Bakal Jadi Kenangan

Image
Suasana jumpa pers tentang Presslist 4 siang ini. (gvn)

A.A. Ayu Mas Bhuwaneswari duduk di sebelah Ananta Wijaya dan tersenyum manis. Sembari melambaikan tangannya sesaat, ia memulai acara jumpa pers di siang hari ini.

“Terima kasih atas waktunya, saya di sini selaku sekretaris umum dan SC—steering committee/panitia pengarah—pada Presslist 4, yang sudah berlangsung lancar pada Sabtu, 24 Agustus 2013 yang lalu,” ucapnya dengan tenang setelah dipersilakan untuk berbicara oleh Ananta selaku moderator dalam jumpa pers, Minggu (8/9), di ruang Pradnya Paramita SMAN 3 Denpasar. Jumpa pers siang ini dilakukan dengan agenda untuk bertanya seluk-beluk acara tahunan Madyapadma Journalistic Park, yakni Presslist yang kini sudah memasuki tahunnya yang keempat.

Ada empat lomba yang digalangkan oleh Presslist 4, yakni lomba kording untuk pelajar SMP tingkat nasional, Youth Sineas Award yaitu lomba film cerita dan dokumenter se-nasional. Dua lomba yang menjadi terobosan baru dalam Presslist tahun ini adalah lomba majalah untuk pelajar SMP se-Bali, serta lomba blog untuk pelajar SMP dan SMA se-Bali. Selain lomba-lomba tersebut, buku karikatur bertajuk Bali Hahaha…Hihihi… dan buku Surat untuk Presiden juga diterbitkan dalam acara yang sempat dibicarakan di 16 media massa ini.

“Buku karikatur ini dibuat dan dikerjakan sendiri oleh Madyapadma Journalistic Park, dan buku Surat untuk Presiden merupakan buku hasil dari Pelatihan Kepemimpinan Siswa Tingkat Dasar milik Madyapadma, di mana buku itu merupakan himpunan surat yang ditulis untuk presiden karya siswa-siswi SMAN 3 Denpasar,” tutur Ayu Mas kembali. Ia juga mengisahkan bagaimana rencana mendatangkan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, untuk membuka acara Presslist 4 yang gagal, sehingga diganti oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Denpasar. Namun rencana itu pun pupus pula ketika saat hari-H kepala dinas yang ditunggu jua batal untuk hadir. “Panitia sempat bingung, akhirnya kita berhasil mendatangkan Pak Django, pemilik Bogbog yang juga alumni Trisma. Tapi Pak Supartha selaku perwakilan dari dinas pun akhirnya datang. Dan akhirnya kita sepakat untuk keduanya membuka Presslist 4,” tukasnya sambil menghela nafas.

Berbicara tentang kesepakatan, rupanya banyak kesepakatan telah diambil oleh panitia Pressslist 4. Seperti dalam urusan lomba yang terpaksa dipangkas akibat dana yang tidak mencukupi. “Sebenarnya ada lomba fotografi dan lomba karikatur dalam Presslist 4 ini. Namun karena dana yang kurang, kami terpaksa memangkasnya. Tapi sebisa mungkin, harus ada sesuatu yang baru dalam Presslist tiap tahunnya, dan kami sudah buktikan dengan lomba majalah dan lomba blog yang tidak ada di tahun lalu,” papar Ayu Mas. Soal dana, tim jurnalistik yang sudah cukup dikenal namanya ini memang cukup gigih untuk mendapatkannya. Mereka berani untuk ‘memulung’ dan mengumpulkan barang bekas demi menambah dana. Diakui pula, hasil penjualan barang bekas ini memang menghasilkan dana yang cukup lumayan, walaupn masih belum mencapai target yang ditetapkan.

Di balik cemerlangnya perhelatan Presslist, ternyata terselip cerita duka seperti dana yang kurang, panitia yang tidak berani memastikan dana dari sponsor, atau kurangnya jumlah dan kinerja dari tim panitia. “Berbeda dengan tahun ini, tahun lalu memang kinerjanya jauh lebih baik dari kita. Contohnya dari hasil penjualan barang bekas yang lumayan,” kata Ayu Mas. Ia pun memberikan tips untuk kesuksesan yang lebih besar lagi dalam Presslist tahun depan, seperti dalam hal menjaga kekompakan tim, kematangan untuk persiapan acara, dan mencari hal baru yang bisa diangkat agar mempertahankan tradisi Presslist yang selalu menyuguhkan sesuatu yang berbeda di tiap tahunnya.

