Bayanganmu

Petang tadi aku berjalan menapaki bayanganmu. Empat belas meter lagi bayanganmu itu akan kawin dengan tubuhmu sendiri di bawah lampu jalan yang membikin silap mata. Dengan seisi diriku aku ingin menginjak bayangan milik kepalamu yang penuh rambat-rambat tumbuhan yang terus hidup sebab akar-akarnya senantiasa dibasahi air tanah yang sejuk. Sempat beberapa kali kukatakan bahwa aku suka bentuk bibirmu. Tapi perlu kau tahu bahwa aku juga begitu terpikat pada isi kepalamu.

Yogyakarta, 23 Maret 2017

Tentang

Belakangan ini, kepalaku dipenuhi oleh beragam hal. Tentang tanggung jawab-tanggung jawab yang tak usai-usai. Tentang diri dan otakku di ruang kelas. Tentang tugas dan kerja kelompok. Tentang tulisan-tulisan dan deadline. Tentang uang saku dan cara sintas hingga awal bulan. Tentang diameter lengan dan gelambirnya. Tentang pemahaman terhadap kacaunya dunia. Tentang buku-buku yang belum terjamah pun terbeli. Tentang rencana masa depan. Tentang ketakutan esok hari. Tentang diskusi dan menjadi pandai. Tentang liburan ke Jepara. Tentang mata dan kantungnya. Tentang sedih yang kadang datang tanpa permisi. Tentang tidur dan pegal di paha kanan. Tentang pemikiran orang lain terhadapku. Tentang ketidakbecusanku memahami diri sendiri. Tentang kawan-kawan karib. Tentang keluarga dan anjing-anjing peliharaan. Tentang partner hidup sekaligus teman pinjam sweatshirt. Tentang kepercayaan diri. Tentang janji pada diri sendiri. Tentang hal yang salah dalam kepalaku. Tentang tentang lainnya.

Setidaknya, semesta masih memberi banyak tentang padaku. Kepadanya, aku berterimakasih. Dengan begini, aku hidup. Bukankah itu yang mestinya kulakukan?
Sekarang, mari tidur.

Pulang

Embus angin yang menyusup di lingkar-lingkar daun telingaku berpucuk suara beratmu. Katanya pulanglah. Peduli apa. Aku telah lupa akan nama hari semenjak aku tak percaya lagi pada ruhku. Kuning binar lampu-lampu jalan menggenang di air bekas tetesan awan pukul setengah sembilan. Dingin. Aku menggigil. Kemana kan kubawa jasadku ini aku tak tahu. Akan kuapakan juga entah. Katanya Tuhan maha baik. Ia punya rumah yang indah. Aku mau bertamasya ke sana. Untuk sekadar memetik dan mengunyah dua tiga butir buah anggur yang manis sekali. Kalau suka, mungkin aku akan tinggal barang dua tiga malam. Lewat sini jalannya. Bias cahaya putih menyirami pelupuk mata. Aku kan pulang. Aku kan pulang..

Yogyakarta, 15 November 2016

Asa

Bila sudah tiba waktunya, mari melipat asa kita. Kemudian simpan baik-baik dalam saku celana. Kita ‘kan bawa mereka ke ufuk Barat dimana dapat kita lihat daun-daun berguguran di bulan September. Siapa tahu, setelah lelah belajar bersama di tiap harinya, kau bisa mendekapku erat di saban malamnya setelah menyesap sedikit alkohol di pub yang biasa kita lewati saat perjalanan pulang.
Bila sudah tiba waktunya, tibalah. Untuk saat ini, mari kita isi asa itu inci demi inci. Lumayan besar harapku untuk menyatakannya, memang. Namun bila tidak terjadi juga tak mengapa. Sekiranya kita bisa sintas dengan melipat asa yang lain.