Enam Puluh Detik

Aroma tanah ini familiar

Sama seperti butiran air yang jatuh dari langit

Keroyokan. Menjengkelkan.

Membuatku harus mengenakan jas anti air ini

Susah payah aku membelah jalanan yang licin

Vespaku berdecit. Ada kucing menyebrang.

Aku mengumpat kasar

Kucing itu melengos begitu saja dengan tanpa dosanya

Jarum panjang menunjuk angka sebelas

Lima kali enam puluh detik lagi

Atau aku harus mengulang lagi tahun depan

Susah payah aku bersabar menunggu lampu menjadi hijau

Satu kelopak bunga diterbangkan angin

Aku mengumpat kasar

Tak tahukah kau, angin?

Ada satu orang perempuan yang akan pergi jauh

Dalam empat kali enam puluh detik ke depan

Susah payah aku memarkir kendaraan ini

Karena parkiran sudah penuh dengan kendaraan lain yang lebih muda usianya

Mereka sebut ini malam minggu

Aku sebut ini malam penentuan

Ada lelaki paruh baya yang meminta logam seribu perak

Aku mengumpat kasar

Ia tidak sadar aku sedang dalam keadaan tergesa

Karena dalam tiga kali enam puluh detik ke depan

Ada satu orang yang akan meninggalkan tempat ini

Susah payah aku mencari kamar kecil

Aku bertanya pada perempuan berwajah bulat bak ibu negara

“Mbak, toilet di mana ya?”

Ia menunjuk ke arah pukul tiga dan aku berterimakasih

Toiletnya terkunci. Di dalamnya ada manusia yang buang hajat.

Aku mengumpat kasar

Aku memukul pintu dengan tak sabar

Karena dalam dua kali enam puluh detik lagi

Aku harus sudah mengeluarkan cairan penuh urea dalam tubuhku ini

Bocah sipit berambut mangkok keluar dari toilet

Dan aku lega. Aku sudah buang air kecil.

Susah payah aku melihat sekeliling di depan pintu toilet

Aku mengumpat kasar

Kemana rimbanya perempuan ini?

Oh, dia di sana

Ia melirik jam tangannya dan bangkit dari duduknya

Sebelum satu kali enam puluh detik ini berakhir

Aku menghampirinya

Kuberikan ia seikat mawar merah

Keringat dingin meluncur dari dahiku

Ia diam saja. Ia pandangi bunga itu.

Lalu ia mengulas senyum di wajahnya

“Makasih ya,” katanya

Lalu ia meletakkan kembali bokongnya di kursi itu

Aku diam saja. Aku pandangi bunga yang kini sudah berpindah tangan itu.

Namun ia menarikku untuk duduk di sampingnya

Ia berikan saputangan untuk mengeringkan rambutku yang basah

Aku tidak lagi mengumpat kasar

Walaupun enam puluh detik terakhir sudah hilang

Karena sekarang tersisa enam puluh detik lainnya

Yang aku belum bisa hitung berapa kali banyaknya

Cerita Merpati: Elang

Aku menemukan diriku terengah dan mulutku menganga di depan kran air siap minum milik perusahaan air minum. Beberapa mililiter air membasahi kerongkonganku yang terasa panas sedari tadi. Dan aku seperti ber ‘ahhh’ kecil. Campuran perasaan lega, senang, dan mengimajikan iklan-iklan air minum yang biasa terlihat di layar kaca.

“Dik. Itu kamu yang berak di sana ya?” suara itu terdengar dari belakang punggungku. Aku menoleh ke arah rumput yang ia tunjuk. Kotoran anjing. Ada beberapa lalat yang menghinggapinya. Aku tidak mau mendeskripsikan benda yang mulai kering itu lebih lanjut. “Kamu kan suka berak sembarangan?” tanyanya lagi.