“Ada pertanyaan lagi mungkin, kawan-kawan?” lempar Ananta kepada tujuh jurnalis muda yang sibuk dengan kamera maupun pena dan kertasnya. Satu jawaban pun menyeruak dari pertanyaan terakhir: tiga kata untuk Presslist 4. “Bakal jadi kenangan,” jawab Ayu Mas dengan senyum tertahan. (okt)

Youth Sineas Award 2013: Sukses!

Keriuhan selalu terdengar ketika video nominasi untuk film cerita Youth Sineas Award 2013 diputar di layar. Satu di antara film-film yang muncul tak kurang dari sepuluh detik itu menampilkan scene seorang pemuda yang bersepeda di pinggir sawah.

Setelah pemuda bersepeda itu tak terlihat, mucullah tulisan bersambung yang menggurat langit dalam film itu. Aminah, itulah tulisan yang terlihat. Film ini membawa tepuk tangan seisi workshop SMAN 3 Denpasar terdengar saat perhelatan Presslist 4 (24/8) lalu. Apa pasal? Karena film karya Lellebelle Production, Yogyakarta ini nyatanya berhasil memenangkan sembilan dari sepuluh nominasi dalam kategori film cerita Yoth Sineas Award 2013.

ysa_zpsf5b8c066Banner Youth Sineas Award 3 dalam web Madyapadma

Youth Sineas Award yang merupakan bagian dari Presslist 4 memasuki tahunnya yang ketiga. Dua belas film cerita dan delapan film dokumenter termasuk dalam lomba yang diikuti oleh sineas-sineas muda se-tanah air ini. Mereka memperebutkan sepuluh nominasi untuk film cerita dan enam nominasi untuk film dokumenter. YSA tahun ini dihiasi oleh beragam jenis dan gaya. Maka tak heran, para juri pun terlihat sangat sulit untuk menentukan pemenang dari lomba ini. “Sineas-sineas muda tahun ini sudah sangat mengerti tentang apa itu film dokumenter. Namun perisetan sebelum menggarap film dokumenter perlu dilakukan lebih dalam agar mendapatkan hasil yang lebih baik lagi,” tutur Made Panca Dwipayana (Pimpinan Digital Traffic Counting Solution / Filmmaker) selaku juri dalam kategori film dokumenter  Youth Sineas Award 2013.

Selain Made Panca Dwipayana, juri dari kategori film dokumenter Youth Sineas Award 2013 adalah Made Birus Suarbawa (Videografer dan Editor GDV Bali Video Production). Sedangkan Kesuma Yudha (Filmmaker) dan Gede Mantra (Direktur GDV Bali Video Production) adalah juri untuk kategori film cerita. Tak kurang, I Wayan Ananta Wijaya (pembina jurnalistik Madyapadma Journalistic Park) adalah juri berikutnya yang merangkap untuk menilai katergori film dokumenter dan cerita, sehingga terdapat tiga orang juri di masing-masing kategori. Mereka mengakui adanya hawa persaingan yang kuat dari nominator-nominator YSA tahun ini. “Namun film yang memenangkan YSA tahun ini memang film yang pantas untuk menang,” tutur I Wayan Ananta Wijaya di sela-sela perbincangannya bersama anggota Madyapadma Journalistic Park (28/8) lalu.

Penari Sunyi karya K3 (Kita Kaya Karya) Pro, Ubud, juga tak berbeda jauh dengan Aminah yang memboyong hampir semua nominasi. Film yang menceritakan tentang gadis tuna wicara yang pandai menari ini sukses menarik perhatian para juri dan memenangkan empat dari enam nominasi dalam kategori film dokumenter. Lantas, siapakah yang mengisi nominasi yang tak direbut oleh Aminah dan Penari Sunyi? Everybody Can Be, karya mahasiswa Universitas Udayana berhasil mencuri penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik dalam kategori film cerita. Dan untuk Sinematografi Film Dokumenter Terbaik dan Tata Musik/Suara Film Dokumenter Terbaik diraih oleh Menapakkan Makna Sejarah dari Bumi Menjangan, karya siswa SMAN 1 Banjar. (Hasil selengkapnya bisa dilihat di sini)

“Senang sekali YSA tahun ini dapat berjalan lancar. Walaupun kami kekurangan anggota tim, tapi berkat bantuan pembina, alumni, dan rekan-rekan panitia, YSA akhirnya dapat terwujud dengan sukses,” ucap I Gusti Bagus Pramundana selaku panitia pengarah YSA 2013 dengan senyum. “Sukses terus buat Presslist dan Youth Sineas Award,” kata Risanggalih Aditya, produser film Aminah melalui pesan singkat yang dikirim kepada salah satu panitia. (okt)