Harapan Kecil

Kalau sudah tua nanti, aku masih ingin bersamamu. Membaca buku berdua, di sebuah kafe dengan lampu kuning temaram dan dinding kelabu. Seperti yang biasa kita lakukan di akhir pekan dulu. Kamu dengan buku Dawkins, dan aku dengan buku Murakami. Beda banget ya, hahaha. Tapi nggak apa, aku selalu suka membaca bersamamu.

Terdengar sayup-sayup lagu berbahasa Inggris dari pengeras suara di sudut ruangan. Tapi kita sudah memilih untuk mendengarkan lagu secara acak dari ponsel kita, melalui seutas kabel splitter yang sudah kita gunakan dari zaman kita kuliah. Awet juga ya, setelah dulu sempat aku rusakin padahal umurnya belum ada sebulan, akhirnya beli baru lagi bulan depannya. Kadang aku mengangguk-anggukkan kepalaku, entah itu karena buku yang kubaca, atau karena ketukan nada dari lagu yang sedang kita dengarkan. Dan tangan kananmu menggenggam tangan kiriku perlahan, dan nanti melepasnya dengan perlahan juga. “Biar bisa balikin halaman bukunya,” ucapmu.

Kopi pahitmu sudah dingin, begitupun thai tea ku. Tapi cinnamon roll kita masih tersisa setengah potong di atas piring. Apa nama kopimu itu? Pikirku yang pasti bukanlah americano, karena rasanya kecut, katamu. Setelah beberapa halaman buku, kamu melepas kacamatamu dan memijat pangkal hidungmu perlahan. Bingkai kacamatamu sudah berubah sejak setahun lalu, seperti milik Jean-Paul Sartre. Dulu kupikir kamu bakal terlihat aneh pakai bingkai jenis itu. Tapi syukurlah ternyata cocok di wajahmu.

“Ngantuk?” tanyaku padamu, sambil menyesap thai tea yang dingin. Lumayan, jawabmu. Gimana kalo kita jalan-jalan aja, lanjutmu. Wah boleh juga, kebiasaan ini nggak pernah bosen buat kulakuin bareng kamu dari dulu. Jalan-jalan keliling kota dengan motor tua kita, melihat langit dan orang-orang di jalan. Si Aneh, motormu yang dulu kamu pilih entah secara sadar atau tidak, sudah kamu jual beberapa waktu lalu. Sekarang nama motor kita siapa ya? Si Sepuh? Untungnya dia nggak sering rusak-rusakan ya. Jadinya masih bisa nganterin kita keliling-keliling nggak jelas kayak gini.

Jalan-jalan sore membuatku merasa senang. Karena di sore hari, aku bisa melihat wajah lelah orang-orang yang pulang dari kantor, dan juga wajah sumringah anak-anak muda yang akan pergi nongkrong bersama teman, atau pacaran. Tapi hari ini hari Sabtu, jadi jalanan mulai dipadati dengan pasangan-pasangan muda. Jadi berasa muda lagi ya? Jadi ingat dulu kita juga sering jalan-jalan di Sabtu malam. Eh nggak ding, kapanpun ada waktu luang kita bisa jalan-jalan. Tapi kembali lagi, itu buat nyari tempat untuk baca buku, atau beli makan murah di tepi jalan.

“Mau kemana kita?” tanyamu. Nggak tau, jawabku sambil mengeluarkan ‘ehe-ehe’ku. Lalu motor kita melaju ke arah Jalan Gejayan, Jakal yang semakin padat oleh tempat-tempat nongkrong, melewati kampus kita, dan melalui Hotel Tentrem di Jalan Sangaji. Sepanjang perjalanan aku akan memenuhi telingamu dengan cerita-ceritaku, tentang Popo, anjingku di Bali yang sudah digantikan oleh anjing lain sejak bertahun-tahun yang lalu, tentang lampu di ruang tamu rumah kita yang mesti diganti, tentang sayuran yang besok akan kumasakkan untukmu walaupun aku tahu kamu memang nggak suka sayur, dan hal-hal lainnya. Kamu pun akan menimpali dengan cukup antusias, bahkan dengan tawamu yang terdengar mengejek itu. Dan kamu juga membagikan ceritamu, tentang mahasiswamu yang cukup kritis tapi suka ngelawak kalau kalah berdebat sama kamu di kelas, tentang mapmu yang penuh dengan tugas mereka yang tertinggal di meja salah satu rekan kerjamu yang seharusnya kamu nilai segera, tentang buku-buku yang ingin kamu donasikan ke perpustakaan kampus, dan hal-hal lainnya. Aku pun akan menimpali dengan anggukan dan juga pertanyaan-pertanyaan yang membuatmu akan bicara lebih panjang lebar lagi setelahnya.

Lampu merah di Kotabaru. Langit sudah menggelap dengan siluet keunguan di Barat. Mau kemana kita? Gimana kalau kita beli dua porsi indomie goreng tanpa telur di Jalan Persatuan? Tempat pertama kali kita makan berdua dulu? Kelihatannya enak, dan kita juga belum sempat makan indomie berdua sepekan ini. Dan motor kita pun melaju ke arah sana, melewati perempatan Mirota Kampus yang sampai sekarang masih saja ramai. Rame mulu dari jaman kuliah, kapan bangkrutnya mereka ya, tanyaku padamu yang kamu balas dengan tawa.

IMG_9902

Selagi menunggu pesanan kita datang, aku membayangkan betapa banyak hari yang sudah kita lalui bersama, yang membawa kita sampai ke titik saat ini, titik dimana kita telah, sedang, dan akan menjalani mimpi-mimpi kita bersama. Tapi kata Jiddu Krishnamurti, untuk hidup secara mendalam dan intens, kita harus membunuh semua yang sudah lalu, semua kenikmatan, opini, penghargaan yang telah dicapai. Namun bagiku, semua yang sudah lalu adalah bahan-bahan yang digunakan untuk membuat hari ini matang dengan baik. Hidup memang untuk dijalani hari ini, tapi tanpa adanya hari-hari kemarin, hari ini nggak bakal ada, bukan?

Dan ya, hiduplah untuk hari ini, kata kutipan-kutipan Buddhis yang kubaca. Karena hidup cuma sekali dan tidak ada yang tahu kapan akhirnya. Karena cuma kitalah yang dapat memberikan hidup kita ini bermakna, bukan apa, bukan siapa. Tapi sedikit membayangkan dan mengharapkan sesuatu di masa depan tidak ada salahnya, kan? Karena bagiku, ketika aku mengharapkan sesuatu di masa depan, aku akan termotivasi dan berusaha untuk menjadikannya nyata. Bukan hanya sekedar ngarep-ngarep tapi nggak ngelakuin apa-apa. Kalau itu mah, jadinya sama aja.

Indomie kita sudah datang. Dan kamu meng-hey-hey-kan aku untuk memastikan aku sadar atau nggak. Ya sadar lah, wangi indomie segininya di depan mata masa nggak bikin aku sadar.


Haha apaan sih ngomongnya. Nggak jelas banget. Efek duduk sendirian di kafe sambil dengerin rinai hujan di luar dan juga lagu-lagunya Float nih.

Semoga kalau sudah tua nanti, aku akan selalu bisa bersamamu ya.