Aku mengelap keringatku dengan handuk yang aku rampas dari lehernya. “Nggak pernah! Aku nggak pernah pup di rumput!” aku membela diri. Aku masih mengingat memori itu. Saat aku berusia lima tahun, saat mama tidak ada di rumah, dan aku terlalu takut untuk pergi ke toilet. Ia datang saat itu, dan membantuku membasuh pantatku. Aku menangis. Itu pertama kalinya aku buang air besar di celana.

“Tapi di celana pernah kan?” katanya, sambil mendekati kran air siap minum. Aku mencari tempat untuk duduk. Kemudian ia menyusul. Siapa lagi yang bisa mengajakku untuk jogging di pukul empat pagi seperti ini kalau bukan Elang.

Sebelas bulan adalah selisih umur kami. Elang adalah nama burung yang menjadi namanya. Tampaknya Elang benar, papa dan mama memang menyukai burung sehingga menamai kami seperti ini. Aku tak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’ selama tujuh belas tahun aku bernafas. Karena ia lebih layak disebut sahabat dekat. Sahabat satu papa dan mama.

“Sepatuku udah nggak muat. Payah deh milih ukuran. Udah aku bilangin, ukuranku 40, bukan 39,” aku melepas sepatu dengan sentuhan warna merah jambu berlambang tanda centang itu. Itu adalah sepatu pemberiannya enam bulan yang lalu. Katanya, aku harus lebih sering keluar dan berlari, dibanding duduk di sofa dan makan kacang atom. Ia memang senang berolahraga. Hampir semua olahraga ia kuasai. Dari catur, basket, sepakbola, renang, tenis, futbol, dan banyak lagi. “Ya salahmu toh? Udah aku bilangin nggak ada ukurannya, tapi malah ngotot harus yang warna pink. Ulang tahunmu aku beliin deh,” ia rebahan di sampingku.

“Kok bisa kabur dari Narpati? Bukannya kamu nginep kemarin?” tanyanya. Aku menatapnya lebih lama. Ternyata sudah lama rasanya kami tak berbincang seperti ini– enam bulan adalah waktu yang lama, bagiku–dan duduk tanpa ada orang yang mengganggu. Aku memperhatikan garis rahangnya yang tegas, matanya yang tajam, dan rambutnya yang juga tajam bagai jarum. Ia benar-benar mirip papa. “Semalem aku di sana. Tapi kamu ngajakin jogging, ya aku kabur duluan,”

“Dia nggak marah kan, aku mengganggu tidur kalian?” itu sebuah ledekan. Aku tahu itu. “Nggak lah. Kecuali kamu nyulik aku sambil bekap mukaku pake kloroform, mungkin kamu udah dihajar duluan,” aku membanggakan Narpati yang aku tinggalkan saat ia tertidur pulas dan mendengkur halus.

Elang tertawa. “Tante apa kabar?” ucapnya. Aku mendecak kesal. “Elang. Itu mama. Bukan tante,” koreksiku. Ia menyeringai.

“Mama? Perempuan yang nggak pernah ada di rumah dan ngurusin anak-anaknya, itu yang kamu sebut mama? Perempuan yang ngebiarin anaknya pergi begitu aja seolah anaknya nggak ada artinya, itu yang kamu sebut mama? Perempuan yang bisa-bisanya kawin lagi sama laki-laki lain bahkan kurang dari setahun sepeninggal suaminya, itu yang kamu sebut mama? Perempuan yang punya satu ginjal dari orang lain tapi nggak pernah bilang terima kasih, itu yang kamu sebut mama? Bodoh,” ia tidak membentakku. Namun ada nada keras dalam suaranya.

