Setahun Kemarin

Ruangan berbalut karpet hijau ini sepi.

Sejuk. Kipas angin berputar dengan cepatnya.

Radiasi layar laptop melelahkan dua bola mata.

Riuh ramai di bawah sana, ada siswa-siswi angkatan baru berbaris.

Teriakan kawan-kawan memekikkan telinga.

Kerongkongan kering, tak jua tersapu segarnya air mineral.

Menyibak tirai jendela dan melihat ke bawah, perasaan itu muncul kembali.

Setahun kemarin.

Setahun kemarin kami merasakan hal yang sama.

Setahun kemarin pula kami mendapati diri kami begitu bahagia.

Ya, setahun kemarin.

Setahun kemarin saya mulai memahami lingkungan saya yang baru.

Setahun kemarin pula saya mengenakan seragam ini dengan bangga.

Benar. Setahun kemarin, hingga di detik saat saya menulis semua kata-kata ini, saya adalah seorang remaja, dengan status sebagai pelajar sekolah menengah atas.

Menemukan lingkungan baru, kawan baru, guru baru, pelajaran baru, cinta baru, benci baru, hidup baru.

Segalanya tidaklah sama; baru, berbeda jauh.

Tapi saya menikmati semua detik yang berlalu.

Saya, bahagia.

Menemukan diri saya seperti saat ini, semuanya berawal dari setahun kemarin.

Manis. Pahit. Canda. Riang. Tawa. Suka. Duka. Tangis. Amarah. Cinta. Benci.

Bahagia.

Ya. Saya bahagia.

Saya dikelilingi oleh suasana yang terisi penuh oleh berbagai rasa. Saya belajar. Saya terjatuh. Saya bangkit. Saya jatuh cinta. Saya patah hati. Saya kehilangan arah. Saya menemukan kompas.

Semuanya, berawal dari setahun kemarin.

Ah, waktu cepat sekali berganti. Memang seharusnya begitu, bukan?

Semuanya naik tingkat, menapaki tiap-tiap undakan perlahan.

Ukiran memori lalu yang penuh nostalgia, tidak akan pernah terulang kembali.

Semuanya berlalu cepat dan berganti.

Semuanya menghirup aroma yang baru, sama seperti setahun kemarin.

Setahun kemarin.

Ya. Setahun kemarin.