Turun Mesin

Di tengah gontok-gontokan perkara hati, pekerjaan yang melelahkan, pohon mengkudu yang roboh, hentakan Beyond Coma and Despair, kebanggaan terhadap konsistensi kawan sejawat, keinginan akan nasi jinggo wisata, melintas jalan tol untuk pertama kalinya dengan kartu tol baru, dan segala rumit yang berkecamuk di kepala;

Hari ini begitu tidak terduga, tapi aku belajar banyak. Mungkin kita memang butuh spontanitas dan berpikir sederhana dalam melayani hidup yang suka jahil. Sebab justru itu yang kerap kali mampu menyelamatkan kita.

“Yang penting niat baik, pasti dimudahkan,” ujar kalian padaku. Terima kasih, ya. Malam ini, utamanya, begitu ajaib.

Benoa, 2020.
Menuju bengkel ke arah Sesetan, 2020.

.

.

.

Capek tapi senang, Denpasar, 9 Desember 2020

Akhirnya, Donat Vanessa

“Kejar enggak, nih?”

“Aku udah ngelewatin bubur ketan hitam tadi, aku enggak mau ngelewatin ini lagi.”

Aku dan Pandu telah lama berwacana mencari donat coklat Vanessa langsung ke pabriknya, saking putus asanya kami untuk dapat menikmatinya lagi. Sebab donat itu tidak pernah kami temukan dimanapun semenjak pak penjual roti keliling tidak lagi nampak di seputaran perumahan kami. Dan kami akhirnya berhasil mendapatkannya secara kebetulan sore ini, di perjalanan pulang. Tentunya setelah pengejaran si penjual roti melalui jalanan sempit yang berliku, ramai, dan penuh polisi tidur. Sungguh (((sinematik))).

Keceriaan kami kemudian lesap begitu saja mendapati kabar bahwa bapak penjual roti yang sejak masa kanak kami berkeliling perumahan tiap sore, ternyata telah meninggal dunia. Dua tahun lalu. Entah apa sakitnya. Pergi begitu saja.

Aku teringat kata Mama, bapak penjual yang gondrong dan kribo itu, yang murah senyum dan ramah, yang hafal roti-roti yang disukai keluargaku, ternyata belum lagi berkeluarga.

Bagaimana rasanya mati dalam kesendirian? Aku tak bisa membayangkannya.

Sudah dua puluh tahun lebih pak penjual roti Vanessa berkeliling perumahan kami, mengenali para pelanggannya, memencet bel sepeda oranyenya yang berbunyi “tet teeeet”, tidak pernah menampakkan raut wajah lelah dan jutek. Dulu Rani kecil selalu berpikir, apakah tidak bosan berjualan roti terus menerus? Apa tidak capek?

Lambat laun, seiring bertambahnya usia, aku semakin paham bahwa tak semua orang memiliki pilihan yang sama dengan orang lain. Lebih-lebih lagi, banyak pula yang bahkan tak memiliki pilihan sama sekali. Mungkin, tidak ada pilihan selain menghabiskan sebagian besar waktu ketika hidup dengan berkeliling menjual roti, sampai urip tak lagi urup.

Maka jangan pernah sekalipun bertanya padaku mengapa aku begitu membenci ucapan “kalau tidak mau miskin, maka rajinlah bekerja”. Pak penjual roti tidak malas bekerja. Para buruh pabrik tidak malas bekerja. Para penyapu jalanan tidak malas bekerja. Lalu apa? Meh. Yang malas dan bangsat justrulah para oligark; yang menciptakan dan memupuk subur sistem yang memiskinkan ini.

Donat coklat ini merupakan favoritku dan Pandu, sejak aku TK dan dia masih SD. Ia masih menjadi favorit kami dan mungkin akan terus begitu. Sama seperti Si Bapak penjual roti yang selalu punya tempat khusus di hati kami, yang tak jarang terselip dalam obrolan-obrolan kami.

Kami berharap ia telah berbahagia dan memaknai sendiri kebahagiaan itu ketika hidup; laiknya Sisifus yang hidup dalam pengulangan terus menerus. Kami berharap ia juga berbahagia “di sana”. Sebab ia telah membawa kebahagiaan berupa roti-roti yang empuk dan lezat itu ke keluarga kami. Sebab ia membuat kami belajar banyak. Sebab ia pantas mendapatkannya.

Dan pelajaran lainnya lagi, Rani, di hari ini: jika senang jangan terlalu, jika sedih jangan terlalu.

Denpasar, 15 Oktober 2020