Tentang Hujan

Ada semacam kecintaan dan kebencianku tersendiri terhadap hujan. Pertama, ia membuatku malas. Kedua, ia membuatku produktif. Kontradiktif. Membingungkan. Bagaimana titik-titik air yang turun dari gumpalan awan mampu mempengaruhiku seperti ini. Padahal mereka hanya air. Cuma bulir-bulir air yang berjatuhan dengan keroyokan saja.
Aku malas karena hujan. Dapat saja aku tidur-tiduran dan berguling di atas ranjang seharian kalau ia tiba. Padahal ada hal-hal penting yang mesti kukerjakan. Tapi entah mengapa, hujan memang punya pengaruh yang besar untukku. Aku benci hujan karena aku benci diriku yang malas, kau mesti tahu itu. Oh ya, selain itu aku juga malas untuk menampung air yang jatuh dari lubang-lubang kecil di langit-langit kamarku. Hujan membuatku repot, basah, dan malas. Ya. Aku benci hujan yang membuatku malas.
Tambahan: hujan yang turun tiba-tiba saat berkendara dengan sepeda motor di jalanan juga sangat menyebalkan! Itu membuatku mesti menepi dan turun dari sepeda motor dan mengenakan jas hujan. Bukan hal yang sulit, memang. Tapi aku malas melakukannya. (tuh kan, hujan membuatku malas!)
Tapi kebencianku pada hujan juga bisa berubah menjadi suatu kecintaan dan rasa terima kasih yang mendalam, ketika aku memang sedang tidak perlu melakukan hal apapun, sehingga aku bisa bebas mengamati hujan dari balik jendela kamar sembari mendengarkan dan mendendangkan lagu-lagu sendu dari CD playerku. Menyenangkan sekali, kau mesti tahu itu. Adalah kebahagiaan kecil untukku, mengamati hujan yang semula gerimis menjadi berderai deras dan kembali berjatuhan kecil-kecil sampai akhirnya ia mereda dengan sendirinya.
Yang kucintai lebih-lebih dari hujan adalah ia membuatku tenang. Tapi itu berlaku ketika aku memang sedang berada di ruangan tertutup dengan jendela yang lebar sehingga aku tidak kebasahan namun tetap dapat menikmati pemandangan yang basah. Hujan, tempat yang nyaman untuk bernaung, sebuah buku, lagu-lagu favorit, minuman panas (dan juga indomie! Ya! Itu!), adalah kombinasi yang sangat-sangat tepat untuk membuatku tenang, kau mesti tahu itu. Dan akan lebih menenangkan dan menyenangkan lagi jika ada seorang teman yang bersedia duduk di sisi, untuk berbagi cerita, sambil melihat ke arah jendela. Menggumam kapankah hujan reda agar kami bisa segera pulang–atau gumaman itu dapat berarti harapan agar hujan tak dengan lekas reda, agar kami tetap dapat melanjutkan pertukaran kisah-kisah kami lebih lama lagi.
Jadi, ya, begitulah. Entah ini termasuk hal yang produktif–dan penting–atau tidak, setidaknya aku kembali menulis di sini saat hujan turun dengan tidak sabar.

12 Desember 2015, 12:35 PM.
Perpustakaan Pusat UGM, Yogyakarta.