Pulang

Embus angin yang menyusup di lingkar-lingkar daun telingaku berpucuk suara beratmu. Katanya pulanglah. Peduli apa. Aku telah lupa akan nama hari semenjak aku tak percaya lagi pada ruhku. Kuning binar lampu-lampu jalan menggenang di air bekas tetesan awan pukul setengah sembilan. Dingin. Aku menggigil. Kemana kan kubawa jasadku ini aku tak tahu. Akan kuapakan juga entah. Katanya Tuhan maha baik. Ia punya rumah yang indah. Aku mau bertamasya ke sana. Untuk sekadar memetik dan mengunyah dua tiga butir buah anggur yang manis sekali. Kalau suka, mungkin aku akan tinggal barang dua tiga malam. Lewat sini jalannya. Bias cahaya putih menyirami pelupuk mata. Aku kan pulang. Aku kan pulang..

Yogyakarta, 15 November 2016

Asa

Bila sudah tiba waktunya, mari melipat asa kita. Kemudian simpan baik-baik dalam saku celana. Kita ‘kan bawa mereka ke ufuk Barat dimana dapat kita lihat daun-daun berguguran di bulan September. Siapa tahu, setelah lelah belajar bersama di tiap harinya, kau bisa mendekapku erat di saban malamnya setelah menyesap sedikit alkohol di pub yang biasa kita lewati saat perjalanan pulang.
Bila sudah tiba waktunya, tibalah. Untuk saat ini, mari kita isi asa itu inci demi inci. Lumayan besar harapku untuk menyatakannya, memang. Namun bila tidak terjadi juga tak mengapa. Sekiranya kita bisa sintas dengan melipat asa yang lain.

Kau dan Dunia yang Kau Hidupi

Barangkali di lain waktu tak usahlah kau ajak aku ke sana. Hanya akan menyebarkan serat-serat rapuh pada diriku. Kata Ibu, merutuk itu tidak baik. Tapi aku selalu melakukannya saat aku keropos. Aku benci diriku yang tak pernah bisa paham dengan kau dan dunia yang kau hidupi.
Tapi kalau kau memintaku untuk menemanimu, baiklah, dengan sedikit rasa terpaksa akan kuladeni permintaanmu. Walaupun nanti di pertengahan pertemuan kita dengan kaummu, akan muncul jengkal demi hasta jarak di antara kita.
Aku tak mengerti apa yang kalian perdebatkan. Kulihat salah seorang dari kalian sampai menepuk kening berkali-kali. Dari mulutnya yang sesekali meniupkan asap tembakau kudengar pula pisuhan a la Jawa Timuran yang kental. Mungkin bukan pisuhan. Entahlah. Tapi bagiku dia sedang berkata kasar dengan penuh kebencian.
Raut wajah kalian, ah. Serius sekali. Satu dari kalian mengambil sebuah buku di rak coklat yang berjejer rapi di belakang kursi rotan itu. Kriat kriet, begitu bunyinya bila ada pergeseran pantat di atasnya. Aku tak melihat jelas buku apa yang diambil lelaki yang rambutnya acak-acakan itu. Kertasnya sudah menguning, bagian sampulnya menggurat-gurat keras dan beberapa ujungnya terkelupas. Pertanda si buku sudah sangat sering diperkosa oleh sang empunya dengan penuh nafsu. Setelah duduk, ia membuka-buka halamannya dengan tergesa, mencari apa yang ia cari. Sementara sisa kepala yang kalian miliki mendekati buku itu, mencoba menelisik. Si lelaki berambut panjang yang jarang menyisir rambutnya itu, sekarang menjelaskan dengan buku di tangannya. Aku melihat anggukan dari kalian. Ah, apakah itu? Sebuah persetujuan? Sebuah penyelesaian?
Kini terdengar gelak tawa. Kalian begitu menikmati percakapan ini. Gelas-gelas kopi hitam yang sedari tadi kalian tenggak perlahan kini hanya berisi ampas di dasar dan tepi-tepiannya. Salah seorang dari kalian, yang bertubuh agak gempal itu, masih mengais sisa-sisa cairan kafein dari gelas yang berlogo Pertamina desain lama. Mungkin sang penyedia gelas adalah pengepul gelas gratisan. Kulihat ada logo Anlene, Sirup ABC, dan 2Tang di permukaan gelas-gelas itu. Sisanya, tak jelas. Bisa jadi Rinso.
Kau terlihat berbahagia dengan kaummu. Sangkaku, kau akhirnya lega bisa menumpahkan isi pikiranmu yang luas pada mereka sebab kau selalu sulit melakukannya padaku. Sesekali kau melihat ke arahku yang duduk jauh di seberang meja. Dilihat dari gerak tangan kananmu, kau mencoba untuk mengundangku ke meja yang sesak akan obrolan itu. Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Aku di sini saja, tolakku. Aku tak mau berada di sana. Sebab aku tak bisa. Aku tak paham kau dan dunia yang kau hidupi.
Barangkali di lain waktu akan aku cari duniaku sendiri. Sebuah dunia yang bisa tahan dengan isi kepalaku yang tak seberapa. Tapi tak yakin aku bisa menemukannya.

Burung untuk Kepalamu

Jika kau izinkan, bolehkah aku memelihara burung di atas kepalamu?
Atau bolehkah aku menjadi burung di atas kepalamu?
Agar bisa kukentuti, kutitipkan kotoranku pada sela-sela helai rambutmu
Agar bau, bau kepalamu itu
Agar jadi pupuk, jadi pupuklah tahi itu untuk pikiranmu
Agar tumbuh bunga, tumbuh bunga yang harum semerbak penuhi kepalamu
Agar lebah, lebah dan kupu-kupu gantikan lalat-lalat yang berterbangan di atasmu
Agar indah, agar indah kepalamu
Agar indah kepalamu
Agar indah dirimu

 

 

Yogyakarta, 2 September 2016

Untuk Pengelanaku

Kala kutulis pelan kata demi kata ini
Tengah kuhirup sisa-sisa aroma tubuhmu yang melekat di sisi kanan ranjang kita
Kemanakah kau?
Malam terlanjur tiba
Pagi sebentar lagi rebah
Telah kau janjikan padaku pelukan
Kini kau pergi tanpa pesan

Ingatkah kau sayang, lubang di lipatan kelima tirai jendela kamar kita
Biasa kita intip lalu lalang orang melintas ketika kita berpeluh dalam cinta
Jujur saja, kini aku benci mesti melihat bayangan orang-orang ini sendirian
Kemanakah kau, sayang?
Sudah kuaduk segelas kopi pekat buatmu
Telah kusiapkan pula air hangat untukmu membasuh tubuh

Ah, apa yang kau cari, sayang?
Apa yang kau dapatkan di luar sana?
Seperjalanan membelah angin malam
Setangkai kemuning di belukar semak rumah tua di blok empat
Apakah
Sepercakapan dengan kumpulan paruh baya pemain kartu di pos jaga
Sejawil dagu perempuan bergincu merah jambu di tepian pasar bunga
Ataukah
Seteguk anggur murahan dalam kilau botol-botol kaca
Selembar dua lembar lebih lagi lembar Soekarno Hatta

Sayangku,
Susurilah kembali jejak tapak kakimu
Siapa tahu dapat kau temukan aku di sana
Mari, mari
Kan kutuntun kau, sayangku
Ke pulangmu
Ke rumahmu

Aku rindu padamu
Tidakkah kau begitu?

 

 

Yogyakarta, 19 Agustus 2016