan mereka di hutan seberang
Semerbak pinus terhidu lubang-lubang nafasnya

Terbang jauh mereka; ke ketidakpastian arah dalam kepalamu

Bebas
Pikiranmu bebas
Segar tak ada batas

unies

Dalam segala resah di kepala
Yogyakarta, 8 Agustus 2016