Burung untuk Kepalamu

Jika kau izinkan, bolehkah aku memelihara burung di atas kepalamu?
Atau bolehkah aku menjadi burung di atas kepalamu?
Agar bisa kukentuti, kutitipkan kotoranku pada sela-sela helai rambutmu
Agar bau, bau kepalamu itu
Agar jadi pupuk, jadi pupuklah tahi itu untuk pikiranmu
Agar tumbuh bunga, tumbuh bunga yang harum semerbak penuhi kepalamu
Agar lebah, lebah dan kupu-kupu gantikan lalat-lalat yang berterbangan di atasmu
Agar indah, agar indah kepalamu
Agar indah kepalamu
Agar indah dirimu

 

 

Yogyakarta, 2 September 2016

Untuk Pengelanaku

Kala kutulis pelan kata demi kata ini
Tengah kuhirup sisa-sisa aroma tubuhmu yang melekat di sisi kanan ranjang kita
Kemanakah kau?
Malam terlanjur tiba
Pagi sebentar lagi rebah
Telah kau janjikan padaku pelukan
Kini kau pergi tanpa pesan

Ingatkah kau sayang, lubang di lipatan kelima tirai jendela kamar kita
Biasa kita intip lalu lalang orang melintas ketika kita berpeluh dalam cinta
Jujur saja, kini aku benci mesti melihat bayangan orang-orang ini sendirian
Kemanakah kau, sayang?
Sudah kuaduk segelas kopi pekat buatmu
Telah kusiapkan pula air hangat untukmu membasuh tubuh

Ah, apa yang kau cari, sayang?
Apa yang kau dapatkan di luar sana?
Seperjalanan membelah angin malam
Setangkai kemuning di belukar semak rumah tua di blok empat
Apakah
Sepercakapan dengan kumpulan paruh baya pemain kartu di pos jaga
Sejawil dagu perempuan bergincu merah jambu di tepian pasar bunga
Ataukah
Seteguk anggur murahan dalam kilau botol-botol kaca
Selembar dua lembar lebih lagi lembar Soekarno Hatta

Sayangku,
Susurilah kembali jejak tapak kakimu
Siapa tahu dapat kau temukan aku di sana
Mari, mari
Kan kutuntun kau, sayangku
Ke pulangmu
Ke rumahmu

Aku rindu padamu
Tidakkah kau begitu?

 

 

Yogyakarta, 19 Agustus 2016

Kepalamu

Di hitam rimbun helai-helai rambutmu kuhirup aroma segar;
Seperti wangi kebebasan
Adakah mereka tirai penyibak liar pikiranmu
Lipat-lipatan otak di balik keras batok kepalamu

Kumelihat puluh ratus bahkan ribuan burung-burung hantu perak
Ada di sana
Berkedip mata mereka
Perjalanan jauh terlanjur segera

Terbang berterbangan ke arah cembung bulan di barat daya
Berkepakan sayap-sayapnya
Mencari makan mereka di hutan seberang
Semerbak pinus terhidu lubang-lubang nafasnya

