Aku mendengarmu bicara padaku lewat lagu-lagu ini

Hai, Pa. Tahu enggak? Semenjak kamu pindah, hidupku sebenarnya sangat asyik, lho. Ya, bedanya cuma aku enggak bisa pamer secara langsung aja ke kamu. Sehari-hari aku mengerjakan hal yang kamu kerjakan dulu (dengan lebih baik, tentunya, wle!)! Aku jalan-jalan setiap hari, blusukan ke desa-desa, ngobrol, kerja, dan belajar bareng orang-orang di sana. Oh ya, aku menanam lebih banyak bunga di rumah, biar nggak ijo mulu, bosen tahu? Aku juga tanam beberapa tanaman yang bisa langsung kumasak. Halaman kita sudah naik kelas, bukan cuma hutan ijo-ijo aja!

Aku ingin lanjut kuliah lagi, sesuai harapanku, sesuai harapanmu (lancarin dong, ah!). Aku belajar berenang biar enggak tenggelam lagi, biar bisa pede ketemu kamu di laut. Aku belajar nyetir lagi, untungnya enggak sama kamu, soalnya kamu suka resek dan bingungan kalo nyetir. Dan yang terbaru, aku ke dokter gigi sendiri!! Inget enggak, dulu kamu bentak aku di ruang dokter gigi puskesmas sampai semua orang keluar karena ketakutan? Dulu aku takut, sekarang enggak lagi.

Aku enggak takut lagi, karena kamu selalu di sini. Ya, kan? Ngaku deh!

Perjalanan pulang kantorku sambil nangis ingat kamu, 2022

Mungkin kamu memang cuma berpindah ruang dan dimensi aja, ya? Cuma kembali membaur jadi anasir-anasir yang menghimpun semesta. Makanya aku bisa menemukan kamu dimana-mana. Di padat, di air, di udara, di api, di kosong. Buktinya aku selalu ngerasa kamu menemaniku. Ketika aku sosialisasi depan bapak-bapak di desa atau teman-teman kantormu, ketika aku masak sambel terasi, ketika aku di perjalan pulang kantor dan merasa capek plus kangen sekali. Kapanpun. Kamu selalu di sini.

Aku percaya kamu memberi banyak tanda atas kehadiranmu. Salah satunya lewat lagu yang mungkin tiba-tiba diputar di kafe tempatku sering laptopan (oh ya Pa, aku udah bisa ngopi, lho!), atau yang diputar acak di Spotify, atau yang ujug-ujug rilisan fisiknya begitu mudah dijangkau dan dibeli, atau yang aku sudah kenal selama ini, yang kemudian kini jadi begitu berbeda maknanya.

Dulu, waktu aku TK, aku mendapatkan VCD player sebagai hadiah atas juara 1 lomba mewarnai. Keesokan harinya kamu membeli banyak sekali VCD yang hendak kita putar. Kebanyakan bajakan karena kamu beli lewat penjaja VCD yang suka melipir ke kantor. Aku ingat VCD pertama yang kita nyanyikan bersama dengan fitur karaoke saat itu adalah kumpulan lagu Bee Gees, “How Deep is Your Love” di trek satu. That one VCD was a heavy rotation back then. Walaupun beberapa tahun kemudian kuketahui lirik karaokenya ternyata bosok banget, enggak ada proofreading-nya.

Lalu setelah keluarga kita berhasil membeli mobil, sedan Timor putih bekas, kamu beli banyak kaset di Matahari yang waktu itu masih ada toko musiknya. Kaset The Best of Rolling Stones yang paling kuingat, “Start Me Up” di trek satu. Ada begitu banyak VCD, kaset, dan gumaman-gumaman nada dari mulutmu yang kita nikmati bersama, dari musik yang pop, rock, keroncong, instrumental, pop bali, semuanya. Kecintaanku pada musik berawal darimu.

