Perangkai Kata

Tahukah kau? Kau pandai merangkai kata. Kau hanya perlu melihat ke sebuah titik dan kata-kata itu dapat terjuntai indah dari mulutmu. Tak pernahlah aku mengerti mengapa kau bisa melakukannya. Sedangkan aku membutuhkan berjam-jam demi merampungkan satu paragraf saja. Maka jangan coba tanya padaku tentang esai dan paper yang ditugaskan dosen di akhir kelas. Mengingatnya saja kepalaku mendadak nyeri sebelah.

Apa yang kau temukan hari ini? Oh, rintik hujan yang turun siang tadi, kau ingat? Saat kita menghabiskan waktu berdua di kantin dan menandaskan tempe goreng untuk mengganjal perut. Di sana kau berkata, “Hujan menyisakan aroma yang enggan kulupakan. Petrichor. Bagaimana aku bisa lupa? Aku menyaksikan hujan pertama di kampus bersama perempuan ajaib seperti kau. Ini aroma baru, kenangan baru, iya kan?” dan aku masih saja asyik mengunyah tempe goreng, sedikit mengangguk agar kau sadar bahwa aku mengerti. Padahal musim hujan belum juga tiba, aneh sekali hujan datang di sela terik matahari seperti ini, pikirku.

Aku tak tahu apa maksud dari ucapanmu, tapi kuanggap itu hanya kalimat biasa yang terlontar dari mulutmu, suatu hal yang sangat wajar. Tak perlulah kuambil sarinya agar kudapatkan manisnya kalimatmu. Ini saja sudah cukup. Pun pada akhirnya kau juga mengatakan hal-hal serupa pada perempuan lainnya, teman-temanmu yang entah mengapa membuatku jengkel tiap kali melihatnya berada di dekatmu. Bahkan ketika melihat tubuhmu berjalan ke arahku setelah kau selesaikan urusanmu dengan mereka, ingin sekali rasanya kulempar buku-buku tebal di dalam tas kanvasku ke arahmu.

Kau tak bersalah. Kau hanya perangkai kata yang terlalu ulung. Kau hanya lelaki dengan kalimat-kalimat yang ironisnya selalu kutunggu padahal mereka tak berarti apa-apa untukku. Kau hanya memuntahkan apa yang ada di pikiranmu, dan aku hanya tak sengaja memuntahkan perasaan yang berlebih untukmu.

Jendela Kamar yang Membeku di Pertengahan Desember

Beritahu aku bila aku salah
Terakhir kali aku melihatmu
Melalui jendela kamar yang membeku di pertengahan Desember
Aku menatap dalam-dalam tubuh berkemejamu yang mulai nyaman
Kuperhatikan lamat-lamat tanganmu yang memelintir dasi kupu-kupu secara perlahan

Beberapa hari lagi Santa Claus akan bertamu
Kutengok cahaya warna-warni lampu pohon natal memantul di pucatnya hijau tembok kamarmu
Kau masih di sana, sibuk dengan dasi kupu-kupumu
Dan aku masih di sini, terpaku pada ragamu
Menyuap sendok demi sendok sereal madu hingga beberapa tetes susunya tumpah di atas blus pemberian ibuku

Kemudian kau berjalan
Menengok ke luar jendela
Mungkin saja kau bertanya mengapa tanaman-tanaman kerdilmu tetap tumbuh di antara salju tebal
Mungkin saja kau tersenyum pada satu dua anak yang menggarap boneka salju di halaman rumah
Mungkin saja sudut matamu menangkap hadirku di seberang jendela kaca
Mungkin saja tidak
Karena kau hanya menutup tirai dan mematikan pijar lampu kamar
Dan aku melihat siluetmu menjauh lalu kemudian lenyap

Empat tahun berjalan cepat
Natal juga semakin dekat
Namun kau tak kunjung merapat
Bayanganmu entah, ditelan pekat

Tolong,
Beritahu aku bila aku salah
Aku hanya ingin melihatmu saja
Melalui jendela kamar yang membeku di pertengahan Desember

Hari-Hari Kita

.
tujuh ratus sebelas hari.
tak pernahlah aku menghitung
hari-hari yang telah kita lewati bersama
namun entah mengapa pagi ini
aku tersadar
aku merindukanmu
kemudian aku meluangkan waktuku
untuk menghitung hari-hari yang
kita telah lewati bersama
sebentar saja

belum genap seribu hari
kita akan mencapainya
menggandakannya
sampai nanti.

.
.
.
Yogyakarta, 11 September 2015, pukul 08:25 pagi.
di tengah perkuliahan yang penuh uap kantuk