Mungkin

Saat asap membumbung dan lantas ia bersenggama dengan warna-warna cahaya, air mataku luruh bersama kemungkinan-kemungkinan yang kian mustahil. Debu-debu yang beterbangan di sela dentuman suara dan tepukan tangan orang-orang kemudian menyatu dengan titik-titik air itu. Rasanya, aku tidak akan pernah lagi percaya sepenuhnya pada apapun. Kerumunan dan dingin hangatnya udara malam ini membawanya semakin jauh dariku. Aku ingin menggapainya lagi tetapi ia tak terjangkau. Mungkin, kau bisa membantuku meraihnya kembali. Pun kalau kau bersedia tanpa harus aku memaksa. Kalau tidak, ingin aku membagi kabar bahwa aku mulai kehabisan daya untuk melakukannya seorang diri.

 

Yogyakarta, 3 September 2017
Seusai menonton konser Efek Rumah Kaca di PKKH UGM

Advertisements

Tadi Sore

Dari spion kanan motornya, seorang sopir Go-jek terlihat tersenyum. Wajahnya diterpa sinar matahari yang hangat. Pak polisi membantu menyeberangkan dua lelaki tambun dari kiri ke kanan jalan. Embus hawa pendingin ruangan sebuah toko di kanan jalan mengenai jaket jinsku. Burung-burung hinggap di pucuk salib gereja. Klakson mobil bersahutan. Kasir toko oleh-oleh menarik struk. Bapak penjaga parkir ramah menggenggam koin-koin seribu rupiah. Bau sampah di belakang sebuah mal tua, menyengat. Bunyi peluit di sana-sini. Jalanan sesak. Seorang cici berbincang dengan ibu berkerudung yang berdiri di depan toko kelontongnya. Tato naga memenuhi tangan lelaki pengendara motor astrea. Wangi masakan di foodcourt Progo. Pramuniaga menawarkan produk penyerap air, anti jamur. Kipas angin berputar pelan. Lampu merah menjadi hijau. Tiga tas plastik menggantung di bagian depan skuter matikku. Aku lapar.

Aku mengingat-ingat perjalanan berkendara tadi sore di seputaran Malioboro. Di hari terakhirku di Jogja semester ini. Musik latarnya berjudul “Lega” oleh The Adams. Sambil mendengarkan, mataku sempat berkaca-kaca melihat langit yang setengah mendung, setengah cerah. Aku berusaha memastikan bahwa aku sedang menjalani hidupku dengan penuh.

 

Dalam pesawat menuju Denpasar, menuju lepas landas
22 Juni 2017, 00:16 WITA

Mual

Setelah sekian lama, aku bermimpi lagi dalam tidur siangku. Ada kau yang bukan kau di sana. Kau merokok dengan agul, menegaskan bahwa aku memang tak pernah dan tak akan bisa turut campur dalam pilihan hidupmu. Kau mengabaikanku dan memilih sesosok yang kini sudah tak kuingat lagi rupa dan namanya. Aku kacau. Mual menjejak dalam perutku. Tak pernah kubayangkan perasaan ini akan melandaku lagi seperti setelah mimpi kematian kedua orang tuaku dulu. Sungguh aku ingin memuntahkan segala isi diriku. Sadar tak sadar aku menghubungimu dengan empat kata sebab hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Dan, dengan naifnya aku ingin kau membalas hal yang sama–salahkah aku? Kemudian baru kusadari bahwa aku begitu takut kehilanganmu. Jikalau kau tidak berkenan, mohon terima maafku.

Bayanganmu

Petang tadi aku berjalan menapaki bayanganmu. Empat belas meter lagi bayanganmu itu akan kawin dengan tubuhmu sendiri di bawah lampu jalan yang membikin silap mata. Dengan seisi diriku aku ingin menginjak bayangan milik kepalamu yang penuh rambat-rambat tumbuhan yang terus hidup sebab akar-akarnya senantiasa dibasahi air tanah yang sejuk. Sempat beberapa kali kukatakan bahwa aku suka bentuk bibirmu. Tapi perlu kau tahu bahwa aku juga begitu terpikat pada isi kepalamu.

Yogyakarta, 23 Maret 2017