Maka dari itu, tidak salah jika aku akan senantiasa menjumpaimu dalam lagu. Lagu-lagu yang kucari kalau aku lagi butuh ditemani kamu. Ketika aku menemui masalah di pekerjaan. Ketika perkara hati menjadi pelik sekali. Ketika mimpi-mimpi terasa begitu jauh. Ketika hidup terasa membingungkan. Dan ketika-ketika lainnya. Rasanya seperti aku mendengarmu berbicara padaku lewat lagu-lagu ini. Lagu-lagu yang kemudian kujadikan daftar putar di Spotify, untuk memudahkanku menjumpaimu.

  1. The Rolling Stones – “Wild Horses”
    Lagu ini awalnya memang lagu ninabobo untuk anak Keith Richards, dan aku akan tetap menganggapnya begitu walaupun Mick Jagger mengubah arah kemudi lagu ini. Masuk ke intronya akan mengingatkanku pada masa-masa penelitian tesismu. Kami sekeluarga senantiasa menemanimu saat itu, sampai kakiku lecet bolak-balik hutan mangrove dengan sandal jepit bunga matahari menunggu kamu yang entah melakukan apa. Kini, giliran kamu yang menemani kami selalu, dari jauh.
  2. Bee Gees – “Run to Me”
    Sejujurnya, sebelum menaruhnya daftar putar ini, di antara tembang Bee Gees lainnya yang sudah terlampau sering kudengarkan karenamu, lagu ini cuma pernah kudengarkan dengan hitungan jari saja. Namun, semenjak membawa pulang CD The Very Best of Bee Gees dari Records Store Day tahun ini, lagu ini menjadi heavy rotation kalau aku lagi kangeeeen sekali padamu. Seolah benar itu kamu yang mengatakan padaku, “Am I unwise to open up your eyes to love me? // Run to me whenever you’re lonely / Run to me if you need a shoulder…” Seolah mengingatkanku kalau-kalau aku lupa bahwa kamu selalu menungguku pulang ke dekapanmu, ketika mungkin aku sedang dimabuk hal lainnya.
  3. The Jackson 5 – “I’ll Be There”
    Kamu suka menyanyikan sepatah dua patah lirik lagu-lagu Michael Jackson. Tapi untuk yang ini, kamu kerap menyanyikan bagian “Just call my name / and I’ll be there…” Kalau dulu tiap memanggilmu justru tak selalu berbuah kamu hadir di sini, sekarang, setiap aku panggil, aku yakin kamu akan ada di sisiku tanpa ba-bi-bu. “I’ll be there with a love that’s strong / I’ll be your strength, I’ll keep holding on…” Walaupun lagu ini ceria, yang kuingat adalah aku nangis dengar lagu ini di perjalanan pulang dari Gerokgak ke Tabanan kota, sepulang kerja lapangan.
  4. Leonardo Ringo – “Wondrous Sky”
    Lagu yang dengan sangat tidak sengaja kutemukan di Spotify, tapi kemudian jadi sangat-sangat berarti buatku. Lirik “If you feel so curious just let it go / If you feel obnoxious, don’t let me go / If you feel uncertain, don’t you worry / Don’t you worry…” sepertinya sudah cukup menjelaskan mengapa lagu ini omonganmu banget ya, Pa? Kamu yang selalu nyuruh aku tenang dan santai padahal gara-gara mandi dan buang airmu lama, aku jadi ketinggalan pesawat ke Jogja (dan kamu harus belikan tiket lagi dengan harga sejuta, ha!). Oh ya, senang sekali album The Sun dirilis ulang dalam versi kaset di Records Store Day tahun ini. Walaupun tidak berhasil beli di tempat (terima kasih banyak usahanya, Thovan!), setidaknya sekarang kurir sedang mengantarkannya untukku dari toko musik daring.
  5. Perunggu – “Pastikan Riuh Akhiri Malammu”
    Perunggu sudah jadi favoritku dari single “Biang Lara”, dan album Memorandum memang kuakui jempolan. Namun, di antara semuanya, lagu ini paling bangsat. Beberapa hari lalu, aku mendengarkannya sepanjang bekerja di kantor (sambil nangis), lalu kulanjutkan berulang ketika perjalanan pulang (sambil tetap nangis). Semua larik dalam liriknya bermakna buatku, Papa yang selalu menemaniku, yang selalu ingin hadir di saat-saat yang bahkan tak bisa ia hadiri, yang ingin aku bertumbuh melampaui apapun yang telah ia capai, yang akan melakukan apapun semampu yang ia bisa untukku. “Genggam jariku seeratnya / kubuat angin berpihak gerak searah…
  6. Dewa 19 – “Aku Disini Untukmu”
    Aku ingat perjalanan pulang kampungku di Galungan pertama tanpamu yang sekaligus menandai 6 bulan kamu berpindah ruang. Jalan Bedugul-Gitgit begitu dingin dan gelap, sialnya Spotify memutarkan lagu ini secara acak. Ya tentu nangis senangis-nangisnya. Inilah lagu gongnya; dimana ketika aku masih dalam tahap penyangkalan dan tidak terima atas perpindahanmu, kamu justru bilang, “Enggak usah dicari, enggak usah dinilai, enggak usah diraba. Aku di sini untukmu.” Itu sudah. Selesai semua urusan. Malam itu, aku patuhi kata-katamu lewat lagu ini.
  7. Eross Candra – “Brave”
    Lagu dari Eross buat El Pitu, anak semata wayangnya. Singkat, padat, jelas. “Through the storm / through the rain / in the sun / let’s have fun // Baby, oh, baby / be brave now // Baby, oh, baby / you gotta be strong now…” Sejak aku kecil, kamu selalu bilang agar aku menjadi anak yang pemberani. Kata “now” dalam lagu ini seperti kamu menegaskan keadaanku yang sekarang harus berjalan tanpa kehadiranmu secara fisik. Seperti kamu memelukku untuk kemudian melepasnya, lalu bilang “Sekarang kamu harus berani, ya?”

