Laki-Laki Pemalu

Sial,
Aku melihat matanya lagi.
Tepat di manik-manik berwarna coklat gelap itu.
Mengapa harus hari ini? Aku sedang menjalankan misiku untuk tidak mengejarnya lagi.
Baiklah.
Tenangkan dirimu,
Tarik nafas dalam-dalam,
Hembuskan panjang-panjang.
Tarik lagi, hembuskan lagi.
Kau harus ingat baik-baik, catat dengan huruf kapital dan cetaklah kata-kata ini dengan tebal di otakmu.
Dia hanya perempuan biasa.
Dia hanya perempuan dengan rambut ikal sebahunya yang legam dan seringkali berantakan.
Dia hanya perempuan yang gemar mengenakan kaos kelabu.
Dia hanya perempuan yang suka duduk di sudut perpustakaan, mendengarkan lagu-lagu brit-pop sedih yang ia putar secara kontinyu sambil memberi tanda pada tulisan di buku-buku tebal yang ia sedang baca dengan stabilo.
Dia hanya perempuan yang tak pernah memulas gincu di bibirnya yang gelap dan pucat.
Dia hanya perempuan yang kerap terlihat tersenyum sendiri ketika melihat suatu hal yang bahkan tak sewajarnya membuat seseorang tersenyum.
Dia hanya perempuan yang suka bersenandung kecil ketika berjalan di selasar kampus.
Dia hanya perempuan yang nyaman dalam dunianya yang tak biasa.
Dia hanya perempuan cantik.
Dan oh, matanya. Matanya juga cantik, walaupun ada beberapa garis kantong di bawahnya.
Mata itu melihatku.
Mata itu melihatku sekarang.
Sekarang.
Bangsat, mengapa aku berpeluh dingin?
Lelaki macam apa aku ini.
Aku harus segera menyibukkan diri, berpura-pura kepanasan. Ya! Ide yang bagus!
Tapi ruangan ini berpendingin buatan! Tak masuk akal aku berkeringat seperti ini.
Oke, lap wajahmu perlahan menggunakan tanganmu.
Ya, perlahan seperti itu. Usapkan di celanamu saja sisa-sisa basah di tanganmu itu.
Sekarang apa?
Buku. Ya, buku. Mana bukuku?
Oke, oke. Sudah kutemukan.
Buka, buka bukumu dan bacalah.
Ya, bacalah.
Halaman pertama,
Halaman kedua,
Ketiga,
Keempat,
Kelima,
Kelima,
Kelima…
Ini masih di halaman lima! Mengapa aku malah mencari dirinya.
Mengapa aku malah melihatnya.
Mengapa tepat di matanya lagi?!
Kali ini dia malah memperlihatkan wajah yang bingung. Ia naikkan satu alisnya dan ia tekuni kembali buku tebal serta stabilo hijaunya.
Dan dia cantik.
Keparat!
Sudahlah.
Aku sudah lelah.
Aku menyerah.
Aku mesti menyapanya.
Aku mesti mendatanginya setelah ini.
Ya.
Akan kuajak dia bercerita. Akan kutanyai dia. Tentang mengapa ia selalu mendengarkan lagu yang sama terus menerus, atau apa hal yang selalu membuatnya tersenyum, atau jam berapakah ia tidur saban malamnya? Karena matanya terlihat lelah.
Tapi dia cantik.
Sial, dia cantik!