Papaku meninggal dunia saat aku berusia delapan tahun. Saat itu Elang berumur sembilan tahun dan menjadi kakak kelas di sekolahku. Ia kelas lima, dan aku kelas empat sekolah dasar. Aku masih terlalu muda untuk merasakan apa itu kehilangan, namun Elang sudah tahu. Kata mama, papa meninggal karena mendonorkan satu ginjalnya untuk mama yang gagal ginjal. Namun satu ginjal papa tak kuat untuk mencuci semua darah yang mengalir di tubuhnya. Dan ia pergi begitu saja. Saat papa berubah wujud menjadi abu, aku tidak menangis. Aku tidak tahu, aku mati rasa. Tapi Elang marah dengan wajah yang merah dan pipi yang basah. Ia mengutuki mama dengan julukan pembunuh. Mama menangis sambil mendekap Elang, namun Elang meronta dengan sangat keras. Dan aku hanya diam saja. Aku tidak tahu, aku mati rasa.

Dan sekarang pun begitu, aku membisu.

Mama menikah dengan rekan kerjanya–yang belakangan kuketahui adalah teman SMPnya dulu–delapan bulan setelah papa meninggal. Aku masih terlalu muda untuk merasakan apa itu kebahagiaan, namun Elang sudah tahu, dengan cara yang sebaliknya. Ketika resepsi pernikahan, aku didandani seperti bidadari kecil yang lucu. Elang juga terlihat tampan. Mama dan oom–suami baru mama–terlihat bahagia, bersalam-salaman dengan handai taulan dan tertawa. Sementara itu di ruangan belakang, Elang memecahkan semua piring dan gelas kaca sebagai bentuk pelampiasan. Paradoks.

“Dia nggak tahu siapa kita, dik. Dia nggak mau tahu. Dia cuma mentingin kehidupannya sendiri dan suaminya yang doyan senyum-senyum nggak jelas itu. Dia nggak peduli, dik,” ia berucap lirih. Matanya menerawang.

Elang memang sungguh dekat dengan papa. Sedari dulu, papa selalu mengajaknya berkelana berdua.Ia pergi ke tempat-tempat yang indah di Indonesia bersama Elang, ia mengajarkan Elang naik sepeda roda dua dengan sabar, ia menidurkan Elang dengan dongeng, ia memandikan Elang, ia bermain pesawat, kapal, dan mobil mainan dengan Elang, ia menyuapi Elang dengan perkedel kentang yang dicocol kecap manis, ia tertawa dengan Elang, ia memarahi Elang karena berkelahi dengan teman sekelasnya, ia mencium Elang karena ia berhasil menjadi yang pertama yang mencapai garis finish pada kejuaraan lari antar kelas. Ia menyayangi Elang sepenuh hati, sama seperti Elang kepadanya. Tak salah ia mencetak segala miliknya pada diri Elang.

Bedanya, Elang lebih keras walaupun tak pemarah.

Mama memang jarang pulang ke rumah–rumahku dan Elang maksudnya–semenjak setahun terakhir. Ia lebih senang tinggal bersama suaminya, dan kedua anaknya yang lain. Di rumah yang lebih luas tentunya, yang lebih banyak berisi udara penuh kasih sayang. Maka dari itu aku menginap di rumah Narpati setiap pekan. Dan mama, memang tak peduli. Apakah aku menginap di rumah Narpati, tidur dengannya, atau melakukan apapun dengannya, mama tak pernah mau tahu. Untuk itu, kini aku mulai berpikir untuk menambah frekuensi waktuku untuk serumah dengan Narpati. Kalaupun ibu dan ayahnya datang, toh aku juga disambut hangat. Aku merasa berada di rumahku sendiri saat berada di tengah keluarga Narpati.

“Kita udah dewasa, dik. Kita juga punya definisi baik dan buruk menurut kita. Kita juga punya kehidupan sendiri. Okelah kalau dia memang mama kita. Tapi cuma sebatas itu. Nggak lebih,” ia bicara bagai berbisik.

Aku diam saja. Dalam hati aku sangat menyayangi mama. Tapi dalam otak, mama adalah orang asing.