Hari ini adalah tepat setahun kamu pergi (secara fisik). Aku bingung menjelaskannya, sedih iya, tapi tidak sebegitunya. Senang iya, tapi ya tidak sebegitunya juga. Mungkin itu yang namanya waktu menyembuhkan ya, Pa. Meskipun aku percaya bahwa duka ini tidak akan ada ujungnya, ternyata hidup akan terus berjalan ada atau tanpa kamu secara fisik. Walaupun begitu, aku akan terus percaya–bahkan kalau bisa, dengan memaksa–bahwa kamu akan selalu hadir di sini. Untuk memelukku dan memberikan petunjuk. Untuk mengasihiku. Untuk melindungiku, selalu.

Terima kasih, Papa. Rani kangen sekali. Jaga Rani dari sana, ya. Rani sayang sekali sama Papa.

.

.

Ditulis di meja kerjamu yang sekarang jadi meja kerjaku,

Denpasar, 10 Mei 2022

Belajar Berenang

Kupikir hidupku akan berakhir di umur delapan. Syukurnya tidak kejadian.

Adalah suatu sore di Pantai Matahari Terbit, Sanur. Papa menggendong tubuhku yang mulai jangkung. Kami sama-sama bertelanjang dada. Aku lingkarkan tanganku ke lehernya sambil terus merajuk, “Pa, jangan terlalu ke tengah.” Papa menjawab santai, enggak, enggak ke tengah, kok.

Ombak bergulung kencang. Aku sadar imaji Mama yang sedang duduk di pasir hitam makin tak terjangkau pandangku. Air sudah meninggi, sudah melewati bahu Papa yang sepertinya sudah mulai menjinjit. Setelahnya, sebagian memoriku kabur. Lama sekali rasanya, aku merasa tubuhku tak lagi dalam kuasaku. Satu yang teringat jelas adalah, aku melihat langit menjauh dari bawah laut.

Entah berapa lama aku tenggelam, tapi Papa berhasil menemukanku. Aku menjerit kencang sekali, sambil ia menggendongku menuju Mama. Kulihat panik di wajahnya. Papa berusaha menenangkanku yang terus menangis.

Ilang be panaké jani… Aduh lacur, mati panaké… Seken buduh raga,” ujar Papa tiap kali ingatan buruk itu memanggilnya, mengutarakan ulang apa isi kepalanya saat aku menghilang sesaat di laut.

