Dini Hari

Akhir-akhir ini, aku sering berjalan-jalan di dini hari yang dingin. Pada waktu-waktu sebelum fajar menyingsing, dimana embun tengah asyik mencumbu daun-daun yang tumbuh di ranting pohon kerdil di halaman rumah. Dengan begitu aku bisa menghirup udara yang segar. Jujur saja, aku lelah mencium aroma tubuhmu yang seolah masih tertinggal di atmosfer kamarku. Aku ingin melupakannya.
Dulu, sebelum kau memilih untuk beranjak pergi dari kehidupanku yang membosankan, kita seringkali berbagi keresahan dari jarum pendek di jam dinding menunjuk angka sembilan bergerak pelan-pelan menuju angka enam. Kau akan membuatkanku segelas susu full cream hangat, dan kita berbincang sampai entah. Selama aku membagi semua hal-hal tak penting yang suka menjalari otakku kepadamu, tak pernahlah aku merasa lelah. Hanya saja, kau mesti kuliah pagi, tiap Senin hingga Kamis. Sehingga mau tak mau kita mesti menutup obrolan dan pertemuan dengan sepeluk dan secuil kecupan.
Di waktu-waktu seperti ini, dulu, mungkin obrolan kita masih berfokus pada siapakah musisi yang musikalitasnya lebih baik, SORE, Pure Saturday, atau Efek Rumah Kaca? Padahal kita sama-sama tahu, bahwa mereka tidak bisa disamakan, apalagi dibandingkan. Namun entah mengapa masih saja kita sibuk mendebatkannya, hingga kau dapat saja memotong perbincangan sejenak sebab kau mesti ke mini market untuk membeli sebungkus Marlboro merah yang mesti kau isap dalam-dalam saat gelisah.
Aku harus mengenakan sweatermu yang nampak kebesaran di tubuhku, karena kau memaksa. Kerjaan bersin-bersin masih aja sok kuat, ucapmu padaku saat itu. Kemudian kita berbincang lagi di balkon depan kamarku, melihat bebas ke arah langit atau lampu-lampu jalanan yang membulat banyak-banyak di bawah sana. Ketika kita bosan, kita bisa masuk dan mengunci kamar, berbagi selimut dan headset, mendengarkan album Ports of Lima berulang-ulang hingga terlelap.
Kini aku mesti keluar rumah untuk menghabiskan detik-detik ini, sendirian. Aku menghindari berdiam diri di balkon atau telentang di atas ranjang, sebab nostalgia pasti akan datang menyergapku dengan tak sabar.
Bagaimana kuingat rambut megarmu yang sepertinya bisa menyembunyikan segala hal di dalamnya. Bagaimana kudengar denting sendok dan gelas kaca beradu membaurkan kopi hitam dan air panas. Bagaimana kuhembuskan diam-diam asap rokokmu yang menganggur di atas asbak. Bagaimana kurasakan jemari kakimu yang secara tak sadar mengusap telapak kakiku lamat-lamat saat kau terlelap. Bagaimana kudengar dengkur halusmu yang menemani detak detik jam yang tak jarang membangunkan atau malah menidurkanku. Bagaimana kuhabiskan dini hari bersamamu.
Tapi kita sudah memilih. Walau kadang masih terasa perih. Takkan lagi ada dini hari milik kita.

Belajar Membencimu

Karena kau selalu ada.
Jangan salahkan aku. Jangan pernah.
Aku tak pernah meminta kau datang.
Bukan waktunya.

Kau tahu aku benci hujan karena genangan air yang kotor selalu membasahi kakiku saat ku tak sengaja menginjaknya.
Namun aku tak pernah bilang padamu.
Maka jangan salahkan aku.

Kau tahu aku benci hujan karena telah ribuan kali nampaknya aku terlambat masuk kelas sebab aku mesti mengayuh sepedaku lebih lamat dari biasanya.
Wanitamu juga sama, katamu.
Bedanya, ia suka hujan dan tetap cantik walaupun kuyup seragam sekolahnya.
Tersenyumlah aku, baiknya dirimu.
Kau suka memuji. Tapi yang lalu kau ucapkan padaku, telah kuinjak tak berbekas.

Aku benci hujan.
Tapi kau meneduhkan.
Jadi aku mulai menyukai hujan.
Dan perlahan belajar membencimu.

Pantaslah, patutlah kau dibenci.
Dengan segala puja-puji dan harum kuntum-kuntum bunga yang dilemparkan orang-orang padamu, kau pantas dibenci.
Oleh satu orang saja.
Aku saja.
Cukuplah itu. Cukup.

Aku belajar membencimu.
Karena untuk apalah mencintamu.
Kau juga tak butuh itu.

Bolehkah Aku Cemburu pada Kekasihmu?

Bolehkah aku cemburu pada kekasihmu?
Karena ia bisa puas memandangi raut wajahmu yang serius saat kau tenggelam dalam buku beraroma lapuk yang kau pinjam di perpustakaan kota.
Karena ia dapat menggenggam jemari tanganmu kuat-kuat saat ia takut akan apa yang akan terjadi esok hari.
Karena ia bebas tersedu di bahumu ketika ia merindukan kucing berbulu keemasan yang ia titipkan di rumah pamannya.
Karena ia bisa mendengarkan suara beratmu menyanyikan lagu-lagu sendu kala ia tak mampu tertidur di malam yang sunyi.
Karena ia dapat memelukmu dengan erat ketika motor tuamu melaju membelah jalanan yang basah akan hujan semalam.

Bolehkah aku cemburu pada kekasihmu?
Karena padanya kau ceritakan harimu yang melelahkan, yang kau habiskan pelan-pelan dengan buku-buku yang menguning kertasnya.
Karena padanya kau berikan mimpi tentang hidup menua bersama dalam sebuah rumah berjendela lebar dan berdinding putih pucat.
Karena padanya kau curahkan isi hatimu terhadap semua hal yang kau anggap tak masuk di akalmu, berdebat akan hidup yang kau rasa tak adil.
Karena pada kepalanya kau usapkan telapak tanganmu perlahan-lahan, menenangkannya di kala perasaannya tak karuan dan hanya diam seribu bahasa.
Karena bersamanya kau duduk menyaksikan senja yang memerah ditemani sesapan teh hangat dan beberapa potong pisang goreng di alun-alun kota.

Bolehkah aku cemburu pada kekasihmu?
Karena ia mendapatkanmu.
Sementara aku tidak.

Jadi, bolehkah?