Musik Pop: Lantunan Perjalanan Kehidupan

Album_Musik_Pop

Apa yang terbayang di benak saat mendengar nama MALIQ & D’Essentials? Sebagian besar orang pastilah menjawab genre musik jazz yang diusung oleh mereka. Namun nampaknya kali ini anda harus menahan spekulasi tentang aliran musik mereka, karena album Musik Pop menyuguhkan suasana yang jauh berbeda dari lima album sebelumnya.

Musik Pop membawa kita kembali ke 70-80’an ketika lagu-lagu milik Keenan Nasution, Yockie Suryoprayogo, Guruh Soekarno Putra, hingga alm. Chrisye merajai tangga lagu di radio-radio kesayangan kawula muda. Pop yang mereka usung di sini, bukanlah pop dari rumpun lainnya. Namun pop milik Indonesia yang sangat khas dan autentik jika dibandingkan dengan pop rumpun lainnya.

Dua puluh delapan menit yang disuguhkan di album ini terasa sungguh nikmat didengarkan, namun juga sarat makna. Pasalnya, Musik Pop dapat dikatakan sebagai sebuah soundtrack dari perjalanan kehidupan manusia. Dimana manusia lahir, hidup, dan mati. Sebuah siklus yang dilantunkan dengan indah oleh suara khas milik Angga Puradiredja dan Indah Wisnuwardhana. Mengapa bisa? Pintu, yang membuka album ini menggambarkan pintu kehidupan yang kita masuki, dimana Semesta, yang kemudian menjadi salah satu OST film Filosofi Kopi kemudian menggambarkan garis besar kehidupan itu sendiri.

Dilanjut kemudian dengan Ananda, sebuah kolaborasi apik bersama maestro jazz Indonesia, Indra Lesmana, yang melagukan lirik-lirik yang seolah menyambut kita, seorang anak yang lahir ke dunia.

Selamat datang sayang…

Selamat datang di dunia…

Sempurna hanyalah di surga,

Selamat datang di dunia…

Setelah lahir dan mulai menjalani hidup, Imajinasi melukiskan bagaimana indahnya dunia dengan segala problematikanya. Di sini Arya ‘Lale’ Aditya mencabik gitarnya dengan sungguh dramatis, dan juga gebukan perkusi dari Widi Puradiredja menambah keliaran imajinasi pendengarnya. Lagu kelima, Ombak Utara, menggambarkan ketenangan yang didapat setelah segala suka dan duka kehidupan seolah terhempas oleh hangatnya ombak pantai.

Taman dibuka oleh gesekan violin yang sungguh indah, namun dilanjutkan dengan suara gitar yang mendayu-dayu namun tetap terasa upbeat. Taman melambangkan sebuah surga, dimana seseorang bisa bermain sejak pagi datang, hingga fajar menjelang. Setelah bermain-main di taman, pada akhirnya kita berjanji menaklukkan Himalaya hanya untuk seorang tambatan hati. Himalaya, lagu paling romantis dan juga tergombal ini memberikan kita kalimat-kalimat sederhana nan indah, ditambah dengan alunan piano Ilman Ibrahim dan petikan bass dari Jawa, sang bassist. Di lagu terakhir yang juga berkolaborasi dengan Indra Lesmana, Nirwana, MALIQ & D’Essentials lebih memainkan synthesizer dan memutar-mutar nada, yang seolah-olah menggambarkan kekosongan dan juga keindahan dari nirwana itu sendiri, akhir perjalanan kehidupan manusia yang abadi.

Line-up dalam credits album ini masih sama persis dengan album mereka sebelumnya, Sriwedari. Ada nama Geoff Pesche sebagai petugas mastering. Abbey Road Studios UK tetap menjadi pilihan. Pantas saja kualitas sound dan music mereka terdengar tiada cela. Ditilik dari cover album yang berwarna metalik dengan sentuhan warna pelangi bak hologram pun dirasa sungguh pas menggambarkan musik di dalamnya yang berwarna-warni. Namun terlepas dari semua keunggulannya, kekurangan album ini adalah makna lagu-lagu tentang kehidupan ini yang tak bisa dimaknai oleh semua orang, utamanya pangsa musik Indonesia yang saat ini masih berkisar pada lagu yang bernuansa cinta dan romansa.

Melalui album ini, masih ada kemungkinan untuk membuat standar musik populer Indonesia kembali emas seperti satu-dua dekade lalu, dan mungkin juga Musik Pop tidak akan selaku atau sepopuler album-album mereka sebelumnya. Namun percayalah, album ini adalah mahakarya mereka yang terbaik, yang sayang untuk dilewatkan.