Semenjak itu, Papa selalu khawatir jika aku hendak pergi ke tempat-tempat dengan air yang dalam atau berarus. Bahkan kekhawatiran itu juga dimilikinya untuk adik laki-lakiku. Mungkin dia sadar bahwa dia pernah seceroboh itu. Mungkin ia paham bahwa ia tak bisa selalu ada untuk melindungi apalagi menyelamatkan kami.

Melarung Papa. Singaraja, 2021.

Kali ini, hidup Papa berakhir di umur enam tiga. Akan tetapi, kupikir hidupku tak boleh berakhir dua windu setelah kejadian yang membuatku memikirkan kematian untuk pertama kalinya.

September lalu, aku punya keinginan yang begitu kuat untuk belajar berenang. Suatu kegiatan yang begitu kutakuti meski sepanjang hidup aku terlampau sering mengunjungi pantai sampai bosan. Pelajaran penjaskes sudah kukhatamkan di sekolah menengah, semuanya pula kulalui dengan gaya pocong–alias hanya melompat-lompat dalam kolam–ketika pengambilan nilai berenang. Air yang dalam lebih menakutkan daripada yang tenang. Trauma ini sudah begitu lekat padaku, tetapi kali ini aku begitu ingin melepaskannya.

Lalu belajarlah aku. Kudaftarkan diri untuk ikut kursus berenang. Aku belajar bernafas, mengapung, mendorong; aku benar-benar belajar berenang. Aku betul-betul punya keberanian untuk menaklukkan apa yang kutakutkan.

Oktober adalah aku yang keluar-masuk kolam renang di tiap akhir pekan. November adalah aku yang berenang di pantai untuk pertama kalinya. Dan Desember, tepatnya pagi ini, adalah aku yang snorkeling di Amed, bersama kawan-kawan yang padanya kutemukan rumah semenjak pulang dari Jogja: BaleBengong.

Bukan terumbu karang dan bintang-bintang laut berwarna biru yang menakjubkanku. Bukan asin dan perihnya air laut di kerongkongan yang membikin aku tertegun. Ada sesuatu yang tak bisa kuungkapkan dengan presisi; rasa bungah sekaligus tenang, dan nyaman.

Aku terapung membiarkan diriku disapu arus, dimainkan gelombang. Sambil menengadah, aku berbisik kecil,

“Makasih, Pa. Sekarang jangan takut lagi, Rani udah enggak takut. Papa juga di sini, kan?”

Langit begitu biru. Laut begitu hangat. Kini memelukmu terasa begitu berbeda. Begitu luar biasa.

Amed, 2021. Difoto oleh Iin Valentine.

Denpasar, 27 Desember 2021.

Pertanyaan untuk Papa

Hari ini harusnya usiamu bertambah, Pa. Tapi apa guna menghitung usiamu lagi? Rani benci sekali harus tiba-tiba menangis karena lihat kalender beberapa menit lalu. Rani enggak suka sesak terus menerus karena menangis, Pa. Papa juga enggak suka orang cengeng, kan.

Tapi sekali, Pa, sekali saja, biar Rani menangis. Atau mungkin dua kali, tiga kali, atau ratusan, ribuan kali lagi. Rani benci Papa tidak lagi di sini. Biar Rani menangis. Rani enggak kuat. Kemana harus mencari Papa?

Pa, ada banyak sekali cerita selepas Papa pergi. Kayaknya hidup Rani sekarang begitu dinamis dan jauh lebih asyik kalau dilihat dari mata Papa. Pasti Papa suka cerita dari Rani. Tapi kemana Rani harus cerita, Pa? Apa Papa bisa mendengar? Apa Papa bisa menimpali? Rani enggak mau cerita sendirian, Pa.

Seketika lagu “Ayah” dari The Mercy’s yang sering Papa nyanyikan dulu jadi begitu relevan. Aku benci menangis sesak di jam 2 malam memanggili Papa. Papa, apa Papa dengar Rani memanggil?

Pa, Rani begitu putus asa, kemana harus mencari Papa? Rani enggak bisa jawab, apa Papa punya jawabannya?

Pa, Rani kangen… apa Papa punya obatnya?

.

.

.