Berbeda dengan Elang yang lebih sering ada di sini untuk mendengar segala keluh kesahku meskipun kami ada di benua yang berbeda–Elang mendalami ilmu kuliner di Prancis. Aku bercerita semuanya, tanpa ada yang ditutupi. Dan ia akan menjawabnya dengan tawa, atau dengan obrolan yang menenangkan.

Aku merasa beruntung masih punya seorang Elang di sini.

Dan aku mulai berpikir, ternyata Elang benar.

Cerita Merpati: Narpati

So you will face that thing all the time during our date?” keluhku kesal. Aku menyeruput minuman yang entah apa namanya, yang pasti komposisinya adalah kola dan sesendok es krim vanila di atasnya.

Laki-laki di depanku mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya ke arah mataku. “Ya enggak, sayang. Ini udah mepet deadline soalnya,” ia memperbaiki letak kacamatanya, dan kembali menekan-nekan tombol di keyboardnya dengan tidak sabar. Aku mendengus, lalu menyuapkan sepotong cookies  jahe ke mulutku. Ah, lezat sekali kue ini.

Inilah seseorang yang mengisi sudut-sudut hatiku selama lebih dari tiga tahun terakhir. Kami tidak menulis nama pasangan masing-masing di status BBM atau bio twitter atau jejaring sosial manapun, sehingga seringkali ia dianggap masih single pun aku. Tapi kami merasa hal itu memang tak begitu esensial untuk dilakukan. Rasanya kayak pamer, ia sering bilang begitu. Kayak ABG yang baru kenal sama yang namanya pacaran, malu ah, katanya lagi. Yang punya hubungan kita, bukan siapa-siapa, katanya selalu.

Aku tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan atau apapun itu judulnya, karena ternyata namanya hampir sama denganku. Narpati dan Merpati. Aku sempat mencari makna  namanya di mesin pencari Google yang suka membantu itu. Kata salah satu website, Narpati berarti raja. Sesungguhnya aku agak kecewa, karena arti namanya bukan burung, sama seperti milikku.

“Dua hari lagi aku liputan ke Ubud. Ada sesuatu yang kata editorku menarik di sana. Bisa dijepret, bisa ditulis,” ungkapnya dengan bersemangat, sambil mencomot cookies jahe yang sedari tadi kami bagi. Aku menyisir poniku dengan jari. “Oh ya? Kapan mau ajak aku ke sana?”

Narpati diam saja. Ia mengunyah cookiesnya dengan santai. Selalu seperti itu. Ia adalah seorang fotografer sekaligus penulis lepas untuk salah satu media berbahasa Inggris yang bernama ibukota Indonesia, ditambah kata the di depannya, dan post di belakangnya. Ia mengerjakannya dengan sepenuh hati. Sebanyak kesenangannya terhadap kartun Spongebob Squarepants di akhir pekan. Ya, dia lebih sering bermalam minggu dengan benda kuning yang biasa digunakan untuk mencuci piring itu. Selama tiga tahun lebih kami berpacaran, rasanya dia belum pernah mengajakku kencan dengan baik dan benar.

Kami bertemu di tahun pertamaku di SMA. Saat itu ia sudah berada di tahun terakhir. Aku lupa bagaimana bisa aku menerimanya sebagai pacar, karena sebetulnya kami tidaklah terlalu mengenal satu sama lain. Yang aku ingat hanyalah ikal rambutnya, kacamatanya, setangkai mawar putih pemberiannya, dan pecel lele pinggir jalan. Mawar itu kusembunyikan dari mama. Mama belum membolehkan aku punya pacar saat itu. Sehingga aku menyelipkannya di antara lembaran buku latihan matematikaku. Dan sampai sekarang mawar itu masih di sana. Masih tersimpan dengan sangat baik.

