Kunang-Kunang

Di antara derak pohon jambu di tepi jalan depan rumahmu
Ada kunang-kunang di sana
Banyak, banyak sekali
Mereka bersarang di sana, membiakkan diri hingga turunan yang untungnya masih bisa dihitung jari
Akan lebih baik lagi jika petang tiba
Mereka akan terbang dari persembunyiannya
Derak itu makin jelas terdengar di daun telinga
Ada satu, dua, tiga anak berbisik
“Wah serangganya terang ya,”
Mereka bertambah lagi
Ada empat, lima, enam anak mulai berbincang
“Itu kunang-kunangnya banyak sekali,”
Mereka bertambah lagi
Ada tujuh, delapan, sembilan anak berteriak
“Kunang-kunangnya bagus sekali!”
Mereka bertambah lagi
Ada satu. Satu. Satu anak datang
Bukan anak-anak
Itu kamu
Kamu menghalau mereka, menghalau anak-anak itu
“Jangan diganggu ya kunang-kunangnya,” ucapmu
Mereka diam, satu anak protes dan satu anak lagi dan satu anak lagi
“Ada saatnya kita biarkan keindahan yang paling indah terbang lepas bebas,”
Filosofi picisan
Aku mendengarnya dari sini
Mereka diam, satu anak terbahak dan satu anak lagi dan satu anak lagi
“Daripada kunang-kunangnya ditangkap tapi nggak bisa bersinar lagi?”
Pertanyaan bodoh
Aku mendengarnya dari sini
Mereka diam, satu anak membisu dan satu anak lagi dan satu anak lagi
Nggak ada yang suka dikekang, apalagi dipermainkan,”
Rayuan gombal
Aku mendengarnya dari sini
Mereka diam, satu anak bosan dan satu anak lagi dan satu anak lagi
“Makanya dilepasin aja ya? Jangan dikerubungin gitu,”
Permohonan temporer
Aku mendengarnya dari sini
Mereka diam, satu anak pergi dan satu anak lagi dan satu anak lagi
Tujuh detik kamu tersenyum melihat kunang-kunang itu
Lalu perlahan melangkahkan kakimu menuju rumah tipe 21 yang kamu kontrak dengan hasil keringatmu sendiri
Aku menatap pergelangan tangan kananku lurus-lurus
Di sana masih melingkar, gelang pemberianmu dulu, penanda tiga tahun milik kita
Memaksa untuk mengangkat ujung-ujung bibirku, aku menghela nafas
Gelang ini harus kulepas dan kubuang jauh
Sehingga tidak ada lagi yang bisa mengikat kamu dan aku
Kunang-kunang masih berterbangan
Cahayanya kecil-kecil namun mampu menerangi mataku
Pintu pagarmu yang berkayu berderak, sama seperti bunyi pohon yang mengakar di depannya
Kamu di sana. Membuka pintu dan tersenyum
Matamu juga tersenyum ke arahku
“Sayang?” panggilmu halus
Serasa dunia berputar cepat, cepat sekali
Nafasku menghambur satu-satu
Aku merinding, terlambat
Gelang itu sudah kubebaskan ke arah kunang-kunang itu
Jadi kebebasan juga milikku sekarang
Bukan salahku, sayang
Biarkan aku bebas terbang melayang
Kini, bersama kunang-kunang.