.

Musik Pop | Maliq & D’Essentials |Organic Records | 2014 | Pop

.

.

Oktaria Asmarani

Versi edit dimuat dalam Majalah Madyapadma, edisi XXII tahun 2015.

Donat

Aku ingat betapa senangnya hatiku ketika bibi berkunjung ke rumah. Tapi aku tidak ingat berapa usiaku saat itu. Mungkin itu ketika mainan masak-masakan sudah perlahan aku tinggalkan dan beralih ke percakapan-percakapan dunia boneka bersama kakakku di setiap malam menjelang kami tertidur.
Bibiku baik dan cantik. Ia memiliki senyum manis yang jika diperhatikan lebih jauh, juga ikut membentuk gurat-gurat keriput di ujung matanya. Tapi ia cantik. Aku selalu memanggilnya dengan panggilan bibi cantik karena bagiku ia memang bibiku yang tercantik di antara saudara-saudara perempuan papa dan mamaku.
Aku tidak ingin bercerita tentang bibi cantik sebab aku akan sedih mengingat ia telah meninggalkan kami bertahun-tahun yang lalu. Aku ingin bercerita tentang donat-donat yang selalu ia bawakan sebagai oleh-oleh untukku dan keluargaku.
Bagiku yang saat itu sangat jarang memakan kue dan jajanan yang manis juga mahal harganya, donat adalah anugerah. Apalagi, bibi cantik membelikannya di restoran donat yang kuanggap sebagai ‘restoran wah’ saat itu.
Gigiku masih ompong di bagian depan atas. Mama melarangku makan makanan manis atau tidak ia akan memarahiku. Papa pun sama. Tapi ketika donat bibi cantik datang, papa dan mama akan membiarkanku memilih donat manapun yang aku suka.
Apakah krim stroberi? Atau donat dengan meses coklat berwarna-warni? Atau donat dengan taburan kacang yang saat itu kuanggap tak akan membuatku batuk? Atau mungkin donat dengan taburan gula halus namun berisi selai stroberi di bagian dalamnya?
Ah, yang kuingat, aku selalu memilih donat dengan meses kuning. Karena itu warna kesukaanku.
Aku gigit donatku dengan tidak sabar, butir-butir mesesnya jatuh ke lantai dan juga mengotori rokku. Aku bersihkan mulutku dengan tangan kiriku, dan coklat membuat muka dan tanganku makin kotor.
Manis.
Manis sekali.
Bibi cantik, oom, dan mamaku pasti akan tertawa maklum ketika melihatku.
Semenjak saat itu, aku suka donat dan bentuknya yang bulat seperti bola mata bibi cantik.

Belasan tahun kemudian, aku terdiam sendiri di kedai donat. Bersama donat coklat putih dan almond kesukaanku, juga dengan segelas teh hijau dingin.
Donat meses kuning tak menarik perhatianku lagi, meskipun warna itu adalah warna jam tanganku.
Gigiku sudah tidak ompong sehingga aku bisa makan donat sebanyak yang aku mau.
Kedai bernuansa oranye ini tak begitu luas, namun kulihat banyak sekali orang yang berduyun-duyun datang dan memesan satu, dua, atau bahkan berlusin-lusin donat. Beberapa di antara mereka adalah siswi-siswi SMA yang sibuk dengan ponsel mereka untuk check-in, anak-anak SMP yang terlalu cepat dewasa dilihat dari dempul di wajahnya, ibu-ibu arisan yang sedang bergosip dengan hebohnya di pojokan kedai, atau pasangan yang sedang kasmaran sehingga mereka memesan segelas minuman yang disedot berdua. Entah mereka sedang menghemat atau agar terlihat romantis, aku tidak tahu.
Aku cuma sendirian saja, mendengar alunan musik jazz instrumental yang melantun melalui speaker di sudut-sudut kedai, menikmati donat dan mengamati sekitar. Berpikir, betapa sebuah donat tak hanya bisa mengenyangkan perut, tapi juga bisa menjadi umpan untuk reuni bersama kawan lama, ngobrol tentang otomotif bersama klien, hadiah untuk kerabat yang berganti usia, modus untuk mendekati gebetan, teman menulis tugas artikel sejarah, dan juga efek nostalgia masa kecil yang indah.
Lubang di tengah donat, bagiku seperti terowongan waktu yang manis. Karena dari sana aku bisa membayangkan waktu-waktu yang kulewati bersama bibi cantikku yang sekarang jauh sekali rumahnya.
Manis.
Manis sekali.