“Nar. Rugi loh aku udah dandan cantik kayak gini, tapi kamu malah pacaran sama laptop,” ucapku, sambil mengamati rambut-rambut yang tumbuh di sekitar dagu dan mulutnya. Ia bercukur hari ini. Padahal aku lebih menyukai jambang yang menutupi bagian bawah dan samping wajahnya. Tapi tak apa, aku juga suka menyentuh rambut-rambut tajam khas orang yang baru bercukur.

“Iya kalau ini udah kelar ayo kita pacaran lama-lama,” jawabnya dengan asal, tetap dengan perhatian yang penuh pada laptopnya.

Aku tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan atau apapun itu judulnya–lagi, tapi aku selalu menemukan Narpati di mana-mana. Di kampus, di rumah, di halte bus, di mural tembok-tembok tinggi, di toko buku, di bioskop, dimana-mana. Tidak, dia tidak merangkap pekerjaan sebanyak itu. Hanya saja aku selalu merasa aku bertemu dengannya, dimanapun. Kami kuliah di universitas yang sama, fakultas yang sama, dan jurusan yang sama. Untungnya kami beda semester. Aku masih di semester dua, dan dia di semester enam. Kami sama-sama mendalami Sastra Inggris. Padahal itu bukan subjek favorit kami. Ia lebih menyukai hal-hal yang berbau kebebasan, seperti seni atau fotografi. Dan aku lebih suka berpikir sehingga filsafat kurasa cocok untukku. Tapi nyatanya kami dipertemukan di tempat yang sama lagi.

“Aku nambah lagi ya?” rengekku dengan manja. Kini aku meraih kacamatanya yang berbingkai hitam agar perhatiannya juga bisa teralihkan sejenak. Ia berdecak, dan menatapku dengan gemas. “Balikin dulu, baru aku kasih kamu nambah cookies,” ucapnya sambil mencubit pipi kananku. Ada bekas yang tercetak di pangkal hidungnya. Aku ingin menyentuhnya.

“Nggak mau. Aku mesen dulu, terus kita makan bareng, terus baru deh aku balikin kacamatanya,” aku mengeluarkan suaraku yang kekanakan. Aku suka menjadi manja dan menjadi anak kecil di dekatnya.

Ia putus asa, lalu memindahkan tubuhnya untuk duduk di sebelahku. Kini kami tak lagi duduk berhadapan.

“Oke. Untuk Mademoiselle Merpati yang geulis dan gorgeous, monggo dipesen kue jahenya,” ucapnya dengan gestur yang dilucu-lucukan dan bahasa yang dicampur-campurkan. Tawaku meledak, namun aku menutup mulutku dengan tangan kananku. Narpati selalu bisa membatalkan marahku terhadap apapun, termasuk marahku padanya. Ia menyentuh kaosku yang berwarna kelabu, tua bagai sudah digunakan bertahun-tahun. Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya yang dibalut kaos bergambar Homer Simpson. Aroma tubuhnya memenuhi hidungku. Ia mengusap rambutku dengan sangat pelan. Tak bersuara.

Would you stay forever?” tanyaku padanya. Seringkali kami tak bicara saat bertemu. Hanya diam saja. Kagok. Aku tidak tahu harus bilang apa, karena yang aku inginkan cuma dia dan kehadirannya di sini.

Ia menghela nafas, aku tahu itu. Aku rasakan udara hangat yang menyusup di antara rambutku. “There is no forever, dear,”

Kini aku yang diam. Aku mencerna kata-katanya. “Then why are you here now? Why God planned us to be together if there is no forever?”

“I don’t know. But we already made it. We’re making it. We will make it. We will make the definition of forever by ourselves. We will through all the ups and downs together. There will be years that we face together. There will be a baby boy as the result of our love. We will build a small yet comfortable house to live in. You will make me and our son a delicious breakfast. I will come home from the whole tiring day and hug you both. And we will live each day together. Forever in our own,” terangnya.

Aku masih diam saja. “You are such Mr. Well-Prepared, Nar. I won’t marry you in this kind of time, actually,” aku merasakan ujung-ujung bibirku terangkat saat mengucapkan hal itu. Oh tidak, sedari awal memang begitu.

