Semua (Tak?) Sama

Rumah Filsafat

Magritte, 1928 Magritte, 1928

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Sekitar 12 tahun yang lalu, Padi, grup band asal Surabaya, mengeluarkan lagu berjudul “Semua tak sama”. Isinya tipikal lagu-lagu romantis. Seorang pria tidak dapat menemukan sosok pengganti kekasihnya. Kekasih barunya berbeda dari kekasihnya yang lama, yang masih dicintainya. “Semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kusentuh, apa yang kukecup”, begitu bunyi refren lagu itu.

Dulu, saya suka sekali dengan lagu ini. Namun, sekarang saya sadar, lagu ini memiliki kesesatan berpikir yang amat mendasar, yakni melihat kenyataan hidup sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda satu sama lain. Ia menyebarkan pesan, bahwa semua hal di dunia ini tak sama, maka harus dipisah-pisahkan satu sama lain. Banyak orang menerima begitu saja pesan lagu ini, tanpa berpikir kritis lebih jauh.

Apa yang Diajarkan Kepada Kita

Sejak kecil, kita juga diajarkan untuk melihat dunia ini sebagai sesuatu yang memiliki bagian-bagian…

View original post 913 more words