Sudah 30 menit bergetar dan menangis sesak tidak berhenti,

Denpasar, 2 September 2021

We

Papa pernah hampir mengataiku cewek kafe; istilah yang ia pakai untuk perempuan yang tidak mengenal waktu pulang. Kami pernah bertengkar di ruang tengah rumah, sebab lewat jam dua belas malam aku baru tiba di rumah, masih dengan seragam putih abu. Aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa segala lelah yang kulakukan, hingga kini aku sadar juga sedikit banyak mengorbankan masa-masa SMA-ku yang menyenangkan, adalah untuknya juga. Aku ingin membanggakan Papa.

Papa membiarkanku memilih jalanku. Ia mengizinkanku kuliah filsafat padahal ia tak begitu mau tahu, apakah ternyata filsafat membuatku gila atau menjauhkanku dari Tuhan dan agama. Papa tahu aku suka belajar, Papa paham aku gemar menulis. Papa mengerti apa sesuatu yang ingin kutuju.

Papa selalu menanyakan kabarku lewat Mama. Apakah aku sudah makan, apakah aku telah sampai di kos, apakah kuliahku aman, apakah ujianku bisa kulewati. Gengsi ia berbicara padaku. Tapi aku rasakan kerinduannya padaku tiap kali kami berpeluk cium di bandara, entah ketika aku pulang, entah ketika aku kembali ke Jogja.

Papa sempat tidak mau hadir di perayaan wisudaku. Waktu itu, tak banyak uang yang kami miliki sebagai keluarga. Tapi tiket dan akomodasi sudah terbeli oleh kakakku. Ia tetap ngotot, ia tidak ingin merepotkan siapapun. Sampai akhirnya Mama memperdengarkan rekaman suara dekan pada yudisiumku di auditorium fakultas. Menyebut namaku, nomor induk mahasiswaku, masa perkuliahanku, jumlah SKS, IPK, dan predikatku. “Saya ikut berangkat,” katanya pada Mama.

Papa tidak mau aku pulang ke Bali mengendarai sepeda motor matikku. Bagaimana tidak, ia sempat hampir kehilanganku ketika tubuhku lepas dari gendongannya belasan tahun lalu di tengah Pantai Matahari Terbit. Selamanya aku takut pada air yang dalam, selamanya ia takut kecerobohannya berujung pada lesapnya aku. Papa tak mau kehilanganku.

Papa mengasihiku. Ia rawat bonsai jepun jepang hasil ujian praktikku ketika kelas 6 SD hingga ia tumbuh dengan cantik dan sehat sampai saat ini. Ia lahap habis sambal terasi matang buatanku. Ia cubit pipiku ketika aku bersiap menyeberang jalan, menuju ke salon untuk potong rambut di hari ulang tahunku ke-23.

Papa percaya pada kemampuanku. Ia tahu aku bekerja pada bidang yang ia tekuni dulu. Ia paham bahwa aku harus pergi dari kantor lamaku. Ia doakan aku selalu. “Asal kamu jujur dalam bekerja, pasti hasilnya baik,” begitu katanya. Itu nasehat terakhirnya untukku.

Aku tak pernah memahami bagaimana rasanya menjadi Papa. Yang di tengah segala keterbatasan hidupnya, rela mengusahakan apapun untukku. Waktu aku kecil, aku pernah melihatnya makan hanya dengan nasi, garam, dan cabai. Sedangkan aku masih makan dengan lauk yang nikmat dan lengkap. Ia tak bolehkanku bekerja ketika kuliah, padahal diam-diam aku melakukannya. Ia berusaha menyisihkan uang pensiunnya yang tak seberapa ketika gajiku dipotong karena kantorku terkena imbas pandemi. Ini belum termasuk daftar hal yang ia lakukan ketika aku kecil. Papa usahakan segala yang terbaik untukku.

Aku yakin Papa paham bahwa aku begitu mengasihinya. Dan menonton video musik “We”, membuatku terpikir bagaimana ia menjalani hari-hari menjelang perkuliahanku, juga ketika aku sedang menekuninya dengan asyik. Di tempat yang jauh, tempat yang membuatku kenal segala rasa yang belum pernah kukecap, melakukan hal-hal yang mungkin tak pernah ia sangka.