“Not now but eventually,” ia mengucap sambil menarik tubuhnya, tanda aku sudah cukup berat untuk bersandar di bahunya. Senyumnya juga ada di wajahnya. Sama seperti milikku. Aku melihat lesung pipinya. Manis sekali. Ia memberikanku pandangan nakal yang seolah berkata ‘bener-kan-gue-lu-mau-bilang-apa-yang-penting-gue-bener-kan-ngaku-aja-lu’.

“So… Lu jadi nggak beli cookies?” ia menatapku dengan tatapan curiga.

Aku menggeleng. “Kagak. Gue udah males. Udah nggak niat,” jawabku dengan tawa tertahan. Kami memang selalu bisa seperti ini. Bisa manis layaknya pasangan pengantin baru, bisa pahit layaknya musuh besar, bisa asam seperti kawan yang sudah berteman selama satu dekade.

“Ya udah. Yuk balik. Giliran kamu yang nginep hari ini,” ia menutup laptopnya dari belakang. Tampaknya pekerjaannya sudah selesai.

“Oh ya?” aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. “Ah. Udah hari Kamis. Aku lupa ini giliranmu yang sediain rumah. Ayo. Siapa takut?” tantangku. Aku melihat lesung pipinya lagi. Aku tahu ia menahan diri untuk tidak menciumku.

Dan kami pun keluar dari restoran kecil itu setelah membayar sepiring cookies dan dua gelas minuman yang aku lupa namanya sampai sekarang. Kami menuju rumah kecil Narpati yang sejak satu tahun lalu aku singgahi untuk menghabiskan malam bersama di setiap pekannya.

Aku harap bisa selalu seperti ini. Menghangatkan diri di bawah selimut yang sama, terlelap bersama, terjaga bersama, menjalani hari bersama.

Selamanya. Selamanya dengan makna yang kami buat bersama-sama.

Cerita Merpati: Mama

Tatapan mata itu menyapuku seperti debu yang berserakan di lantai. Ia membuat gestur pada wajahnya yang tirus kurus, seolah aku adalah terdakwa yang pantas dijatuhi hukuman mati. “Kenapa kamu?” tanyanya dengan nada sedikit cuek.

Aku menggeser letak pantatku yang tidak nyaman mencium sofa merah tua bulukan ini. Sofa ini menghisapku perlahan, geramku dalam hati. “Umm,” aku menghela nafas. “Nggak apa kok, ma,”

“Bohong,” balas mama datar. Ia memindahkan pandangannya ke arah televisi dengan antena menyembul di hadapan kami. Ia menekan tombol remote perlahan. Ia mencari sinetron favoritnya, tebakku.

“Mama tahu kamu kayak gimana. Mama sudah hidupi kamu selama tujuh belas tahun. Dulu kamu keluar dari lubang yang di sini,” ia menunjuk bagian bawah perutnya. Namun matanya tidak ke arahku. Aku menelan liur. Benarkah aku keluar dari liang kecil yang guru biologiku–yang wajahnya jahat itu–sebut sebagai vagina? Sekecil itukah aku? Tidak adakah jalan lain yang lebih luas bak jalan protokoler tanpa kendaraan sehingga aku bisa meluncur begitu saja dari perut mama tanpa ia mesti merasakan sakit?

“Kamu. Mama ajak ngomong tapi nggak jawab. Bener toh kamu ini kenapa-kenapa?” mama kembali bersuara. Oh iya benar. Aku terlalu pusing memikirkan jalan alternatif untuk kelahiranku di masa lalu dan mataku menerawang ke arah sinetron favorit mama yang sedang tayang di layar televisi 21 inci.

“Ah. Enggak, ma. Udah aku bilang nggak ya nggak,” aku ngotot menjawab, namun tak menemukan nada semangat dalam suaraku. Aku mematahkan leherku yang pegal karena senam lantai kemarin sampai berbunyi. Kiri, kanan, ah.