Terbang jauh mereka; ke ketidakpastian arah dalam kepalamu

Bebas
Pikiranmu bebas
Segar tak ada batas

unies

Dalam segala resah di kepala
Yogyakarta, 8 Agustus 2016

Berlari

Melihatmu meniti langkah satu demi satu membuatku bahagia bukan kepalang. Tentu saja, kau tak langsung berjalan begitu saja, bahkan berlari seperti saat ini. Kau memulainya dari awal. Sedari kau menyangga tubuhmu, tengkurap tanpa menangis. Apa guna menangis di saat itu? Tidak ada. Karena menangis adalah hal yang seringkali kau lakukan saat mulai berjalan pelan-pelan dan kemudian terjatuh. Bagaimana rasanya? Sakit, bukan? Setelah terbiasa merangkak dengan empat titik tumpuan, kini kau mesti menguranginya sebanyak dua. Tapi aku percaya padamu. Tangismu yang pecah membuat keinginanmu juga tumpah ruah; untuk berjalan dengan baik dan berlari kencang.
Kini, kau bisa berlari.
Apa yang kau suka dari berlari? Apa yang kau dapatkan saat kau melakukannya? Kau dapat mengejar bola sepak yang dilambungkan jauh oleh temanmu. Atau, kau bisa bergerak paling cepat untuk mengakui layang-layang yang tersangkut di dahan pohon jambu itu adalah benar milikmu seorang. Anjing yang menyalak dan mengejarmu bisa kau hindari karena kau berlari, bukan? Apa lagi? Oh, kau juga berlari kecil agar tetap bugar. Aku berani bertaruh, bahwa sesungguhnya kau juga mampu menyelesaikan full marathon dengan baik bila kau mau. Karena kau bisa berlari. Untuk apa saja. Dari apa saja. Dengan sangat baik.
Kini, kau bisa berlari.
Menyenangkan, bukan? Bisa bergerak cepat membelah udara dengan kedua kakimu sendiri. Kini kau tak perlu siapapun untuk membantu memegangimu agar kau tak terjatuh. Kau tak perlu apapun. Kau bisa berlari sendiri. Mungkin bila ujung dunia memang benar nyata adanya, kurasa kau juga mampu mencapainya. Tinggal gerakkan saja kakimu ke depan secara bergantian. Ayunkan tanganmu juga, berlawanan dengan jenis kakimu. Jangan lupa atur nafasmu. Ulangi satu tarikan panjang dan tiga embusan pendek-pendek terus menerus. Itu membuat nafasmu tahan lebih lama dan menjadikanmu tak cepat lelah. Apa? Kau sudah tahu? Baiklah, maaf bila aku hanya mengulangi hal yang sudah kau pahami di luar kepala. Aku hanya berniat membantumu saja.
Kini, kau bisa berlari.
Kau hebat. Berlarilah yang kencang dan jauh. Maaf jika aku tak bisa mengejarmu. Kaki-kakiku tak sekuat punyamu. Nafasku juga pendek-pendek, tak seperti milikmu.
Aku tak memintamu untuk berbalik arah dan kembali kepadaku. Tapi maukah kau mengingatku sebagai sosok yang menemanimu untuk belajar berlari hingga kau mampu sekuat dan setangkas saat ini? Tak apa bila kau tak mau. Aku tak akan memaksamu.
Aku tahu, bukan aku yang mengajarimu berlari karena aku memang tak pandai begitu. Tapi aku menyediakan sebotol air untuk melepas dahagamu, obat merah untuk mengobati lukamu saat terjatuh, dan handuk untuk menyeka peluh yang membasahi tubuhmu. Jika kau berkenan, aku dengan senang hati akan melakukan semua itu lagi untukmu.
Aku memang tak pandai berlari. Tapi kalau begini, aku juga ingin sepandai dirimu. Mungkinkah aku perlu berlatih lebih keras? Tak perlu untuk sampai mendahuluimu di garis finish, untuk bisa menyusul dan berlari di sampingmu saja sudah cukup buatku.
Baiklah. Kini aku yang harus memulai dari awal. Sudah kubulatkan tekadku untuk ini.
Jadi sekarang permintaanku bertambah satu: maukah kau menemaniku belajar berlari? Sekali lagi, tak apa bila kau tak mau. Aku tak akan memaksamu. Yang terpenting, kau mesti tetap berlari, meniti langkahmu. Itu membahagiakanku.

Tak Mampu

Kau bertanya padaku, apa yang ingin kulakukan? Kujawab entah, aku tak tahu apa yang ingin kulakukan. Mengapa begitu, tanyamu kembali. Sebab aku tak tahu apa yang mampu kulakukan, jawabku. Kemudian kau diam saja. Karena kau tahu jika kau bertanya lebih jauh, tidak ada yang bisa, bahkan dirimu sekalipun, untuk menahanku menjawab bahwa memang tak ada hal yang mampu kulakukan dengan baik. Dan ya, kau memang benar. Memang itulah jawabanku. Ah, memang apa yang mampu seorang aku lakukan? Jangankan berbicara lantang, menulis, dan berdebat seperti kawan-kawanku yang lain. Untuk menuliskan, atau setidaknya, menceritakan perasaan yang entah apa namanya ini pun aku tak mampu. Jadi akhirnya aku memutuskan untuk berbicara denganmu, diriku sendiri. Percakapan di atas itu adalah sedikit di antaranya. Lumayan untuk membunuh waktu dan rasa sepi. Karena apalah hal lain yang mampu seorang aku lakukan.