Papa tahu aku akan menjadi seseorang, setidaknya untuk diriku sendiri. Ia percaya padaku. Dan aku percaya padanya.

Pa, Rani kangen. Maaf Rani masih sering nangisin Papa, padahal Papa enggak suka lihat orang nangis. Rani cengeng lho, Pa. Tapi Rani janji, Rani akan bikin Papa bangga. Jaga Rani dari sana ya, Pa.

Denpasar, 5 Juli 2021

Hitunglah

Hal apa yang kamu syukuri hari ini?

Aku mulai dariku, ya.

Aku bangun dalam keadaan baik, kemarin baru saja merayakan otonan setelah sekian lama tidak merasakannya di rumah Denpasar bersama Mama. Kemarin aku gajian, jadi hari ini aku tahu rekeningku sudah kembali terisi uang yang kudapatkan dari kerja kerasku sebulan ke belakang.

Aku mandi dengan sabun zwitsal madu. Menyiapkan bekal hasil masakan mama: nasi, tumis kangkung, tempe manis, dan telur dadar. Berangkat ke gedung di daerah Lumintang karena bekerja di ruang co-working space-nya, aku enggak perlu menempuh perjalanan yang sejauh biasanya. Oh ya, aku lewat SD dan TK-ku juga.

Pekerjaan hari ini lancar jaya dan penuh tawa, walaupun internet agak lelet. Mendengar cerita rekan-rekan kerja ketika makan siang ditambah minum es teh (ini merk lho, ya) yang dibawa sembunyi-sembunyi ke ruangan. Ke ACE Hardware sepulang kerja, malah ketemu mug yang selama ini kucari tapi enggak disangka justru ada di sana. Berkeliling di sana sampai bahu pegal dan berkhayal jadi kaya untuk membeli semuanya, hahaha. Lantas bertemu kawan SMA ketika mengantri di ATM, senang mengetahui dia baik-baik saja.

Mandi dan keramas, lalu makan malam sama Mama sambil bercerita. Mulai menegaskan pemisahan sampah di rumah karena selama ini kurang disiplin. Menceramahi adik karena dia nakal sekali. Iseng menyalakan walkman-ku yang terakhir kali kupakai ketika SD. Walkman yang kuminta dari kakak sepupuku karena aku ingin mendengar kaset Spirit milik J-Rocks di perjalanan wisata ke Bedugul bersama teman-teman seangkatan.

Saling bersapa dengan sahabat karib di grup WhatsApp. Tertawa karena sahabat sepenanggungan sejak kemarin sore jadi rajin tertawa. Berbalas pesan pribadi dengan mbakku yang sama-sama kehilangan, saling menguatkan. Berseru karena ternyata walkman-ku masih berfungsi.

07 Des karya Sheila on 7, rilis tahun 2002. Album yang bisa kuibaratkan sebagai sesosok laki-laki yang selalu ingin dituruti. Album yang entah kenapa tetap kugandrungi dengan cukup dan sederhana; kesukaanku dari semua rilisan SO7. Mungkin karena ia mampu memperlihatkan sisi cengeng–manusiawi–seorang laki-laki, ya.

Akhir side A, “Mari Bercinta”. Lagu favoritku dari SO7. Katanya, “Terlalu banyak cinta kan binasa…

Akhir side B, “Waktu yang Tepat untuk Berpisah”. Lagu yang suka kunyanyikan dulu, padahal cuma sok ngerti. Sekarang kebetulan sudah paham maksud lagunya. “Ku akan mengerti cinta dengan semua yang terjadi. Pastikan saja mimpimu tetap berarti…

Belajarlah bersyukur, Ran. Sebab hidup sebenarnya cuma begitu-begitu saja. Sama seperti 07 Des yang berakhir, hari ini pun begitu, juga hidupmu nanti. Tinggal bagaimana kamu mencoba untuk tidak “terlalu”, dan belajar untuk mengerti.

What a crazy world we live in. Count your blessings (and things that drive you mad) while you can.

Salah dua rilisan pop Indonesia era 2000-an favoritku. Denpasar, 2021.

.

.

Denpasar, 30 Juni 2021