“Merpati. Itu nama yang mama kasih buat kamu. Sederhana. Nama burung. Tapi cantik. Mama pengen kamu jadi merpati. Tangguh mengepakkan sayap, namun tetap anggun dan cantik. Jangan sampai kamu sia-siain nama yang sudah mama kasih. Walaupun cuma nama burung,” mama membuka toples yang berisi kacang atom yang berdiri di atas meja kaca. Ia mengambilnya sebutir, menggoyangnya di udara, lalu melahapnya. Renyah. Aku mendengar suara tepung putih yang membungkus butiran kacang tanah itu hancur di dalam mulut mamaku yang tak pernah tercium bau walaupun sering tak makan seharian.

Aku diam lalu bangkit. Celana pendekku melorot. Aku menaikkannya, lalu menghempaskan dudukku kembali di sofa merah penghisap itu. Aku memperhatikan penampilanku. Aku. Dengan kaos oblong putih yang kebesaran. Tali bra berwarna hitam menggantung di bahuku, aku menyembunyikannya. Dadaku rata, sama seperti punya mama. Kulitku putih, memang. Maka dari itu aku suka mengenakan celana pendek. Tapi baru-baru ini betisku digigit nyamuk. Sehingga ada bekas merah di sana. Rambutku ikal dan hitam. Aku menjepitnya dengan asal dengan jepitan rambut seharga semangkuk bakso di pasar. Mamaku membelikannya. Katanya aku selalu menghilangkan barang. Lalu ia memutuskan untuk membelikan jepit rambut yang murah saja. Beberapa helai rambut jatuh di bahuku. Beberapa helai lainnya menutupi dahiku yang lebar dengan tidak rapih. Mataku punya kantong. Aku biasa tidur pukul tiga pagi karena berpikir. Bibirku berwarna gelap. Aku mewarisinya dari papa. Padahal ia tidak merokok, pun aku. Tubuhku aku warisi dari mama yang tinggi dan kurus. Tidak ada bedanya jika aku makan banyak atau tidak makan sama sekali. Berat badanku tetap 48 kilo. Oh, sekarang sudah naik jadi 50 kilo.

Aku menaikkan kakiku seperti orang yang sedang makan di warteg. Lalu menguap tidak perlu. Mama memukul pahaku, tanda aku harus menurunkan kakiku. “Harus biasa, walau papa udah nggak ada, kamu harus bersikap sopan,” ujarnya dengan datar.

Aku membuat paruh bebek dengan bibirku. Lalu aku menatap televisi. Ah, sinetron. Yang pemeran utamanya bertemu karena kebetulan. Lalu salah satunya masuk rumah sakit, mati, dan tiba-tiba hidup lagi. Andaikan realita bisa semudah itu. Membangkitkan orang mati hanya dengan jentikan jari saja.

“Ma,” panggilku perlahan.

Mama tidak menjawab. Namun ia berdeham yang aku anggap sebagai respon pendengarannya terhadap suaraku.

“Aku… Aku sayang mama,”

Mama diam. Matanya terus menerus berada di layar televisi. “Kamu udah tahu toh, kalau mama nggak sayang sama kamu, mama udah pergi ke dukun aborsi sejak mama tahu kamu ada di perut mama selama tiga minggu,”

Ia lalu menekan tombol merah di remote. Televisi redup seketika.

“Kamu ada di sini saja, di samping mama saja, mama sudah senang sekali,” ucapnya dengan senyum yang tersembunyi di balik datar raut mukanya. Bibirnya tidak tersenyum. Namun kulihat matanya tersenyum. Ia mengusap rambutku dengan lembut perlahan, sama seperti yang dilakukan pacarku kepadaku sebelum kami berciuman.

Lalu ia meninggalkanku. Sendirian.

Lalu aku terisak. Sendirian.